Oleh: Rahmi Carolina *

Siapa yang tak mengenal Tanjung Belit? Benar sekali, kampung ini menjadi pembicaraan beberapa waktu belakangan, sebab air terjun Batu Dinding yang ia miliki. Indah dan masih alami. Tanjung Belit, berada di sisi kiri Subayang jika bertandang dari arah Lipat Kain. Setelah dari Gema belok ke kiri, lalu sedikit menanjak dan turun bukit. Jika berhenti sejenak, siapapun akan disuguhkan bentangan bukit-bukit hijau. Lalu lelehannya mengalir dan berkumpul di sungai Subayang. Subayang bagaikan jantung, sedangkan airnya adalah darah. Tugasnya mengaliri setiap organ-organ kehidupan, lalu organ itu menghidupi kehidupan lain. Begitu seterusnya. Ia benar-benar inti dari kehidupan di kawasan Rimbang Baling.

Jalan aspal terakhir hanya bertapak sampai di Tanjung Belit. Jalan di kampung itu berbelit-belit sebab itulah kampung diberi nama Tanjung Belit, begitu gurauan amak-amak saat ditanya arti nama kampungnya.

Pagi itu matahari belum benar-benar keluar dari balik bukit. Saya dan Doni bersama dua petani muda mulai berjalan menyusuri hutan desa. Petani itu Ardi dan Masri. Mereka sepupu dari belah ibu. Belum lama ini pula mereka menggeluti pekerjaan tersebut. Sebelumnya Ardi menakik karet di kebun milik orangtuanya. Namun ada banyak hal yang menjadi pertimbangannya dan memilih bekerja sampingan mencari kulit medang. Ardi bukanlah satu-satunya pencari kulit medang di kampungnya. Ada banyak orang dan berbagai pula umurnya.

Hampir tiga jam lamanya kami berjalan. Di dalam perjalanan hening sekali, hanya ada suara langkah dan binatang kecil. Ardi dan Masri menyandang tas karung bertulis beras bulog 50kg. Isinya hanya bekal untuk istirahat siang. Mereka jalan cepat sekali, padahal medannya naik turun bukit. Tinggi dan terjal.

Sepintas ingat obrolan di kedai waktu itu. Lelaki paruh baya bercerita bahwa sejak 2013 hingga tahun 2016 saat ini harga karet selalu melemah. Ditingkat petani karet yang berada di kampung sangat merasakan dampak buruknya perekonomian. Bahkan beberapa tokeh menolak karet sebagian orang di pasaran. Tokeh lokal hanya berani buka harga ke petani dikisaran harga empat ribu rupiah per kilogramnya. Sedangkan untuk harga sekilo beras di kampung mencapai dua belas ribu rupiah.

Di desa Tanjung Belit sendiri, mayoritas profesi masyarakatnya adalah bertani karet. Kebun karet tersebut berasal dari harta warisan atau kebun peninggalan dari orang tetua dulu. Kebun tua itu masih dipertahankan dan digarap untuk menopang perekonomian selama ini.

Namun bicara soal karet, berarti bicara soal Kampar. Kita sudah tau bahwa pendapatan masyarakat kabupaten Kampar banyak bertumpu pada komoditas karet. Tapi sejak harga karet terjun bebas, masyarakat pun bagai terjun ke jurang.

“Whuuu…..”

“Whhuuuuu….”

Suara itu membangunkan saya dari lamunan. Ardi memberi kode, memastikan saya dan Doni baik-baik saja karena tertinggal jauh dari mereka. Langit mulai mendung dan hujan turun di hutan yang kami susur. Kami bergegas mencari tempat yang aman di bilik-bilik kayu. Tak lama setelah itu hujan pun reda. Kabut tipis mulai merambat di dedaunan. Ardi mengeluarkan bekal yang dibungkus dengan pelepah pinang dari tas karungnya. Kami putuskan untuk sarapan dulu. Mereka bilang biar semakin kuat pikul kulit medang nanti. Maka lepas sarapan kami melanjutkan mencari pohon medang.

Jenis hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang telah dikenal di Sumatera salah satunya yang sangat potensial untuk dikembangkan adalah kulit medang. Komoditas ini secara umum belum banyak dikenal di masyarakat, namun perdagangannya sudah berlangsung dibeberapa daerah penghasil seperti di Sumatera Utara dan Riau. Hanya saja kulit medang ini masih diperoleh dengan cara tradisional, yakni ditebang dan dikuliti.

IMG_0486Sejatinya pemanenan kulit medang di Kampar merupakan kegiatan yang relatif baru. Ia dilakukan setelah adanya permintaan pasar dari kulit pohon ini dari daerah Sumatera Utara. Kulit medang diolah untuk pengawetan kayu. Selain itu kulit medang juga digunakan sebagai bahan dasar pembuatan obat nyamuk bakar, lem dan dupa. Maka mencari kulit medang menjadi kegiatan penting di masyarakat.

Namun dari tahun ke tahun pekerjaan ini cenderung menurun. Sebab permintaan pasar kulit medang belum mencapai tingkat maksimum dan tidak mengenal kuota. Terlebih lagi karena ketidak pahaman petani akan tekhnologi pemanenan yang lestari dan keterlibatan pemerintah akan hal tersebut. Ketersedian pohon ini di alam pun semakin menipis, sehingga pekerjaan pemanenan ini hanya ditekuni oleh sebagian masyarakat saja.

Setelah menuruni beberapa bukit, akhirnya kami nememukan pohon medang. Benar saja, kalaulah ketersedian pohon tetap ada tidak mungkin kami berjalan sejauh ini. Saat itu saya juga bertemu dengan sepasang suami istri. Mereka sedang menguliti pohon medang yang sudah ditebang. Mereka juga dari Tanjung Belit. Saya bercakap-cakap sembari mengamati caranya.

Payah man cai piti nak, tapi itulah iduik ko condo ayam kok lai wak mangoke, lai awak makan”, kata ibu tersebut sambil terus menguliti medang dengan parangnya.

Setelah seluruh bagian pohon medang selesai dikuliti, kulit-kulit tersebut ditumpukkan disatu tempat. Ia lalu dipotong-potong lagi menjadi bagian yang lebih kecil. Hal tersebut dilakukan agar karung menjadi padat dan semua kulit bisa terbawa. Biasanya medang berdiameter 1 meter dan dengan tinggi 15 meter mampu menghasilkan sekitar 1 ton kulit medang basah. Namun saat medang ditebang tak jarang pula batangnya rebah kearah bawah bukit dan sulit dijangkau. Maka tak ada pilihan lain untuk mencari medang yang baru. Ketika medang tesampang lagi kearah yang tak diingini, lagi-lagi tak ada pilihan lain selain ditinggali. Begitu seterusnya.

Tentu kita semua pun tau, bahwa masyarakat bagian dari lingkungan. ketika kebutuhan masyarakat tidak dapat terpenuhi maka manusia cenderung akan menekan alam. Tapi bagaimana mungkin mereka bisa beramah tamah dengan medang sedangkan harga jualpun belum dalam kategori wajar. Sekilo kulit medang basah hanya dihargai seribu tiga ratus rupiah, sedangkan yang sudah dijemur dan kering dihargai tigaribu rupiah oleh tengkulak. Ini tidak ada bedanya dari hasil getah karet.

Iduik susah, tuhan nan kayo,” kata ibu sambil memikul karung 50kg berisi penuh kulit medang.

Hari semakin gelap, setelah karung terisi penuh kami semua berjalan turun dari bukit. Tak jarang beberapa petani terpeleset karena sisa hujan tadi. Perlahan-lahan kami keluar dari hutan. Sebenarnnya bukan masyarakat tak paham soal hutan, bukan mereka tak tau cara panen yang lestari. Ini soal periuk nasi. Belum lagi susahnya mencari tempat penampungan yang membeli hasil panen petani secara layak. Lantas petani untuk menyambung hidup harus berurusan dengan tengkulak. Seperti Ardi yang tak mau ambil resiko, ia langsung jual kulit medang basah ke tengkulak kecil di kampung. Tengkulak itu nanti yang menjemur kulit hingga kering, lalu dijual lagi ke tengkulak yang lebih besar dengan harga dua kali lipat dari yang didapat Ardi.

Sesampainya di kampung langit tumpah, setumpah-tumpahnya. Memberkahi setiap makhluk hidup yang ada disana. Menghapus jejak kami, menyiram luka-luka kehidupan di kampung yang indahnya tak berarti dari sebuah periuk nasi.

* Rahmi Carolina adalah seorang Conservasionist dan Penulis lepas lingkungan dari Pekanbaru, Riau. Blog : http://rahmimicarolina.blogspot.co.id/. Sosmed : Rahmi Carolina