Oleh: Ripto Sapidi *

Hutan Adat Penghulu Merajo Lelo adalah salah satu hutan adat yang berada di wilayah administrasi dua desa, yaitu Desa Tanjung Beringin dan Desa Pulau Tebakar di Kecamatan Tabir Barat, Kabupaten Merangin, Jambi. Hutan Adat Penghulu Merajo Lelo terbagi dalam dua titik/lokasi. Pertama di Bukit Lumut dan yang kedua di Bukit Muarau. Total luasnya 33,8 Km2. Ada 750 keluarga yang tinggal di dua desa ini. Mayoritas penduduk bermata pencaharian di sektor pertanian dan perkebunan.

Dalam “Pelatihan Peningkatan Kapasitas bagi Petani dan Pendamping Perhutanan Sosial pada Pola Padat Karya tahun 2021”, pengurus Hutan Adat memilih lima orang untuk mengikuti pelatihan tersebut. Mereka adalah Jamaludin, (pendamping sekaligus koordinator), Ripto Sapidi, Ruamaniah, Amir Mahmud dan Mirza Febi Andriani.

Pelatihan ini mengandalkan jaringan internet yang memadai karena merupakan pelatihan virtual. Karenanya, kami harus mencari titik sinyal internet yang kuat agar bisa terhubung ke aplikasi Learning Management System (LMS) dan video. Sinyal kuat kami temukan di posisi yang berbeda-beda. Terkadang di pinggir bukit. Terkadang kami harus naik ke bukit baru ada sinyal yang bagus.

Tantangan yang paling sulit jika listrik mati. Saat ini terjadi, kami harus berpindah tempat ke ibukota kecamatan tetangga dan bahkan hingga ke ibukota kabupaten. Semua ini demi untuk mengejar sinyal yang memadai agar bisa belajar dengan baik.

Namun demikian, keterbatasan jaringan atau sinyal ini tidak pernah menyurutkan semangat kami untuk belajar on-line maupun belajar mandiri (sesudah kelas selesai). Kami senang karena tutor atau pemateri banyak berbagi ilmu dan pengalaman terkait Perhutanan Sosial. Semua itu membuat kami semakin bersemangat mengikuti pelatihan tersebut.

Ada kejadian seru karena faktor sinyal ini. Pada hari pertama pembukaan, saat Ketua Komisi IV DPR-RI memberikan sambutan, kami masih bisa tersambung ke video conference. Namun mendadak listrik mati pada saat kata sambutan dari seorang direktur di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Sinyal hilang total. Kami pun terpaksa berpindah lokasi ke ibukota kecamatan tetangga, tepatnya di Desa Muara Jernih.

Setelah pelatihan selesai di hari itu dan kami sudah makan siang, maka kami kembali berkumpul di rumah pendamping/koordinator untuk mengerjakan tugas belajar mandiri mata pelajaran Pengembangan Kawasan serta Monitoring dan Evaluasi. Kami mengerjakan tugas dengan penuh semangat.

Pada hari kedua jaringan internet cukup bersahabat meski sesekali sinyal hilang timbul. Kami tetap bersemangat mengikuti pelatihan.

Lalu hari ketiga, tepat saat giliran pemadaman listrik di wilayah kami. Karenanya, sebagian dari kami pergi ke ibukota kabupaten untuk mendapatkan akses sinyal, dan sisanya mencari sinyal di desa tetangga.

Sesudah pemberian materi on-line selesai di hari itu, kami kembali berkumpul di rumah pendamping untuk mengerjakan tugas mandiri Pengembangan Kawasan dengan penuh semangat.

Pada hari keempat, kami semua mengerjakan tugas praktik mata pelajaran Kerjasama, Akses Permodalan dan Akses Pasar. Kami juga membaca ulang semua materi pelajaran sebagai bahan persiapan evaluasi. Kami ingin memahami semua materi dengan baik dan tentu saja ingin mendapatkan nilai yang memuaskan. Jika perlu lulus dengan predikat terbaik.

Sesudah pelatihan ini selesai, kami berencana untuk bisa segera mengimplementasikan ilmu yang kami peroleh dalam pengembangan Perhutanan Sosial di Hutan Adat kami, Hutan Adat Penghulu Merajo Lelo Serumpun Pusako. Amin.

–##–

* Ripto Sapidi adalah Pengurus Hutan Adat Penghulu Merajo Lelo Serumpun Pusako, Tabir Barat, Kecamatan Merangin, Jambi.