Hutan hujan Amazon lebih tahan terhadap kondisi kekeringan dari yang sebelumnya diperkirakan.

Hal ini terungkap dari penelitian terbaru dari University of Exeter dan Colorado State University yang dirilis baru-baru ini.

Dengan menggunakan pemodelan komputer, para peneliti menyimpulkan, jika disertai dengan program konservasi, hutan hujan Amazon akan lebih tahan terhadap kondisi kekeringan dibanding perkiraan sebelumnya.

Banyak pemodelan iklim yang lupa memasukkan unsur kelembapan dalam memrediksi reaksi tanaman terhadap kekeringan atau kondisi kekurangan air.

Hutan menurut tim peneliti bisa mendaur ulang kelembapan saat terjadi kekeringan. Dalam penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Climate ini, tim peneliti menghilangkan faktor kekurangan air yang kurang realistis dan menemukan bahwa hutan bisa mendaur ulang kelembapannya sendiri. Kelembapan ini cukup untuk mengurangi dampak kekeringan.

Menurut Dr Anna Harper, peneliti dari University of Exeter, hasil ini menunjukkan bahwa hutan hujan tidak hanya bisa bertahan terhadap kondisi kekeringan lebih lama dibanding yang diperkirakan sebelumnya, namun juga bisa mengurangi intensitas atau waktu kekeringan itu sendiri.

“Daur ulang kelembapan bekerja dengan efektif di wilayah hutan alami yang luas. Sehingga upaya untuk melindungi hutan hujan Amazon sangat penting untuk memastikan proses alami ini tidak terganggu saat menghadapi kondisi yang lebih kering pada masa datang.”

Daur ulang kelembapan juga mencakup siklus hujan secara penuh – yang berasal dari kelembapan tanah yang menguap ke udara, membentuk awan dan hujan.

Proses ini tidak hanya tergantung pada air yang menguap dari tanah namun juga air yang mengalir melalui tanaman, dari akar ke dedaunan. Proses daur ulang kelembapan ini adalah pemicu penting terjadinya hujan di hutan Amazon. Sekitar sepertiga dari curah hujan tahunan di hutan Amazon bagian selatan berasal dari proses daur ulang kelembapan ini.

Proses ini bergantung pada kemampuan tanaman mengakses kelembapan tanah. Saat terjadi kekeringan parah, kemampuan pohon mengakses dan menggunakan kelembapan tanah mencapai puncaknya.

Dalam berbagai model ekosistem, kemampuan tanaman mencapai batas dalam menggunakan kelembapan tanah terjadi terlalu cepat.

Sementara dalam kenyataannya proses daur ulang kelembapan bisa meningkat saat terjadi kekeringan yang bisa memicu terciptanya kelembapan baru bahkan memicu hujan.

Kondisi ini mengurangi beban kekurangan air pada tanaman di hutan. Hal inilah yang memicu tim peneliti memasukkan unsur kelembapan pada musim kering dalam model penelitian terbaru mereka.

Redaksi Hijauku.com