Oyster Baskets - Wikimedia CommonsKeasaman air laut akan meningkat hingga 170% pada akhir abad ini, mengganggu kehidupan kerang-kerangan, merusak terumbu karang, termasuk terumbu karang yang ada di perairan dingin. Hal ini terungkap dari laporan terbaru International Geosphere-Biosphere Programme (IGBP) yang dirilis Kamis (14/11).

Kerusakan akibat kenaikan tingkat keasaman air laut ini akan membawa kerugian besar bagi perekonomian penduduk, terutama di negara-negara berkembang yang mengandalkan mata pencaharian mereka dari laut.

Laporan ini merupakan kumpulan kajian dari para ahli yang berkumpul dalam Symposium on the Ocean in a High CO2 World Ketiga di Monterey, California pada bulan September 2012 dan dihadiri oleh 540 ahli dari 37 negara. Tim ahli menyimpulkan – dengan tingkat keyakinan yang sangat tinggi – bahwa dunia saat ini mengalami kondisi peningkatan keasaman air laut.

Kesimpulan ini akan disampaikan di Konferensi Perubahan Iklim (COP) ke-19 di Warsawa, Polandia, besok Senin (18/11) untuk menjadi panduan bagi para pembuat kebijakan perubahan iklim.

Ulf Riebesell salah seorang peneliti dari GEOMAR Helmholtz Centre for Ocean Research Kiel menyatakan: “Dunia harus bersiap menderita kerugian, tidak hanya ekonomi namun juga jasa lingkungan akibat peningkatan keasaman air laut. Kondisi ini bisa dicegah dengan memerlambat dan mengurangi konsentrasi emisi CO2. Inilah pesan utama yang akan kami sampaikan di COP19.”

Menurut Wendy Broadgate, Deputi Direktur IGBP, pengurangan emisi hanyalah salah satu aspek yang mampu melindungi terumbu karang dan organisme laut, masih ada aspek lain yang harus diperhatikan yaitu munculnya zona-zona mati karena minimnya kandungan oksigen, polusi dan eksploitasi sumber daya perikanan yang menekan ekosistem kelautan.

Ketiga masalah terakhir ini menurut Wendy juga terkait dengan peningkatan konsentrasi emisi CO2. “Sehingga upaya mengurangi emisi CO2 yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, semakin penting, bersama dengan upaya-upaya lain untuk menjaga ekosistem kelautan,” tuturnya.

Tim peneliti dengan tingkat keyakinan yang sangat tinggi (very high confidence) menyimpulkan lima hal: Pertama, peningkatan keasaman air laut dipicu oleh ulah manusia yang melepaskan emisi CO2. Emisi CO2 ini kemudian berakhir di samudra.

Kedua, kapasitas penyerapan karbon oleh samudra akan menurun saat kondisi samudra semakin asam. Ketiga, mengurangi konsentrasi emisi CO2 akan memerlamban proses peningkatan keasaman air laut. Keempat, peningkatan keasaman air laut akibat ulah manusia saat ini terus berlangsung dan bisa diukur. Kelima, warisan emisi CO2 dari pembakaran bahan bakar fosil akan terus dirasakan oleh samudra dalam berabad mendatang.

Redaksi Hijauku.com