Oleh: Dicky Edwin Hindarto
Satu kebetulan di tahun 2021 ini Hari Bumi yang jatuh di tanggal 22 April bersamaan waktunya dengan bulan Ramadhan, bulan berpuasa bagi umat Islam. Dan kebetulan ini menjadi istimewa karena tahun ini sebenarnya adalah tahun dimulainya era implementasi Kesepakatan Paris, kesepakatan terbesar antar bangsa yang pernah terjadi di dunia.
Dan Hari Bumi ini bertambah meriah karena Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, berinisiatif untuk mengundang 40 kepala negara dalam pertemuan Leaders Summit on Climate, mengadakan kondangan bersama di masa pandemi secara daring. Ini adalah pertemuan terbesar di masa pandemi untuk membicarakan hal lain selain pandemi, yaitu perubahan iklim. Apa tujuan pertemuan ini? Apakah hanya kondangan biasa saja atau ada hal lain?
Tujuan pertama tentu saja AS ingin tampil kembali menjadi pemimpin sekaligus jagoan dunia untuk menyelamatkan bumi seperti di film-film Marvel. Nama AS yang beberapa tahun terakhir tercoreng, bahkan masuk ke lumpur, untuk perkara perubahan iklim, harus dipulihkan lagi oleh pengganti Donald Trump. Joe Biden, seperti pembuktian janjinya untuk mengembalikan AS ke jalur Kesepakatan Paris setelah dipaksa keluar oleh Trump. Biden harus bisa mencuci aib ini, bahkan membalikkan keadaan jadi pemimpin dan imam perubahan iklim.
Tujuan kedua adalah AS ingin mengajak negara-negara sahabatnya, terutama yang memiliki ekonomi dan penduduk besar, untuk berjanji dan berniat bersama mengurangi dosa emisi gas rumah kaca untuk mencegah perubahan iklim. Ini adalah janji ramai-ramai untuk mulai membersihkan dosa, bertaubat, serta berjanji untuk mengurangi dosa sampai akhirnya bertaubat nasuha.
Janji untuk bertaubat nasuha inilah yang kemudian ramai disebut di media sebagai net-zero emission alias nir-emisi.
Dan apabila pertobatan di kondangan ini dilakukan oleh 40 negara besar, termasuk Indonesia, yang kemudian diharapkan akan diikuti oleh negara-negara lain, maka emisi gas rumah kaca di dunia diharapkan akan turun secara drastis. Bumi menjadi membaik, dan umat manusia mempunyai harapan lebih panjang untuk hidup dan mendiami bumi.
Sebenarnya konsep net-zero emission itu mirip sekali dengan konsep berpuasa untuk menjadi orang lebih bertaqwa dan diampuni segala dosa.
Sadar atau tidak, maka hampir semua kegiatan manusia di atas muka bumi selalu menimbulkan emisi gas rumah kaca, yang kemudian terakumulasi di atmosfer. Pada gilirannya gas rumah kaca ini kemudian memerangkap sinar matahari dan membuat bumi semakin panas, dan ahirnya menyebabkan perubahan iklim.
Dosa dari beremisi inilah yang kemudian ingin dihapus atau minimal dikurangi oleh AS dengan mengajak 39 negara lain. Net-zero emission atau nir-emisi artinya semua emisi gas rumah kaca yang timbul atau terjadi di satu negara kemudian harus mampu diserap lagi di negara tersebut sehingga secara akumulasi emisinya nol. Secara teoritis hal ini bisa dilakukan dengan cara mengurangi emisi yang timbul sampai maksimal, kemudian melakukan penanaman pohon dengan jumlah tertentu sehingga emisi bisa diserap oleh tetumbuhan. Dosanya dihapus oleh amal kebaikan menanam tumbuhan dan memelihara bumi.
Semakin banyak negara yang melakukan akan semakin baik karena antar negara kemudian akan bisa bekerjasama dalam kebaikan. Negara yang tidak mampu melakukannya sendiri bisa minta bantuan negara yang lebih mampu melakukan serapan karbon dengan imbalan tertentu. Sehingga kegiatan menghapus dosa ini sebenarnya juga menciptakan bisnis baru berupa jual beli surat penghapusan dosa atau kita menyebutnya pasar karbon.
Dan di tanggal 22 April 2021 ini kemudian dunia menyaksikan para pemimpin negara-negara besar berjanji dan berikrar akan mengubah tabiat menjadi lebih baik, mengurangi dosa, dan benar-benar bertaubat nasuha tidak mau berdosa lagi dengan menjadikan negaranya nir-emisi.
Xi Jin Ping dengan enteng berjanji bahwa China akan mengubah tabiat dan lebih menjaga bumi, di kesempatan sebelumnya janji Xi adalah tahun 2060 China akan mencapai target nir-emisi. Sementara Merkel dengan gagah menyatakan perbuatan buruk Jerman dalam mengoperasikan PLTU batubara akan diakhiri tahun 2038, dan Jerman akan turun emisinya sebesar 55% di bawah emisi di tahun 1990 di tahun 2030.
Suga, perdana Menteri Jepang, menyatakan bahwa Jepang di tahun 2030 akan mengurangi dosa emisinya sampai dengan 46% di bawah emisi tahun 2013 di tahun 2030. Sementara akan menjadi bersih tanpa dosa dan nir emisi di tahun 2050. Berbagai negara lain kemudian juga berlomba menyatakan niat mengurangi dosa dan akan bertaubat nasuha dengan suara keras secara bersama.
Joe Biden sendiri menyatakan, sebagai salah satu pendosa terbesar setelah China, maka AS akan segera insyaf dan melakukan pertobatan nasional untuk mengurangi dosa emisi terhadap bumi. Biden menyatakan akan mengurangi dosa-dosa emisinya sampai dengan 50-52% berdasar dosa emisi 2005 di tahun 2030. Ini adalah salah satu niat baik yang ambisius, mengingat sebelumnya AS tidak mempunyai target yang jelas. Satu niat yang perlu didukung, walau entah seperti apa sebenarnya ketulusannya.
Dan bagaimana Indonesia? Sebagai salah satu negara yang tidak terlepas dari dosa, maka di pertemuan antar bangsa ini Presiden Indonesia tidak menyatakan niat baiknya secara terbuka di depan umum. Presiden Jokowi hanya menyatakan bahwa Indonesia sudah secara serius berusaha menjadi negara yang baik dan mengurangi segala dosa emisinya. Itu saja.
Mungkin ini karena pengaruh bulan puasa, di mana kita memang harus lebih giat untuk melakukan ibadah dan tidak melakukan perbuatan dosa, maka Presiden dengan tegas menyatakan pokoknya Indonesia akan selalu berusaha menjadi negara yang mengurangi segala dosa emisi.
Ada pun perkara niat dan amal perbuatan baik untuk mengurangi emisi seperti negara lain, memang sebaiknya tidak dinyatakan di depan umum, akan menjadi perbuatan riya dan mengurangi nilai amal ibadah saja. Lebih baik diam saja dan terus melakukan perbuatan baik, bahkan sebaiknya tangan kiri tidak tahu apa yang dilakukan oleh tangan kanan.
Maka Joe Biden boleh saja kemudian sesumbar niat baiknya untuk menjadi jagoan terbaik di dunia. Xi Jin Ping, Suga, Merkel, bahkan Macron dan para pemimpin negara lain boleh saja ikut meneriakkan niat baiknya kepada seluruh manusia, tapi ingat itu sebenarnya perbuatan sia-sia. Amal dan ibadahnya justru menjadi tak bermakna karena riya.
Lebih baik terus melakukan perbuatan baik tanpa perlu riya dan menunjukkan amal ibadah, apalagi ibadah yang baru niat dan belum dilaksanakan,
Maka lebih baik memang tetap rendah hati, tapi konsisten menghindari dosa emisi. Semakin lama semakin bersih tanpa dosa.
Apalah arti sebuah niat yang diteriakkan ke seluruh umat manusia? Riya itu.
–##–
Riya adalah melakukan amal bukan karena mengharap ridha Allah, tetapi mencari pujian dan memasyhurkan di mata manusia. Riya merupakan bentuk syirik kecil yang dapat merusak dan membuat ibadah serta kebaikan yang dilakukan tidak bernilai di hadapan Allah.
Leave A Comment