Oleh: Hizbullah Arief *

Slogan bekerja sama untuk menyelamatkan lingkungan tak lagi menjadi mantra yang bermakna. Manusialah yang terbukti selama ini merusak bumi, bukan memperbaikinya. Hutan terus dibakar dan ditebangi, lautan dicemari, udara penuh sesak dengan polusi. Manusia karena keserakahannya, tak peduli dengan lingkungan, yang seharusnya menjadi mitra terbaik mereka untuk menciptakan kesejahteraan, meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup.

Sehingga slogan bekerja menyelamatkan lingkungan, bagaikan jauh panggang dari api. Hanya sedikit manusia yang berkomitmen melakukannya, secara sungguh-sungguh. Yang lain, egois, sibuk memikirkan perut mereka sendiri. Tak peduli ada jutaan sesama mereka, manusia, yang menderita akibat kerusakan lingkungan ini. Laporan terbaru United Nations Environment Programme (UNEP) berjudul “Working with the Environment to Protect People” seakan mengingatkan – dengan tegas – keadaan ini.

Lingkungan yang selama ini diabaikan – orang tak peduli hutan dibakar, banjir dan longsor merajalela, laut, sungai, danau, rawa, paya, dicemari, dialih fungsi, udara dikotori oleh polusi bahan bakar fosil, yang mencabut nyawa jutaan manusia, yang merusak hasil pembangunan – kini menjadi penentu kesehatan manusia.

Saat ini, seakan-akan, muncul kesadaran kolektif, bahwa bukan manusia yang menyelamatkan lingkungan, tapi lingkungan yang menentukan keselamatan manusia. Tugas manusia dari Sang Illahi untuk menjaga bumi, sehingga bumi bisa menjadi berkah bagi mereka – di mana dari tanahnya tumbuh pangan, sandang dan papan – telah diingkari oleh sifat egois dan keserakahan manusia yang terus merusak, dan merusak, mengeruk dan mengeruk sumber daya alam, tanpa memperhitungkan kemampuan bumi untuk pulih –  sehingga bumi berbalik menjadi ancaman bagi mereka.

Guru Itu Bernama Pandemi COVID-19

Pandemi COVID-19 hanyalah setitik dari efek kerusakan-kerusakan tersebut. Masih ada ancaman yang jauh lebih dahsyat yaitu krisis iklim, akibat peningkatan emisi gas rumah kaca yang tidak terkendali, yang tidak hanya merusak kesehatan, namun juga menggerogoti bumi, menjadikan bumi tak layak ditinggali. Untuk siapa? Tentu saja untuk Anda, dan anak-anak cucu Anda nanti, setelah Anda mati.

Tren ancaman jangka panjang ini secara ilmiah sudah dipaparkan. Manusia dikaruniai akal, kecerdasan, agar mereka bisa mengantisipasi bencana yang terjadi, di masa kini dan masa nanti. Namun segala macam peringatan, agar jangan membuat kerusakan di muka bumi telah dikhianati. Tidak hanya peringatan dan ancaman krisis iklim, namun juga ancaman hilangnya keanekaragaman hayati, keseimbangan ekosistem akibat kerusakan lingkungan sudah disampaikan selama ini.

Ironis! Kini mau tidak mau, manusia harus kembali mengandalkan lingkungan, agar mereka tak mengalami pandemi kembali, yang berasal dari virus-virus baru, yang sebagian besar muncul akibat konflik manusia dan satwa liar. Habitat satwa liar terus dirusak, dibakar, satwa liar diburu, punah, diperjualbelikan untuk memuaskan keserakahan, menghadirkan alam liar di ruang pribadi, yang seharusnya tak perlu terjadi. Alam biarlah tetap lestari, karena dengan kondisi itulah manusia bisa tumbuh bestari. Sungguh ironis.

Laporan UNEP – yang memang ditujukan untuk merespons pandemi COVID-19 – menyatakan, pandemi COVID-19 bukanlah kondisi yang menguntungkan bagi lingkungan. Pandemi COVID-19 justru mendorong kita, manusia untuk meninjau kembali hubungan kita dengan alam dan membangun bumi yang lebih baik.

Bekerja bersama lingkungan dimaksudkan oleh UNEP sebagai upaya untuk menyertakan dimensi lingkungan dalam respons-respons kita mengatasi pandemi COVID-19 dan membangun kembali dunia sesudahnya. Setidaknya ada empat respons yang ditawarkan oleh UNEP untuk mencapai tujuan di atas, membangun bumi yang lebih baik.

Respons pertama, masih dalam konteks kedaruratan penyebaran pandemi COVID-19, yang diperlukan adalah dukungan untuk penanganan limbah medis. Dukungan itu dalam hal menyediakan pengetahuan dan informasi penting terkait penanganan limbah medis COVID-19. Hal ini agar limbah-limbah medis tersebut tidak menumpuk atau dibuang sembarangan, atau dibakar, sehingga tidak memunculkan masalah kesehatan baru. Diperlukan dukungan kebijakan, manajemen dan infrastruktur untuk menangani limbah medis COVID-19.

Respons kedua, mendorong perubahan di lingkungan dan di masyarakat secara transformatif. Karena mau tidak mau, bumi yang sehat menjadi prasyarat dalam pemulihan paska COVID-19. Langkah yang dilakukan UNEP adalah dengan mendorong kebijakan berlandaskan ilmu pengetahuan guna mencegah penularan penyakit dari satwa ke manusia (zoonosis). Pemerintah juga perlu mengalokasikan dana untuk meningkatkan kesehatan dan mendorong pemulihan ekonomi dengan alam sebagai bagian dari solusi. Dunia sudah memiliki platform advokasi global untuk kerja sama ini seperti Kesepakatan Paris/Perjanjian Paris, Global Biodiversity Framework dan Chemicals and Waste Management Framework. Langkah lain adalah dengan meningkatkan upaya penyadartahuan (raising awareness) dan pembelajaran yang tak pernah terhenti.

Respons ketiga, melakukan investasi untuk membangun bumi secara lebih baik. Investasi yang disarankan oleh UNEP adalah dengan menciptakan lapangan kerja yang ramah lingkungan (green jobs), transisi ke energi bersih (green energy) dan mendorong penciptaan solusi berbasis alam (nature based solutions).

Respons yang keempat, atau yang terakhir adalah memodernkan tata kelola lingkungan global dengan cara mengurangi jejak karbon yang selama ini muncul dari berbagai perundingan, konvensi, rapat-rapat yang sering kali tanpa hasil dan hanya menjadi sarana untuk plesiran ke luar negeri.

Dengan pembelajaran berpuluh tahun dari proses penciptaan kebijakan dan pelaksanaan program pengelolaan lingkungan, seharusnya pemerintah bisa menerapkan keempat respons di atas dalam skala nasional dan lokal. Sekali lagi, yang diperlukan adalah menghentikan pola pikir bahwa negara bisa meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan, dengan mengabaikan lingkungan. Karena terbukti, ujung-ujungnya manusia dan anak cucu merekalah yang perlu diselamatkan dari kerusakan yang mereka buat sendiri. Kalimat bijak menyatakan, “Even a donkey doesn’t fall in the same hole twice,” bahkan keledai tak akan jatuh di lubang yang sama untuk kedua kali.

–##–

* Hizbullah Arief adalah Pendiri Hijauku.com – Situs Hijau Indonesia, Alumni East Asia Climate Leadership Program di 2012 dan Global Power Shift di 2013. Tulisan ini adalah opini pribadi penulis.