Masyarakat adat dan komunitas lokal tidak boleh dihilangkan dalam target pembangunan dunia. Seruan ini disampaikan oleh para ahli yang mengikuti konferensi pembangunan berkelanjutan yang berlangsung di New York, Juli lalu. Mereka membahas kondisi dan peran masyarakat adat dan komunitas lokal dalam pembangunan.
Hasil dari konferensi ini akan disampaikan di hadapan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa yang akan dilaksanakan bulan depan.“Masyarakat adat di hampir semua negara selalu tertinggal dalam pembangunan sosial dan ekonominya,” ujar para ahli.
Namun mereka juga bisa berkontribusi secara signifikan dalam meraih target pembangunan berkelanjutan. Masyarakat adat memiliki kearifan dan pengetahuan lokal dalam mengelola sumber daya alam, sehingga bisa menjaga ekosistem yang rumit tetap lestari hingga kini.
Menurut para ahli, istilah “masyarakat adat” banyak “dihapus” dalam target pembangunan berkelanjutan. Menekankan kembali penggunaan “komunitas lokal dan adat” berarti mengakui peran, status dan identitas mereka sesuai Deklarasi Hak-Hak Masyarakat Adat PBB serta instrumen internasional yang lain.
Istilah masyarakat adat juga telah banyak dipakai dalam Deklarasi Johannesburg 2012 dan Program Aksi Rio+20 (2012), yang menyerukan aspirasi mengenai masa depan yang kita inginkan atau ‘The Future We Want’. Para ahli menyeru istilah ini dipakai dalam setiap dokumen pembangunan berkelanjutan. Untuk memastikan para pejuang lingkungan ini tak lagi terlupakan.
Redaksi Hijauku.com
Leave A Comment