100,000 feet above Oregon by Justin Hamel and Chris Thompson (500x375)Kondisi lapisan ozon terus membaik, namun ancaman kerusakan lingkungan masih terus menghantui.

Kondisi lapisan ozon yang melindungi bumi dari sinar ultraviolet matahari yang berbahaya, terus membaik dan diperkirakan pulih dalam beberapa dekade ke depan.

Hal ini terungkap dalam laporan yang disusun oleh 300 ilmuwan, yang diterbitkan oleh Program Lingkungan PBB (UNEP) dan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Rabu (10/9).

Menurut tim peneliti, keberhasilan ini merupakan hasil aksi kolektif berbagai negara di dunia yang menandatangani dan meratifikasi Protokol Montreal. Sejak 1987, negara-negara ini telah bekerja sama menciptakan kebijakan guna memangkas bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi ozon.

Tanpa Protokol Montreal, dan kebijakan-kebijakan pendukungnya, konsentrasi bahan-bahan kimia perusak ozon di atmosfer akan melonjak 10 kali lipat pada 2050. “Namun, tantangan yang kita hadapi masih sangat besar. Sukses Protokol Montreal harus memicu aksi-aksi lain yang tidak hanya melindungi lapisan ozon juga melindungi iklim,” ujar Direktur Eksekutif UNEP, Achim Steiner.

Salah satu tantangan adalah munculnya bahan-bahan kimia baru yang aman bagi ozon namun justru berbahaya bagi iklim. Bahan CFC (chlorofluorocarbon) dan halon – yang dipakai dulu dipakai untuk berbagai macam produk seperti lemari es, AC, kaleng penyemprot dan pemadam kebakaran – diganti dengan bahan HFC (Hydrofluorocarbon) yang berbahaya bagi iklim.

HFC saat ini menyumbang sekitar 0,5 gigaton emisi setara CO2 per tahun. Emisi-emisi ini terus bertambah dengan kecepatan 7% per tahun. Jika tidak dikontrol, bahan-bahan ini akan memerparah krisis iklim dalam beberapa dekade ke depan.

“Komunitas Protokol Montreal, dengan prestasi mereka, menjadi bukti bahwa kerja sama global dan aksi konkret adalah kunci utama untuk meraih target bersama melindungi dunia,” tambah Steiner. Mari terus beraksi atasi krisis lingkungan dan iklim.

Redaksi Hijauku.com