Catatan dari Jauh soal Indonesia Net-Zero Summit 2026 (INZS 2026)
Oleh: Jalal
Tanggal 1 Agustus lalu saya sedang berada di luar kota, jauh dari Balai Kartini yang kerumunannya konon mencapai delapan ribu orang yang berkumpul untuk membahas bagaimana Indonesia dapat mengubah komitmen iklim menjadi aksi nyata. Saya mengikuti Indonesia Net-Zero Summit 2026 lewat kabar yang terputus-putus, foto-foto di linimasa, juga kutipan-kutipan pendek di portal berita.
Temanya, tahun ini, adalah “It’s Time to Deliver!” alias kini waktunya menyerahkan hasil. Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, mengatakannya dengan gamblang dalam taklimat pers sebelum acara: yang dibutuhkan bukan lagi target yang ambisius di atas kertas, melainkan pelaksanaan yang sungguh-sungguh, sebab banyak program bagus di atas kertas, dengan target yang bagus, namun akhirnya tidak berjalan karena implementasinya tidak didorong dengan serius. Ketika membuka forum, ia bahkan menyebut perubahan iklim seharusnya menjadi prioritas utama dunia karena dapat memengaruhi kesehatan, ekonomi, migrasi, keamanan, industri, kesejahteraan sosial, energi, air, dan banyak hal lainnya. Kalimat itu benar sekaligus menyedihkan, sebab kebenaran itu telah diucapkan berulang-ulang, di forum-forum serupa, sejak bertahun-tahun lalu, dan dunia masih saja berjalan seolah belum mendengarnya.
Saya menulis artikel ini bukan untuk ‘merayakan’ INZS 2026, meski saya menghormati kerja keras di baliknya. Saya menulis ini karena setiap kali mendengar frasa net-zero emission, ada dua kesedihan yang datang bergantian, seperti dua pendulum yang berayun berlawanan arah terus menerus, dan tak pernah berhenti hingga sekarang.
Masih Juga 2060?
Kesedihan pertama adalah tentang tahun 2060. Angka itu telah menjadi semacam jangkar dalam wacana iklim Indonesia, diucapkan begitu sering hingga kehilangan bobotnya sebagai sebuah tenggat, padahal ia adalah tenggat yang sesungguhnya sudah terlambat sepuluh tahun dari jalur yang selaras dengan target 1,5 derajat Celsius. Bukan saya yang mengarang jarak itu, melainkan ribuan ilmuwan iklim yang tergabung menuliskan laporan IPCC.
Climate Action Tracker, lembaga pemantau independen yang paling dipercaya dalam menilai kecukupan target iklim negara-negara di dunia, tahun ini kembali memberi Indonesia predikat “sangat tidak memadai” alias critically insufficient. Ini adalah kategori terburuk kedua dalam skala mereka. Dalam penilaian terbaru mereka, disebutkan bahwa pembangkitan listrik dan industri Indonesia masih sangat bergantung pada batubara, sementara emisi dari perubahan lahan terus berlangsung akibat deforestasi yang didorong oleh pertanian dan komoditas, dan bahwa di bawah target tanpa syarat sekalipun, emisi Indonesia akan terus meningkat selama beberapa dekade, memuncak baru sekitar 2050 pada level lebih dari dua kali lipat dari hari ini.
Angka-angka di lapangan mengonfirmasi kekhawatiran itu dengan tegas. Hingga awal tahun ini, Indonesia masih mengoperasikan ratusan PLTU batubara—dalam satu hitungan mencapai 265 PLTU batubara untuk kelistrikan umum berkapasitas hampir 50 gigawatt, ditambah 117 PLTU batubara industri berkapasitas hampir 11 gigawatt—sementara rencana pensiun dini yang telah didengungkan bertahun-tahun belum juga terealisasi, dan yang lebih menyakitkan, pembangunan PLTU batubara baru di Sumatera Selatan dan Cilegon justru terus berjalan, bertentangan langsung dengan komitmen transisi energi yang diucapkan pemerintah. Kapasitas pembangkit berbahan bakar batubara kini mencakup 80 gigawatt dari total 120 gigawatt seluruh kapasitas pembangkit di Indonesia, sementara porsi energi terbarukan dalam pembangkitan listrik on-grid justru turun menjadi hanya 11,5 persen pada 2024. Turun. Bukan naik. Di tengah segala pidato tentang transisi.
Inilah yang membuat saya gundah setiap kali mendengar kata net-zero diucapkan dengan bangga di podium-podium megah: kesenjangan antara retorika dan realitas ini bukan cerita baru yang mengejutkan siapa pun yang bekerja di ranah ini selama beberapa tahun terakhir. Ia telah menjadi semacam koreografi tahunan. Komitmen diumumkan, dipuji, difoto, lalu dilupakan sampai forum berikutnya datang dengan tema baru yang menuntut hal yang persis sama: implementasi. “It’s Time to Deliver” bukan tema pertama yang menuntut hal itu walau dengan susunan kata yang berbeda, dan saya khawatir sekaligus sangat yakin ini bukanlah yang terakhir.
Sektor BIsnis yang Belum Juga Siuman
Kesedihan kedua, yang mungkin lebih dalam karena cakupannya global, adalah tentang sektor bisnis. Dunia usaha yang sepatutnya menjadi mesin transformasi lantaran dosa emisinya luar biasa besar, namun justru sering menjadi tempat di mana komitmen paling mudah diucapkan dan paling sulit dibuktikan. Sebuah kajian yang terbit awal tahun ini, Red Flags in Green Promises: a Framework for Identifying Greenwashing Risk in Corporate Climate Pledges (Brown, Hsu, dan Manya, 2026) yang menganalisa lebih dari empat ribu perusahaan menggunakan data dari CDP, InfluenceMap, dan Net Zero Tracker, menemukan bahwa 96 persen perusahaan yang mengumumkan janji net-zero menunjukkan setidaknya satu indikator risiko greenwashing, dengan kesenjangan cakupan emisi Scope 3, perencanaan yang buruk, dan ketergantungan pada offset sebagai yang paling umum. Sembilan puluh enam persen! Bukan minoritas yang nakal di antara majoritas yang jujur, alias hampir semuanya, dalam satu bentuk atau lain, bermain dengan bayang-bayang kata-kata mereka sendiri.
Data lain, yang dirilis awal tahun ini pula, menunjukkan bahwa meski 41 persen perusahaan besar dunia kini memiliki target net-zero yang mencakup seluruh rantai nilai mereka, hanya 16 persen yang benar-benar berada di jalur untuk mencapainya. Dan riset dari InfluenceMap, yang menelusuri bagaimana lobi kebijakan perusahaan sering bertentangan dengan janji iklim mereka sendiri, mendapati bahwa 58 persen dari sekitar tiga ratus perusahaan dalam daftar Forbes 2000 berisiko melakukan net-zero greenwash karena keterlibatan kebijakan mereka yang justru melemahkan, bukan mendukung, kebijakan iklim ambisius. Mereka berkata satu hal di laporan keberlanjutan, dan melakukan hal lain lewat asosiasi dagang serta lobi legislatif mereka. Ini adalah sebuah skizofrenia korporat yang dirawat dengan rapi lewat desain grafis yang indah dan bahasa yang menenangkan.
Di sinilah greenwashing dan greenhushing bertemu sebagai dua wajah dari kegagalan yang sama. Yang satu bicara terlalu banyak tentang hal yang tak dilakukannya; yang lain memilih diam, menyembunyikan target dan capaian iklimnya dari sorotan publik karena takut diperiksa, takut digugat, takut disandingkan dengan kenyataan. Dan di Indonesia, di ASEAN, di Asia Pasifik—di mana pengawasan publik terhadap klaim korporat masih jauh lebih lemah dibanding Eropa atau Amerika Utara—kedua wajah ini punya ruang gerak yang jauh lebih leluasa. Tak ada regulator yang cukup galak, tak ada pers yang cukup dalam menelusuri, dan sangat sedikit masyarakat sipil yang cukup bergigi untuk memaksa perusahaan membuktikan, bukan sekadar mengumumkan.
NZE Itu Tak Cukup
Yang membuat saya benar-benar marah—dan saya memilih kata ini dengan sadar, bukan sekadar kecewa—adalah bahwa net-zero emission sesungguhnya merupakan tuntutan yang jauh lebih ringan dibanding apa yang Bumi, lewat sains, sebenarnya minta dari kita. Net-zero hanyalah titik keseimbangan, garis start menuju sesuatu yang lebih besar dan lebih mendesak: regenerasi. Dunia yang rusak ini tidak cukup diselamatkan dengan berhenti merusak; ia butuh dipulihkan, direhabilitasi, ditumbuhkan kembali kapasitasnya untuk menopang kehidupan. Namun jika terhadap tuntutan yang ‘hanya’ net-zero saja kita sebagai bangsa, sebagai kolektivitas bisnis global, masih berkubang dalam pengabaian, dalam retorika tanpa pelaksanaan, dalam PLTU baru yang dibangun sambil mulut mengucap kata transisi, dalam laporan keberlanjutan yang gemerlap namun kosong substansi, maka regenerasi hanyalah fatamorgana yang bahkan tak sempat kita bayangkan dengan serius.
Saya menulis artikel ini sambil menunggu kendaraan yang membawa pulang dari luar kota, dengan kabar-kabar INZS 2026 masih terbayang: delapan ribu orang berkumpul, lebih dari lima puluh pembicara, panel demi panel tentang 100 gigawatt PLTS, tentang kerjasama Indonesia-Tiongkok, tentang pendanaan transisi. Semua itu penting diapresiasi, dan saya sungguh tak berani meremehkannya.
Namun, setiap forum semacam ini, betapapun megah dan bermaksud baik, akan selalu berhadapan dengan pertanyaan yang sama, tahun demi tahun: apakah kali ini kita benar-benar akan menyerahkan hasil, atau apakah “It’s Time to Deliver” hanyalah tema lain yang bakal kita ucapkan lagi tahun depan, dengan kata-kata yang sedikit berbeda, menghadapi kesenjangan yang tak juga terkikis, sementara jendela waktu menuju kenaikan di bawah 2 derajat terus menyempit dengan cepat.
Sains iklim telah berbicara, berulang-ulang, dengan kejelasan yang jarang dimiliki disiplin ilmu lain ketika berhadapan dengan masa depan umat manusia. Yang belum terjadi adalah kesungguhan kita mendengarkannya, bukan bicara di podium, bukan tampil di laporan tahunan, tetapi di setiap PLTU yang tidak jadi dibangun dan digantikan dengan pembangkit energi terbarukan, di setiap target yang benar-benar diaudit, di setiap perusahaan yang berhenti melobi diam-diam untuk melemahkan kebijakan yang justru mereka klaim dukung. Sampai hari itu tiba, saya kira saya akan terus mendengar kata net-zero dengan perasaan yang sama: sedih, kecewa, dan—rasanya ini yang semakin sering saya rasakan—marah.
–##–
Leave A Comment