Running in Toronto - Wikimedia Commons (500x333)Kualitas udara kota-kota dunia terus menurun. Laporan terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, sebagian besar kota-kota dunia yang mengawasi polusi luar ruang, gagal memenuhi standar batas aman WHO. Kondisi ini membawa risiko kesehatan seperti penyakit gangguan pernafasan dan penyakit lain di masyarakat.

WHO mengumpulkan data kualitas udara dari 1600 kota di 91 negara, naik 500 kota dari data sebelumnya (2011). Menurut laporan WHO, hanya 12% dari kota-kota tersebut yang menikmati kualitas udara sesuai dengan standar WHO. Separuh dari 1600 kota tersebut bahkan memiliki udara dengan kualitas 2,5 kali lipat lebih buruk dari batas aman WHO.

Dari data yang diperoleh WHO terungkap, polusi udara di kota-kota dunia terus memburuk dari tahun ke tahun. Banyak faktor yang memicu kondisi ini, termasuk ketergantungan akan bahan bakar fosil, penggunaan pembangkit listrik tenaga batu bara, penggunaan mobil-mobil pribadi, gedung-gedung yang tidak efisien energi dan penggunaan biomassa untuk pemanas dan memasak.

Menurut WHO, solusi atas memburuknya polusi udara tersedia. Sejumlah kota berhasil menciptakan kemajuan dengan jalan melarang pemakaian batu bara dan beralih ke energi terbarukan atau energi yang lebih bersih guna memoduksi listrik, serta dengan meningkatkan efisiensi bahan bakar mesin atau kendaraan bermotor.

Menurut data terbaru yang diterbitkan WHO pada April 2014, polusi udara bertanggung jawab atas 3,7 juta kematian penduduk berusia di bawah 60 tahun pada 2012. WHO juga menegaskan bahwa polusi udara dalam dan luar ruang adalah salah satu sumber masalah kesehatan terbesar di dunia.

“Kita tidak bisa membeli udara bersih (sebagaimana air) dalam kemasan, namun kota bisa mengambil langkah-langkah guna membersihkan udara dan menyelamatkan nyawa penduduknya,” ujar Dr Carlos Dora dari WHO sebagaimana dikutip dalam berita resmi WHO.

Langkah-langkah tersebut diantaranya adalah dengan memastikan setiap rumah menerapkan efisiensi energi dan pembangunan kota yang mendorong penggunaan transportasi umum dan aktif seperti bersepeda atau berjalan kaki.

Jika langkah-langkah tersebut diterapkan, kota, menurut WHO, tidak hanya bisa meningkatkan pembangunan ekonomi namun juga memimpin peralihan ke gaya hidup yang hijau dan sehat.

Redaksi Hijauku.com