Dunia mengalami berbagai bencana besar yang memecahkan rekor pada periode 2021-2022. Di seluruh dunia, sekitar 10.000 nyawa tercabut dari raganya. Nilai kerusakan akibat bencana diperkirakan mencapai $280 miliar. Hal ini terungkap dalam laporan terbaru berjudul “Interconnected Disaster Risks” yang dirilis Rabu, 31 Agustus 2022.

Laporan yang disusun oleh UN University Institute for Environment and Human Security (UNU-EHS) ini menyatakan, bencana seperti gempa bumi, banjir, gelombang panas, dan kebakaran hutan, bisa dicegah menjadi malapetaka yang mencabut nyawa. “Banyak dari bencana ini memiliki akar penyebab yang sama,” tulis laporan ini. “Solusi untuk mencegah atau mengelolanya juga terkait erat.”

Bencana yang terjadi di berbagai penjuru dunia pada awalnya tampak seperti tidak berhubungan satu dengan yang lain. “Namun ketika Anda mulai menganalisisnya secara lebih rinci, dengan cepat Anda menyadari bahwa bencana-bencana tersebut disebabkan oleh faktor-faktor yang sama, misalnya (peningkatan) emisi gas rumah kaca atau (pola) konsumsi yang tidak berkelanjutan,” ujar Dr. Zita Sebesvari, penulis utama dan wakil direktur UNU-EHS sebagai mana dikutip dalam berita PBB.

Untuk menemukan hubungan antara bencana-bencana tersebut, tim peneliti melihat bencana “dari bawah permukaan” dan mengidentifikasi faktor-faktor pemicu yang memungkinkan bencana itu terjadi sejak awal. Misalnya, deforestasi yang menyebabkan erosi tanah, yang pada gilirannya membuat lahan sangat rentan terhadap bencana seperti tanah longsor, kekeringan, dan badai pasir.

Yang lebih mengerikan lagi, setelah tim peneliti “menyelam” lebih dalam, mereka menemukan, bahwa pemicu bencana dibentuk oleh akar penyebab yang sama yang sifatnya lebih sistemik, seperti sistem ekonomi dan politik.

Penyebab deforestasi misalnya dapat ditelusuri dari kebijakan pemerintah yang menempatkan kepentingan ekonomi di atas kelestarian lingkungan, juga akibat pola konsumsi masyarakat yang tidak berkelanjutan.

Akar penyebab umum bencana lain yang ditemukan oleh laporan ini termasuk ketidaksetaraan dalam pembangunan dan peluang memperoleh mata pencaharian, peningkatan polusi gas rumah kaca, termasuk kolonialisme dan warisannya.

Berbagai bencana saling terkait, penyebabnya saling terkait, solusinya juga saling terkait. Solusi “biarkan alam bekerja”, misalnya, memanfaatkan kekuatan alam untuk mencegah risiko dan menghindari bencana. Sehingga dunia perlu segera berinvestasi untuk memulihkan dan menjaga alam, membiarkan alam kembali bekerja.

‘Kita semua adalah bagian dari solusi,’ tulis laporan ini. Solusinya tidak terbatas pada pemerintah, pembuat kebijakan, atau sektor swasta. Masing-masing individu juga bisa menyumbang solusi dalam mencegah bencana-bencana ini. Mulai dari mempromosikan konsumsi berkelanjutan dengan memperhatikan dari mana makanan kita berasal dan dari mana kita membelinya.

“Kita dapat bekerja sama untuk mempersiapkan komunitas kita jika terjadi bencana,” kata Dr. Jack O’Connor, penulis utama laporan ini.  “Intinya adalah kita, sebagai individu, adalah bagian dari tindakan kolektif yang lebih besar, yang sangat membantu dalam menciptakan perubahan positif yang berarti. Kita semua adalah bagian dari solusi,” tuturnya.

Redaksi Hijauku.com