Oleh: Ambar Widyaningsih*
Lahan di kota metropolitan seperti Jakarta sudah tak bisa menampung aktivitas seorang anak untuk bermain. Semuanya berubah. Banyak bermunculan gedung-gedung pencakar langit nan megah itu.
Anak-anak butuh bermain di lahan terbuka hijau untuk mengasah kinerja otaknya dan mengekspresikan dirinya. Namun kemanakah tempat itu? Tempat yang semestinya paling mengerti mereka. Pepohonan yang rindang, hijaunya rerumputan, serta lapangan yang luas. Anak-anak butuh itu.
Miris sekali melihat mereka harus bermain ditengah jalan dalam sebuah gang sempit. Ketika orang melewatinya, sejenak mereka harus menghentikan keseruan mereka dalam bermain.
Taman-taman yang dibangun pemerintah setempat pun tak berarti banyak dalam menanggulangi masalah ini. Kenyataannya, tidak semua anak-anak bermain di sana setiap hari dan tidak semua pemukiman dekat dengan lahan terbuka hijau. Kalaupun harus bermain di taman, mereka harus menunggu saat weekend tiba. Ini jauh tidak seimbang dengan intensitas mereka bermain.
Wajar saja jika banyak anak yang beralih ke gadget mahal dengan segudang aplikasi games untuk mengganti waktu bermainnya. Semua itu karena mereka tak punya tempat terbuka untuk bermain bersama temannya yang lain.
Mungkin bagi anak-anak yang terlahir dari keluarga kaya, akan sangat mudah memilki lahan bermain sendiri di dalam rumahnya yang megah. Lalu bagaimana nasib anak-anak yang tinggal di gang sempit atau pinggiran kota? Jangankan memiliki lahan untuk bermain di rumahnya, halaman rumah saja mereka belum tentu punya.
Kalau kita flashback ke belakang, belasan tahun yang lalu sangat berbanding terbalik dengan sekarang. Masih banyak lahan kosong untuk anak-anak bermain. Berlari sepuas hati dan memainkan aneka macam permainan. Semuanya bisa dilakukan tanpa menggangu aktivitas orang lain. Tetapi sekarang, semua tempat yang seharusnya menjadi surganya anak-anak telah tumbuh menjadi sebuah rumah ataupun gedung pertokoan. Kalau begini mereka bisa apa? Siapa yang patut disalahkan?
Jika dibiarkan terus, akan berpengaruh terhadap kondisi psikologis tumbuh kembang anak. Anak akan sulit beradaptasi dengan lingkungannya. Lambat laun mereka akan tumbuh sebagai makhluk yang individualis.
Jangan korbankan anak-anak demi kepentingan kalian. Keegoisan kalian membuat mereka kehilangan sebagian masa kecilnya yang indah. Mereka tak mengerti apa-apa. Dunia mereka hanyalah bermain. Luangkan sedikit tempat untuk mereka mengekspresikan dirinya. Berhentilah mengambil surga mereka itu.
* Ambar Widyaningsih adalah mahasiswi yang tinggal di Depok. Penulis bisa dihubungi melalui email di: widyaningsihambar@gmail.com
Leave A Comment