Acara CTIJakarta, 3 Agustus 2015Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Securities (CTI-CFF) yang diwakili oleh Sekretariat Regional dan kelompok kerja Ecosystem Approach on Fisheries Management (EAFM), serta South East Asian Fisheries Development Center (SEAFDEC) bertemu hari ini di Jakarta untuk merumuskan rencana aksi implementasi pengelolaan perikanan berbasis ekosistem di enam negara anggota Coral Triangle Initiative. Dalam pertemuan ini, disepakati berbagai inisiatif kerjasama yang berfokus pada pertukaran pengetahuan, sumber daya ahli serta edukasi kepada para pemangku kepentingan tentang praktik pemeliharaan dan pemberdayaan ekosistem laut secara berkelanjutan.

Sumber daya laut memiliki manfaat ekonomi yang sangat besar, baik bagi komunitas yang tinggal di daerah pesisir maupun masyakarat secara luas. WWF dalam laporannya di tahun 2015 memperkirakan kekayaan laut di dunia bernilai lebih dari 2,5 Triliun USD. Sedangkan, bagi Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon dan Timor-Leste yang berada dalam kawasan Coral Triangle (CT6), kelestarian laut memiliki dampak yang besar karena menjadi sumber penghidupan bagi 120 juta orang. Laporan ADB di tahun 2014 mencatat bahwa sektor kelautan telah menyumbang 1,2 Triliun USD terhadap pendapatan domestik bruto di enam negara. Lebih lanjut, hasil perikanan tangkap di negara CT6 diperkirakan bernilai 9,9 Milliar USD dan berkontribusi sebesar 10,5% dalam pasar global.

Ekosistem kehidupan laut perlu terjaga dengan baik agar dapat memberikan kontribusi secara terus menerus bagi kesejahteraan masyarakat pesisir. Sayangnya, keberadaan ekosistem laut dan terumbu karang saat ini tengah terancam karena faktor perilaku manusia yang sering melakukan praktek penangkapan ikan secara tidak bertanggung jawab. Direktur Eksekutif Sekretariat Regional CTI-CFF Widi Pratikto, Ph.D menyampaikan, “Ekosistem laut di wilayah segitiga terumbu karang berada pada kondisi yang  mengkhawatirkan. Aktivitas penangkapan ikan secara berlebihan dan praktik penggunaan bahan peledak menjadi penyumbang terbesar terjadinya kerusakan ini.”

Melihat kondisi tersebut, CTI-CFF sebagai lembaga kerjasama multi negara yang bertujuan untuk mendorong kolaborasi antar pemerintah dan pemegang kepentingan dalam menjaga kelestarian dan pemberdayaan sumber hayati laut, menjalin kerjasama dengan SEAFDEC untuk mempromosikan program pengelolaan perikanan berbasis ekosistem di kawasan Coral Triangle. Area kerjasama yang dilakukan akan mencakup penanganan praktik penangkapan ikan secara berlebihan, pencegahan praktik penangkapan ikan secara ilegal, hingga tata kelola perdagangan sumber daya laut yang lebih baik.

“Kami dan CTI-CFF akan mensinergikan sumber daya tenaga ahli, hasil penelitian dan pengalaman yang dimiliki untuk mendukung implementasi pengelolaan perikanan berbasis ekosistem. Kami yakin kerjasama tingkat regional ini akan memberikan banyak manfaat terutama untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir di wilayah ASEAN dan Coral Triangle”, kata Dr. Chumnarn Pongsri, Sekretaris Jenderal SEAFDEC.

Agenda pembahasan proyek kerjasama hari ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan MoU di Chiang Rai, Thailand pada 3 April 2015 lalu. “Dalam kolaborasi ini CTI-CFF akan bekerjasama dengan SEAFDEC dalam program pemberdayaan sumber daya manusia, penelitian dan pengembangan, konsultasi serta pengelolaan jejaring informasi selama 5 tahun ke depan”, tutup Dr. Aryo Hanggono, Ketua Kelompok Kerja EAFM.

Tentang CTI – CFF

The Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF) adalah sebuah kerjasama multilateral enam negara yang bekerja bersama untuk menjaga sumber daya laut dan pantai dan memfokuskan kegiatannya pada beberapa isu penting seperti ketahanan pangan, perubahan iklim dan keanekaragaman hayati laut. CTI-CFF didirikan secara formal dalam Leaders Summit di tahun 2009 melalui persetujuan para pemimpin enam negara yaitu Indonesia, Malaysia, Papua New Guinea, Phillipines, Kepulauan Solomon dan Timor Leste (CT6) untuk mengadopsi CTI Regional Plan of Action (CTI RPOA) yang merupakan rencana aksi strategis yang terbagi dalam beberapa kelompok kerja yang menangani (i) Pengelolaan bentang laut (ii) Pengelolaan perikanan berbasis ekosistem (iii) Kawasan perlindungan laut (iv) Adaptasi perubahan iklim, dan (v) Spesies laut yang terancam punah.

Tentang Sekretariat Regional CTI –CFF

Sekretariat Regional CTI-CFF mendapatkan mandat untuk mempromosikan kerjasama regional, berbagi pengetahuan dan memfasilitasi pembelajaran mencakup enam negara anggota Segitiga Karang. Sekretariat Regional berkoordinasi dan memonitor perkembangan pencapaian tujuan dari Rencana Aksi Regional CTI-CFF (RPOA). Kegiatan utama kami mencakup perkembangan organisasi, pencapaian tujuan dan komunikasi, koordinasi dan mekanisme regional, kelompok kerja teknis dan tematis, pengembangan dari laporan-laporan kunci di level regional, serta pengembangan kapasitas. Sekretariat regional juga berfungsi sebagai ruang kerja utama dari fungsi resmi CTI-CFF seperti Pertemuan tahunan Tingkat Pejabat Senior CTI-CFF dan Pertemuan dwi-tahunan Tingkat Menteri. Sekretaris Regional saat ini berbasis di Kementerian Kelautan dan Perikanan di Jakarta sebelum menempati kantor permanen di Manado.

Kontak Media:

Desytha Rahma Dwiutami – Communication Specialist

Sekretariat Regional CTI-CFF

ddwiutami@cticff.org / +6287776628935