Spraying rice fields - IRRI Photo (500x335)Penggunaan nitrogen yang berlebihan memicu polusi di darat, laut dan udara, memicu kelebihan nutrisi dan krisis iklim. 

Pernahkan Anda melihat kasus kematian ikan besar-besaran di sungai atau di pesisir pantai? Salah satu penyebabnya adalah karena pencemaran nutrisi nitrogen. Kandungan nutrisi yang terlalu tinggi dalam air memacu meledaknya pertumbuhan tanaman air sehingga menyedot ketersediaan oksigen. Akibatnya ikan atau spesies air yang lain sulit hidup dalam kondisi minim oksigen. Kondisi ini dikenal dengan istilah eutrophication.

Saat ini tercatat 500 zona-zona mati di wilayah pesisir yang telah berhasil dilaporkan dan diidentifikasi, naik dari angka 150 zona pada 2003. Menurut UNEP diperkirakan terdapat sekitar 1000 wilayah laut dan pesisir yang mengalami fenomena eutrophication ini.

Selain mencemari air, nitrogen juga mencemari udara dalam bentuk gas nitrogen oksida (N2O). Gas ini sering dijuluki sebagai polutan iklim yang terlupakan. N2O adalah polusi iklim yang 300 kali lebih berbahaya dibanding CO2 dalam periode 100 tahun. Aktivitas manusia seperti pertanian, deforestasi, dan pembakaran bahan bakar fosil terus menambah pencemaran ini ke atmosfer.

Jumlah nitrogen yang diproduksi manusia saat ini mencapai 190 juta ton per tahun. Angka ini melebihi jumlah nitrogen yang diproduksi secara alami sebesar 112 juta ton/tahun.

Informasi ini terungkap dalam buku tahunan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) yang dirilis baru-baru ini. Menurut UNEP, nitrogen terus digunakan secara berlebihan sebagai nutrisi dalam industri pertanian dan perikanan dunia.

Saat nitrogen mencemari lingkungan, atom nitrogen menimbulkan “gelombang” dampak negatif baik di udara, darat, di air tawar dan di laut. Lingkaran setan ini disebut sebagai “nitrogen cascade” atau “air terjun nitrogen”.

Hasil produksi budidaya perikanan air laut (marine aquaculture) terus meningkat sejak tahun 1950-an, naik dari 650 ribu ton pada tahun 1950-an menjadi hampir 67 juta ton saat ini. Budidaya perikanan laut memroduksi separuh dari ikan yang dikonsumsi dunia. Budidaya perikanan laut tumbuh 35% selama sepuluh tahun terakhir, sementara produksi ikan di air tawar dan asin naik 70% dan 83%.

Budidaya perikanan mencemari air melalui pakan ikan dan obat-obatan, menyebabkan air kelebihan nutrisi sehingga memicu pertumbuhan penyakit, parasit dan alga yang berbahaya. Di sejumlah negara, praktik tambak udang banyak yang merusak habitat pesisir seperti hutan mangrove.

Menurut Hua Xie, peneliti dari International Food Policy Research Institute (IFPRI), ada sejumlah langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi polusi nitrogen yang pada 2050 diperkirakan akan meningkat antara 48% hingga 76%.

Langkah pertama adalah meningkatkan tata kelola dan efisiensi pemakaian pupuk atau nutrisi tanaman. Banyak teknik yang menunjang upaya ini diantaranya adalah dengan penerapan irigasi tetes yang memungkinkan pemberian pupuk langsung ke akar tanaman dan metode pertanian yang lebih presisi lainnya.

Langkah kedua adalah dengan menghapus subsidi pupuk yang terbukti lebih banyak menguntungkan para petani besar, dibanding petani kecil. Saat subsidi dihapus penggunaan nitrogen bisa lebih hemat dan efisien.

Langkah ketiga adalah menghilangkan atau mengurangi proses pengolahan lahan yang mampu mencegah erosi dan hilangnya nutrisi tanah akibat erosi. Sebagai gantinya bisa dilakukan rotasi tanaman yang mampu memerbaiki kondisi nitrogen dalam tanah sekaligus menghemat pupuk tanaman sebagai bagian dari upaya konservasi.

Langkah keempat adalah dengan mendaur ulang nutrisi yang terbuang di saluran pembuangan air di wilayah industri maupun rumah tangga sehingga bisa digunakan lagi oleh industri pertanian. Berbagai teknologi baru di negara maju sudah memungkinkan proses ini, sementara negara miskin masih memerlukan bantuan untuk mengurangi polusi nutrisi baik dari rumah tangga maupun industri.

Redaksi Hijauku.com