Oleh: Jalal

Ngeri!  Begitu yang saya rasakan di pagi hari tanggal 3 September lalu, ketika membaca laporan terbaru UNEP, Limiting Overshoot: Navigating Exceedance of 1.5°C and Pathways Towards Return, di layar komputer. Laporan itu, yang dirilis UNEP di Nairobi beberapa jam sebelumnya, mengatakan sesuatu yang selama bertahun-tahun coba dihindari dunia diplomasi iklim: bahwa dunia hampir pasti akan melampaui ambang 1,5 derajat Celsius yang menjadi jantung Persetujuan Paris (Paris Agreement), kemungkinan dalam beberapa tahun ke depan. Skenario paling optimistis pun kini memerkirakan suhu memuncak di 1,8 derajat Celcius; skenario-skenario lain menunjuk ke atas 2 derajat Celcius. Ini bukanlah berita baru bagi siapa pun yang mengikuti sains iklim dengan saksama, tetapi ada sesuatu yang berbeda ketika sebuah badan PBB akhirnya menulisnya hitam di atas putih, dengan judul yang menggunakan pada kata overshoot dan exceedance, alih-alih terus berpegang pada fiksi bahwa 1,5 derajat masih bisa dijaga.

Substansi Utama Laporan

Laporan ini menjadi sangat penting bukan lantaran pengakuan ‘kekalahan’ itu sendiri, melainkan karena sikap yang kemudian dipilihnya. UNEP menyebut jalur yang tersisa sebagai “overshoot, peak, and decline” atau melampaui, memuncak, lalu menurun. Mirey Atallah, Kepala Divisi Adaptasi dan Resiliensi UNEP yang mengoordinasi laporan ini, memakai metafora yang saya rasa bakal bertahan lama dalam wacana iklim: sistem iklim itu seperti boiler raksasa. Memotong emisi hanya mengecilkan api; mencapai net-zero hanya menghentikan tambahan panas. Panas yang sudah terkumpul tidak lantas menghilang. Lautan, lapisan es, ekosistem butuh puluhan tahun, bahkan lebih lama, untuk merespons. Karena itu, menurut laporan UNEP, dunia tidak akan pernah kembali ke kondisi normal yang kita ketahui, apa pun yang kita lakukan sekarang. Yang masih bisa kita tentukan hanyalah seberapa tinggi puncak kenaikan suhu bumi, seberapa lama ia bertahan di sana, dan seberapa cepat ia bisa turun kembali. Setiap sepersepuluh derajat kenaikan suhu yang bisa kita hindari, akan mengurangi risiko. Setiap tahun yang dipangkas dari durasi pelampauan suhu, akan mengurangi paparan bahayanya.

Di luar metafora boiler itu, laporan setebal hampir 140 halaman ini sebenarnya berpijak pada lima gagasan yang saling terkait. Pertama, overshoot adalah sebuah jalur, bukan satu titik waktu, melainkan sebuah kurva empat tahap: pelampauan, puncak, penurunan, lalu stabilisasi, dan bentuk kurva itu sepenuhnya ditentukan oleh keputusan yang diambil manusia hari ini, bukan sesuatu yang sudah pasti. Kedua, melampaui 1,5 derajat tidak boleh berarti meninggalkan target itu; 1,5 derajat, tulis laporan ini, bahkan sejak awal tidak pernah benar-benar ‘aman’, dan setiap fraksi derajat tambahan di atasnya mendekatkan dunia pada titik-titik kritis yang sulit dibalik, dari pencairan lapisan es hingga matinya hutan Amazon, sembari produksi pangan global diperkirakan bisa turun hingga empat belas persen pada 2050. Ketiga, mitigasi dan adaptasi tidak bisa lagi diperlakukan sebagai dua hal terpisah; keduanya harus dipercepat bersamaan, karena adaptasi hari ini menentukan ruang gerak mitigasi esok, dan mitigasi yang lemah akan memersempit, bahkan suatu saat meniadakan, kemungkinan beradaptasi.

Dua gagasan terakhir terasa paling relevan untuk saya sebagai orang yang bertahun-tahun bergelut dengan isu industri ekstraktif dan iklim di Indonesia. Keempat, penyerapan karbon (carbon dioxide removal, CDR) memang mutlak diperlukan pada jalur mana pun—termasuk jalur dengan pelampauan paling minim sekalipun—tetapi ia bukan peluru ajaib. CDR konvensional berbasis ekosistem, seperti reforestasi, paling mungkin dilakukan sekarang namun bergantung pada ketersediaan lahan dan rentan terbakar kembali oleh kekeringan dan kebakaran.  Ini adalah sebuah ironi yang, bagi siapa pun yang mengikuti berita Kalimantan bulan-bulan belakangan, benar-benar membuat tidak nyaman. CDR berteknologi tinggi seperti penangkapan udara langsung, sementara itu, masih jauh dari matang dan bisa berbiaya sangat tinggi, hingga mencapai 600 dolar AS per ton karbon. Kelima, dan mungkin yang paling menghantui: turunnya suhu kelak tidak akan membawa dunia kembali ‘normal’. Laut, lapisan es, dan ekosistem bergerak dengan kecepatan mereka sendiri, jauh lebih lambat dari kecepatan kita memutar kembali termostat—yang berarti bahwa perpindahan penduduk, hilangnya wilayah layak huni, dan pertanyaan keadilan tentang siapa menanggung apa, adalah keniscayaan yang harus mulai dirancang penanganannya dari sekarang, bukan ditunda ke generasi berikutnya.

Tabel Ringkasan Substansi Laporan Limiting Overshoot

Aspek Temuan Kunci
Status pelampauan Pelampauan 1,5°C dinilai nyaris tak terhindarkan; skenario terbaik memuncak di 1,8°C, skenario lain di atas 2°C
Struktur jalur Empat tahap: pelampauan → puncak → penurunan → stabilisasi; bentuk kurva ditentukan tindakan hari ini
Risiko utama Titik kritis (lapisan es, hutan Amazon, sirkulasi Atlantik/AMOC); produksi pangan global berpotensi turun ~14% pada 2050
Mitigasi–adaptasi Harus berjalan bersamaan, saling memperkuat; adaptasi tanpa mitigasi kuat akan mencapai batasnya
Peran CDR Diperlukan tetapi bukan solusi tunggal; CDR konvensional rentan terbakar/kering, CDR teknologi mahal (~US$600/ton) dan belum matang
Pasca-puncak Penurunan suhu tidak berarti kembali ke kondisi “normal”; laut dan es merespons dalam skala dekade hingga lebih lama
Syarat keberhasilan Kemauan politik, tata kelola inklusif, pembiayaan, dan keadilan—negara paling bertanggung jawab harus bergerak paling cepat
Pesan inti Bukan alasan untuk resignasi, melainkan urgensi—setiap fraksi derajat dan setiap tahun pelampauan yang dipersingkat tetap berarti

Membaca dalam Konteks

Saya membaca kalimat-kalimat itu sambil memikirkan Langtang Lirung, sebuah puncak di Himalaya yang mungkin tidak dikenal banyak orang Indonesia sampai akhir Agustus lalu, ketika sebagian dari gletser di sana—pada ketinggian sekitar 5.600 meter—runtuh menjadi longsoran es dan batu, menghantam lembah Lhende Khola, lalu menjelma banjir bandang yang menerjang Sungai Bhotekoshi dan Trishuli di perbatasan Nepal–Tibet. Video-video dari sana memerlihatkan dinding lumpur dan air yang melahap desa, jembatan, bahkan bangunan bertingkat, dengan kecepatan yang menurut analisis independen mencapai sekitar 193 kilometer per jam pada dua puluh kilometer pertama. Menurut laporan The New York Times, kini 1400 orang dinyatakan tewas, 4000 orang masih dinyatakan hilang, dan puluhan ribu warga membutuhkan bantuan darurat. Para ilmuwan masih memerdebatkan apakah ini tepatnya sebuah glacial lake outburst flood—banjir akibat jebolnya bendungan alami danau gletser—atau sesuatu yang lebih rumit, campuran longsoran es-batu dan aliran debris yang belum sepenuhnya dipahami mekanismenya. Yang mereka sepakati adalah perubahan iklim akan membuat peristiwa seperti ini menjadi semakin tinggi probabilitasnya, dan bisa semakin katastrofik dampaknya.

Lalu ada Godzilla yang tidak datang dari layar bioskop. Musim semi lalu, suhu permukaan laut di Pasifik tengah mulai naik lebih cepat dari kebiasaan, melampaui ambang yang biasa dipakai untuk menandai awal El Nino. Sejumlah ilmuwan iklim mulai menyebutnya berpotensi menjadi El Nino Godzilla—istilah yang lahir pada 2015–2016, ketika suhu permukaan Pasifik tengah dan timur naik dua hingga tiga derajat di atas normal dan memicu gelombang panas, kekeringan, kebakaran hutan, dan kerugian pertanian di banyak penjuru dunia sekaligus. Badan-badan resmi seperti WMO memang tidak memakai istilah sesensasional itu, dan sejumlah ilmuwan memperingatkan agar publik tidak jatuh pada disinformasi. Tetapi peringatan dari ilmuwan iklim Daniel Swain terasa lebih menohok daripada julukan mana pun: dalam sejarah modern, umat manusia belum pernah mengalami El Nino kuat di tengah kondisi global yang sudah sepanas ini—kombinasi yang bisa melahirkan dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura, Grace Fu, menyebutnya sebagai “badai sempurna” bagi Asia Tenggara: krisis geopolitik yang bertemu perubahan iklim, dan berpotensi diperkuat oleh El Nino ini hingga setidaknya awal 2027.

Dan Asia Tenggara, tentu saja, sudah lebih dulu terbakar. Sejak Januari hingga akhir Juli tahun ini saja, WALHI Kalimantan Barat mencatat lebih dari 118 ribu titik panas di seluruh Indonesia, dengan luas indikatif kebakaran hutan dan lahan mencapai lebih dari 107 ribu hektare—dan Kalimantan Barat sendiri menyumbang porsi terbesarnya. Di Palangka Raya dan Kotawaringin Timur, indeks kualitas udara sempat menembus angka yang dikategorikan “berbahaya”, dengan kadar PM2,5 di atas 350 mikrogram per meter kubik—sepuluh kali lipat lebih dari ambang yang dianggap sehat. Penerbangan dibatalkan karena jarak pandang di sejumlah bandara turun hingga di bawah lima ratus meter. Anak-anak sekolah kembali belajar daring, bukan karena pandemi, melainkan karena udara di luar rumah mereka tidak lagi aman untuk dihirup.

Membaca laporan UNEP di tengah rentetan berita seperti ini bukan sekadar kerja intelektual. Ia terasa personal, seperti membaca ramalan cuaca sambil badan sudah basah oleh hujan yang diramalkan. Sebagai orang yang tiga puluh tahun lebih hidup berkelindan dengan wacana keberlanjutan perusahaan di Indonesia, saya tahu betul bahwa laporan-laporan seperti ini gampang tenggelam dalam rutinitas pemberitaan: dirilis, dikutip sehari dua hari, lalu dilupakan sampai laporan berikutnya. Tetapi Limiting Overshoot datang pada momen yang membuatnya sulit dianggap sebagai satu lagi dokumen teknokratis. Ia datang ketika gletser di atap dunia sudah mulai runtuh menimpa manusia yang tinggal di bawahnya, ketika lautan sedang memanaskan dirinya menjadi monster bernama Godzilla, dan ketika sebagian warga Indonesia dan negara-negara tetangganya sedang menghirup asap kebakaran hutan.

Bukan Nubuat Kiamat

Namun UNEP dengan sengaja menolak membingkai laporan ini sebagai nubuat kiamat. Mereka menegaskan berkali-kali: pelampauan 1,5 derajat bukan dalih untuk resignasi, melainkan alasan untuk urgensi. Antonio Guterres menyebutnya sebagai kebutuhan akan “overshoot ambisi” alias melampaui target lama kita dalam berbuat, bukan hanya dalam menderita. Laporan ini menolak logika biner kalah-menang dari diplomasi iklim lama, dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih dekat dengan etika: setiap fraksi derajat yang dihindari tetap berarti, bahkan setelah 1,5 derajat terlewati; setiap tahun yang dipersingkat dari masa pelampauan tetap menyelamatkan sesuatu, entah itu terumbu karang, lapisan es Antartika Barat, atau desa-desa pesisir di pulau-pulau kecil yang belum tenggelam.

Bagi saya, di situlah letak jendela yang UNEP maksud tetap terbuka—dan di situ pula harapan saya bersandar, meski dengan tangan dan hati yang gemetar. Pertobatan ekologis yang saya rindukan bukan sesuatu yang akan datang sebagai satu momen pertobatan besar, seperti satu KTT yang menyelamatkan segalanya. Ia akan datang sebagai ribuan keputusan kecil yang diambil berulang-ulang: perusahaan yang memilih menghitung ulang jejak karbonnya bukan karena diwajibkan, tetapi karena mengerti dirinya hidup di dalam boiler yang sama; kebijakan lahan gambut yang akhirnya diberi anggaran yang layak, bukan dipangkas; generasi muda Indonesia yang tumbuh dengan kesadaran bahwa kepulauan mereka adalah salah satu taruhan tertinggi dari overshoot ini, sekaligus salah satu tempat di mana solusi—dari energi terbarukan sampai restorasi mangrove—bisa lahir lebih cepat daripada di tempat lain di dunia.

UNEP menutup laporannya dengan kalimat yang saya baca ulang setidaknya lima kali: jalur pelampauan, puncak, dan penurunan ini adalah batas bagi generasi berikutnya dalam iklim, tetapi bukan sesuatu yang bisa ditinggalkan begitu saja untuk diselesaikan generasi itu. Tindakan segera, oleh generasi sekarang, dibutuhkan agar jalur ini tetap mungkin ditempuh. Saya sadar sepenuhnya bahwa jendela yang dimaksud UNEP dalam laporan itu—jendela kesempatan, jendela waktu, jendela pilihan yang masih kita punya sebelum benar-benar tertutup—hanya akan tetap tetap terbuka selama ada cukup banyak orang di seluruh dunia ini yang menolak berhenti menahannya, demi generasi mendatang. Dan di situlah harapan saya gantungkan dan doa saya panjatkan.

–##–