Oleh: Prof. Hariadi Kartodihardjo *

Pada beberapa dekade terakhir, konservasi telah berkembang menjadi bidang transdisipliner global, yang merangkul hubungan dua arah antara manusia dan alam di berbagai tingkatan. Dalam relung itu, cara informasi dikomunikasikan telah berubah secara dramatis, dari hasil jaringan teknologi dan praktik yang semakin kompleks dan saling berhubungan. Lanskap kebijakan, baik di dalam maupun antar negara, juga telah berubah.

Pernyataan itu dan seluruh isi artikel ini diambil dari buku “Conservation Research, Policy and Practice” editor oleh Sutherland dkk (2020). Berikut uraiannya.

Pergeseran domain ilmu konservasi yang saling terkait, berdampak signifikan pada bagaimana bukti yang diperoleh dari penelitian digunakan dalam pengambilan keputusan. Persepsi bahwa para peneliti berada di atas menara gading dan mereka menyampaikan bukti untuk ditafsirkan, disebarluaskan, dan digunakan dalam pengambilan keputusan — saat ini dan secara luas — diakui sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman. Munculnya berita palsu, budaya kurangnya pertimbangan bukti ilmiah dan pembuatan kebijakan dan praktek, serta perubahan cara menilai karya peneliti, mungkin semuanya berperan mendukung persepsi itu.

Kenyataannya, proses yang menghubungkan sains dan praktik jarang linier dan seringkali kompleks. Karena respons kebijakan dan praktik dapat didorong selain oleh penemuan ilmiah, juga oleh perubahan politik atau bahkan “sekedar” soal berkomunikasi. Untuk waktu yang lama, salah satu kesalah-pahaman adalah bahwa hubungan itu dianggap mengikuti model linier, dimana pembuat keputusan mengajukan pertanyaan dan peneliti menghasilkan bukti yang sesuai, yang kemudian digunakan oleh pembuat keputusan untuk membuat pilihan kebijakan. Buku ini membantu menghilangkan mitos seperti itu.

Dalam arena kebijakan, hubungan peneliti dan pembuatan kebijakan yang serasi membutuhkan waktu lama, termasuk terhambat ketika para pimpinan lembaga sering berganti. Oleh karena itu para peneliti perlu mempertimbangkan untuk “berada di dalamnya dalam jangka panjang”, karena jika tidak, faktor kebaruan hasil penelitiannya hilang sebelum digunakan.

Di sisi lain, fakta sesungguhnya dalam pengambilan keputusan atau pembuatan kebijakan hanyalah berdasarkan “kepuasan bukti” — yaitu cara kerja di mana bukti tidak dicari dan digunakan serta dampak implementasi kebijakan tidak diuji. Maka kebijakan yang dibuat menjadi tidak efektif bahkan membuat masalah baru.

Untuk itu, jalur untuk mempengaruhinya bergantung pada pemahaman yang baik tentang siapa yang harus didekati dengan bukti ilmiah. Langkah pertama adalah mengidentifikasi pembuat keputusan yang relevan. Pengambilan keputusan di antara praktisi lokal dan pembuat kebijakan sangat berbeda, dibandingkan dengan pengambilan keputusan di tingkat nasional, dan keduanya seringkali melibatkan orang-orang dengan latar belakang dan prioritas yang sangat berbeda.

Kedua, penting untuk diketahui bahwa sains bukanlah, dan tidak seharusnya, menjadi satu-satunya faktor pendorong dibuatnya kebijakan—sesuatu yang mungkin sulit diterima oleh para ilmuwan. Dalam hal ini, bukti ilmiah dapat tidak “sempurna” atau “benar bersyarat”, maka mengabaikannya dapat menyebabkan keputusan yang buruk. Persoalannya, mengkomunikasikan kondisi seperti itu kepada pembuat kebijakan dan praktisi dapat berisiko dapat menghilangkan keseluruhan temuan penelitian itu.

Ketiga, dampak penelitian dapat datang dalam berbagai bentuk, tetapi jalur penyampaiannya biasanya melibatkan negosiasi “antarmuka” — yaitu antara peneliti dan pembuat kebijakan/praktik. Satu tema berulang yang muncul dalam buku ini adalah perlunya hubungan kerja yang erat antar mereka yang menghasilkan bukti bersama pembuat kebijakan yang menerapkannya. Sifat, kualitas, dan keteraturan interaksi itu sangat penting untuk memastikan bahwa bukti untuk pengambilan keputusan menjadi solid.

Keempat, kolaborasi erat dengan organisasi non-pemerintah dapat menjadi salah satu cara untuk mengatasi masalah itu, karena mereka seringkali memiliki jaringan lebih baik dalam komunitas pembuat keputusan dan memiliki pemahaman yang baik tentang cara kerja “sistem”. Pada akhirnya, membangun rasa saling percaya dan saling menghormati antara peneliti dan pembuat kebijakan dapat membuat perbedaan apakah hasil penelitian digunakan atau tidak.

Kelima, hubungan kunci lainnya yaitu antara ilmuwan dengan, dan belajar dari praktisi, dapat memberi kesempatan unik untuk mendapatkan wawasan rinci tentang bagaimana penelitian mendukung, atau gagal mendukung, intervensi manajemen. Langkah ini penting, karena konsekuensi dari tidak menggunakan bukti ilmiah ketika membuat keputusan tentang intervensi (manajemen konservasi) dapat merusak, baik dalam hal menyia-nyiakan sumber daya manusia dan keuangan ataupun gagal memenuhi tujuan pengelolaan keanekaragaman hayati.

Keenam, bahwa internet dan media sosial telah sangat mengubah modus dan kecepatan komunikasi peneliti dengan publik, sehingga membuat hasil penelitian menjadi media kampanye menjadi alat yang dapat diakses semua orang. Namun—pada kondisi tertentu—strategi seperti itu dapat menyebabkan konsekuensi yang tidak diinginkan. Apa yang dilakukan peneliti seringkali tidak dapat dipisahkan dari lingkungan apakah mendukung—termasuk norma sosial, situasi politik dan ekonomi, dan insentif untuk mempromosikan perilaku tertentu—atau tidak. Dalam kondisi demikian, cara lebih efektif untuk mengubah kebijakan seringkali dengan menargetkan individu—misalnya bekerja melalui pendekatan yang membantu mengubah motivasi, kebiasaan, emosi, keterlibatan dan kesadaran — pada kondisi lingkungan yang mendukung.

Ketujuh, tantangannya, lapisan nasihat dari kolega dan pengalaman pribadi serta berbagai faktor sosial, ekonomi dan budaya dapat membuat para peneliti frustrasi dan dapat mempengaruhi sifat dan isi komunikasi mereka dengan pembuat keputusan maupun jenis hubungan yang dibangun. Selain itu, dimensi yang sangat manusiawi untuk bekerja antar penelitian—pembuat kebijakan praktik umumnya masih kurang dihargai oleh banyak pihak di bidang konservasi. Untuk itu peneliti yang kurang berpengalaman sebaiknya lebih banyak berkolaborasi dengan pakar komunikasi, daripada melakukannya sendiri atau hanya mempertimbangkan komunikasi sebagai sekedar tambahan kegiatan.

Intinya — dari hal-hal di atas — peneliti perlu menggunakan berbagai pendekatan dan berinvestasi melalui berbagai hubungan untuk memastikan bukti berkualitas tinggi dikembangkan bersama dan diproduksi bersama dengan pemangku kepentingan terkait. Kompilasi studi kasus dan opini dalam buku ini dengan jelas menunjukkan bagaimana keterlibatan dengan kebijakan dan praktik pada akhirnya menantang peneliti untuk secara individu menghadapi keterkucilan dan sindrom mereka yang berkaitan dengan kemampuannya untuk menghasilkan pengetahuan yang baik, berguna dan “sepasti yang didapat” itu.

Penulis buku ini berharap keragaman pengalaman dan nasehat yang luas dapat terus dicari, sebagai sumber daya berharga dan memungkinkan orang-orang menjadi tertarik untuk menerjemahkan penelitian mereka, guna membawa perubahan di dunia nyata demi keberlanjutan keanekaragaman hayati.

–##–

* Profesor Hariadi Kartodihardjo adalah Guru Besar Kebijakan Kehutanan di Fakultas Kehutanan dan Pascasarjana, IPB University.