Ilmu pengetahuan terkait perubahan iklim dengan tegas menyatakan bahwa dunia saat ini telah menempuh arah yang salah. Keblunderan dunia ini ditegaskan dalam laporan multi-lembaga terbaru yang dikoordinasikan oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO). Laporan berjudul “United in Science”, yang diluncurkan 13 September 2022 di Jenewa ini menyatakan, ada kesenjangan besar antara aspirasi dan kenyataan dalam aksi perubahan iklim. Padahal, tanpa aksi perubahan iklim yang lebih ambisius, dampak fisik dan sosial ekonomi dari perubahan iklim akan semakin mengerikan.
Data konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer dari WMO Global Atmosphere Watch (GAW) menyatakan konsentrasi gas rumah kaca saat ini terus mencapai rekor tertinggi. Konsentrasi karbon dioksida (CO2), metana (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O) di atmosfer terus naik. Data yang sama juga ditunjukan oeh semua pusat pengamatan dunia atau observatorium global.
Observatorium unggulan di Mauna Loa (Hawaii, AS) dan Cape Grim (Tasmania, Australia) misalnya, menunjukkan konsentrasi CO2 di Mauna Loa telah mencapai 420,99 ppm (419,13 ppm pada 2021) pada Mei 2022. Sementara konsentrasi CO2 di Cape Grim mencapai 413,37 ppm (411,25 ppm pada Mei 2021).
Guna mewujudkan target Persetujuan Paris – yaitu membatasi kenaikan suhu bumi di bawah 1,5 °C – ambisi pengurangan emisi harus naik tujuh kali lipat hingga tahun 2030 dibanding ambisi saat ini.
Data dari WMO, tujuh tahun terakhir tercatat sebagai tahun-tahun terhangat sepanjang sejarah. WMO mencatat, ada kemungkinan (sebesar 48%) bahwa, selama setidaknya satu tahun dalam 5 tahun ke depan, suhu rata-rata tahunan di bumi akan naik 1,5°C lebih tinggi dibanding rata-rata suhu tahunan dalam periode 1850-1900.
Dan ketika suhu bumi terus memanas, “titik kritis” dalam sistem iklim tidak lagi bisa dihindari.
“Banjir, kekeringan, gelombang panas, badai ekstrem, dan kebakaran hutan akan berubah dari buruk menjadi lebih buruk, memecahkan rekor dengan frekuensi yang lebih mengkhawatirkan. Gelombang panas di Eropa. Banjir kolosal di Pakistan. Kekeringan yang berkepanjangan dan parah di Cina, Tanduk Afrika dan Amerika Serikat.
“Tidak ada yang pernah mengalami bencana separah ini sebelumnya. Bencana-bencana tersebut adalah harga dari kecanduan manusia terhadap bahan bakar fosil,” kata Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa PBB), António Guterres.
“Laporan United in Science tahun ini menunjukkan wilayah kehancuran akibat perubahan iklim yang belum pernah dipetakan sebelumnya. Walau dampak perubahan iklim menjadi semakin parah, tiap tahun dunia terus menggandakan kecanduan mereka terhadap bahan bakar fosil ini,” kata Guterres dalam pesan videonya.
Ilmu pengetahuan dengan jelas menyatakan: dunia perlu segera mengurangi emisi dan beradaptasi dengan perubahan iklim, tulis “United in Science”. Pemanasan global diperkirakan (dengan probabilitas 66%) akan mencapai 2,8 °C (dengan interval 2,3°C – 3,3°C), dengan asumsi jika dunia melanjutkan kebijakan yang ada saat ini. Namun, bahkan jika janji baru atau janji yang diperbarui diterapkan sepenuhnya, pemanasan global masih akan mencapai 2,5 °C (dengan interval 2,1 °C–3,0 °C). Sehingga, kesimpulannya, “United in Science” menulis, negara-negara dunia telah gagal memenuhi janji baru atau janji yang mereka perbarui melalui kebijakan mereka saat ini.
Menurut Program Penelitian Iklim Dunia dari WMO ada sejumah titik Kritis dalam sistem iklim. Mencairnya lapisan es di Greenland dan Antartika dianggap sebagai titik kritis utama yang memiliki konsekuensi global. Permukaan laut akan naik lebih tinggi dibanding kenaikan dalam ratusan hingga ribuan tahun.
Sementara itu, ada titik kritis regional, seperti kekeringan di hutan hujan Amazon yang akan berdampak serius secara lokal dan terus meningkat secara global. Kekeringan regional ini akan mempengaruhi siklus karbon global dan mengganggu sistem cuaca utama seperti musim hujan.
Wilyah perkotaan yang menjadi rumah bagi 55% populasi global, atau 4,2 miliar orang – juga sangat rentan terkena dampak perubahan iklim. Hujan lebat semakin sering terjadi, kenaikan permukaan laut semakin cepat, banjir di wilayah pesisir semakin parah, juga kondisi panas yang ekstrem. Dampak ini memperburuk masalah sosial ekonomi dan ketidaksetaraan di perkotaan.
Data “United in Science” menyebutkan, secara global, pada tahun 2050-an, lebih dari 1,6 miliar orang yang tinggal di lebih dari 970 kota di dunia akan secara teratur terpapar suhu rata-rata per 3 bulan yang mencapai setidaknya 35° C (95° F). Sehingga, kota memiliki peran penting dalam aksi perubahan iklim melalui integrasi aksi adaptasi dan mitigasi dengan pola pembangunan yang berkelanjutan.
Program Penelitian Cuaca Dunia dari WMO menyebutkan, jumlah bencana terkait cuaca, iklim, dan air telah meningkat lima kali lipat dalam 50 tahun terakhir, menyebabkan kerugian sebesar US$202 juta setiap hari! Menurut “United in Science”, hubungan antara perubahan iklim – yang disebabkan oleh prilaku manusia mengotori atmosfer dengan GRK – dengan cuaca ekstrem – seperti gelombang panas, curah hujan lebat, dan siklon tropis – semakin kuat.
Dampak sosial ekonomi dari cuaca ekstrem dirasakan dalam jangka panjang. Komunitas yang paling rentan (masyarakat miskin dan terpinggirkan) menjadi pihak yang paling tidak siap untuk merespons, memulihkan, dan beradaptasi terhadap bencana iklim.
WMO menyatakan perubahan iklim kemungkinan meningkatkan intensitas curah hujan. Ketika atmosfer menghangat, atmosfer akan menampung lebih banyak air, yang, rata-rata, membuat musim hujan dan acara lebih basah. Dengan terus berlanjutnya kenaikan emisi GRK dan suhu bumi, kejadian curah hujan tinggi akan semakin sering terjadi.
Gelombang panas di musim panas juga menimbulkan risiko yang signifikan bagi kesehatan manusia, terutama bagi orang tua, anak-anak dan penyandang disabilitas. Faktor sosial ekonomi, urbanisasi (efek urban heat island) dan tingkat kesiapsiagaan – juga dapat meningkatkan kerentanan. Data Lembaga Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika Serikat menyebutkan cuaca panas telah mencabut 11.000 nyawa antara tahun 1979-2018.
“United in Science” menyatakan, saat ini antara 3,3-3,6 miliar orang sangat rentan terdampak perubahan iklim. Sehingga penting bagi komunitas internasional untuk mengambil tindakan tidak hanya untuk mengurangi emisi, tetapi juga beradaptasi dengan perubahan iklim, terutama cuaca ekstrem.
Sistem peringatan dini adalah langkah adaptasi efektif untuk menyelamatkan nyawa, mengurangi kerugian dan kerusakan, dan hemat biaya. Kurang dari setengah negara di dunia telah melaporkan keberadaan Sistem Peringatan Dini Multi-Bahaya (MHEWS), namun hanya sedikit dari negara-negara di Afrika, negara-negara miskin dan dan negara-negara pulau kecil.
Sehingga, memastikan bahwa semua orang di Bumi dilindungi oleh MHEWS dalam lima tahun ke depan harus menjadi prioritas internasional utama. Hal ini akan membutuhkan kolaborasi di berbagai aktor dan solusi pembiayaan yang inovatif. Peluang untuk membuat perubahan adalah saat ini. Dunia sudah terlambat puluhan tahun untuk beraksi iklim.
Redaksi Hijauku.com
[…] post United in Science: Dunia Telah Salah Jalan appeared first on Situs Hijau […]