SIARAN PERS – Peluncuran Buku Panduan Pemanfaatan Panas Bumi di Kawasan Hutan

Jakarta (12/12) – Untuk mendorong pemanfaatan panas bumi, maka dibutuhkan sebuah panduan keberlanjutan dalam pemanfaatannya, terutama dalam kawasan hutan. Hari ini WWF-Indonesia meluncurkan buku ‘Panduan Kelestarian Ekosistem untuk Pemanfaatan Panas Bumi’ di Hotel JW. Marriot, Mega Kuningan. Buku panduan ini dirumuskan dengan memperhatikan tipologi ekosistem hutan dengan pendekatan baseline kesehatan ekosistem sehingga dapat diterapkan pada berbagai kondisi hutan.

Penyediaan listrik di Indonesia bergantung pada pembangkitan dengan menggunakan bahan bakar fosil. Di tahun 2012, berdasarkan data PLN, 89% dari 200.317,57 GWh produksi listrik Indonesia datang dari pembakaran minyak bumi dan batu bara. Ketergantungan ini tidak hanya akan memberikan tekanan subsidi dalam APBN namun berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca (GRK). Dengan situasi ini, pemanfaatan energi terbarukan adalah mutlak. Indonesia adalah negara dengan potensi energi panas bumi terbesar di dunia. Indonesia hingga tahun 2012 baru memanfaatkannya untuk listrik sebesar 1341 MW dari total 32.901 MW.

Data Kementerian Kehutanan (2012) mengindikasikan potensi energi panas bumi Indonesia sekitar 70% berasosiasi dengan kawasan hutan. Sebagian dari potensi dalam kawasan hutan ini berada di wilayah hutan lindung dan hutan konservasi. Peraturan perundangan yang berlaku saat ini mengatur sektor kehutanan (UU No. 41/1999) dan panas bumi (UU No. 27/2007) tidak memungkinkan pengembangan panas bumi di dalam hutan konservasi.

Budi Wardhana, Direktur Kebijakan, Keberlanjutan dan Transformasi WWF Indonesia, mengatakan “Panduan ini kami rumuskan untuk menjadi acuan bagi upaya pengembangan dan pemanfaatan panas bumi di kawasan hutan agar tetap dapat menjaga kelestarian ekosistem. WWF berharap lebih banyak lagi listrik yang berasal dari energi panas bumi yang dikelola dengan memperhatikan nilai-nilai penting konservasi dan kepentingan sosial masyarakat”.

Panduan WWF tersebut menjelaskan prinsip, kriteria dan indikator yang mencakup aspek keberlanjutan produksi panas bumi, kemantapan fungsi kawasan hutan, keberlanjutan fungsi ekologi ekosistem hutan dan keberlanjutan fungsi sosial ekonomi budaya ekosistem hutan.

Fungsi ekologi ekosistem hutan di dalam panduan ini dilihat dari karakter biologis ekosistem, seperti keberadaan jenis fauna dan flora penting (endemik, langka dan terancam punah), dan karakter fisik, seperti tutupan lahan, intensitas hujan, dan fisiografi lahan (bentuk lahan, kelerengan, ketinggian).

Rida Mulyana, Direktur Jenderal Energi Baru dan Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, menyampaikan “Kementerian ESDM menyambut baik inisiatif WWF ini. Kelestarian ekosistem hutan pada prinsipnya adalah faktor penting untuk mendukung keberlanjutan usaha panas bumi” Lebih lanjut lagi beliau menegaskan, “Sebagai pemangku kebijakan, Kementerian ESDM perlu mempercepat dan mewujudkan pengembangan panas bumi yang berkelanjutan dengan mengintegrasikan pertimbangan lingkungan ke dalam regulasi panas bumi”.

Penerapan prinsip, kriteria dan indikator dalam panduan WWF ini dalam pengembangan dan pemanfaatan energi panas bumi diharapkan membantu pengembang panas bumi dalam mengidentifikasi potensi dampak dalam setiap tahapan, menghindari kegiatan yang mengganggu fungsi kawasan dan tujuan pengelolaan hutan serta memperkuat upaya perlindungan kawasan hutan.

-o0o-

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

Indra Sari Wardhani, Ring of Fire Coordinator, WWF-Indonesia – Email: iwardhani@wwf.or.id, Hp: +62 811 1847095

Catatan untuk Editor:

– FOTO-foto resolusi tinggi acara peluncuran buku panduan pemanfaatan panas bumi, dapat diunduh melalui link http://bit.ly/rofbook, dan dapat digunakan dengan mencantumkan copyright ©WWF-Indonesia.

– Buku ‘Panduan Kelestarian Ekosistem untuk Pemanfaatan Panas Bumi’ dapat diunduh melalui link: http://bit.ly/rofreport.

– Siaran pers ini juga dapat diakses di situs resmi WWF-Indonesia melalui link: http://bit.ly/rofevent.