Emissions vs Subsidy - ODITaifun Haiyan baru saja mememorakporandakan Filipina. Korban tewas mencapai ribuan jiwa. Hampir tidak ada bangunan di lokasi bencana yang selamat. Kota-kota yang diterjang topan Haiyan bagaikan tempat pembuangan sampah raksasa. Sisa bangunan, peralatan rumah tangga hingga mobil berserakan, bagai mainan anak-anak.

Saat bencana melanda, terkadang kita lupa bertanya, apa penyebabnya. Karena dalam lingkup keilmuwan tak banyak lagi yang bisa diperdebatkan. Konsensus ilmiah mengenai pemanasan global telah tercapai. IPCC juga telah menegaskan bahwa manusia adalah pemicu pemanasan global dan perubahan iklim. Krisis iklim inilah yang telah memicu cuaca ekstrem seperti yang terjadi di Filipina. Bahkan tahun lalu konsentrasi emisi gas rumah kaca telah mencetak rekor baru.

Namun upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca terkendala oleh ketergantungan (addiction) negara terhadap bahan bakar fosil, bahkan ketika mereka sudah mengetahui – melalui bukti-bukti ilmiah – bahwa pembakaran bahan bakar fosil adalah penyumbang utama emisi gas rumah kaca penyebab pemanasan global dan perubahan iklim.

Bukti ketergantungan dunia terhadap bahan bakar fosil ini adalah besarnya fasilitas subsidi yang diberikan terhadap bahan bakar fosil. Yang mengerdilkan upaya mengatasi pemanasan global dan perubahan iklim, menguras anggaran belanja pemerintah sekaligus mencabut nyawa, merusak iklim dan lingkungan sekitar. Hal ini terungkap dalam laporan terbaru berjudul “Time to change the game” yang dirilis oleh Overseas Development Institute (ODI), Kamis, (7/11).

Social Costs - Fossil Fuel Subsidies - ODISubsidi bahan bakar fosil juga gagal dinikmati oleh mereka yang paling memerlukan yaitu masyarakat miskin. Sehingga memangkas subsidi bahan bakar fosil akan menciptakan skenario yang saling menguntungkan bagi iklim dan anggaran negara. Aksi ini juga akan menekan kenaikan emisi, mengundang investasi serta mengurangi tekanan pada kebutuhan pendanaan pemerintah.

Menurut data International Energy Agency (IEA) terakhir, subsidi untuk produsen bahan bakar fosil jumlahnya mencapai $523 miliar pada 2011. Jumlah ini hanyalah satu bagian kecil dukungan pemerintah untuk aktivitas yang mengeksploitasi sumber daya alam yang nilainya mencapai $1 triliun.

Data IEA menyatakan, setiap $1 yang dikeluarkan untuk mendukung energi terbarukan, pemerintah memberikan subsidi untuk energi fosil sebesar $6. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memerkirakan, setiap negara anggotanya menghabiskan dana $55-90 miliar per tahun dalam berbagai bentuk subsidi bahan bakar fosil.

Jika pemerintah benar-benar memiliki komitmen untuk mencegah krisis iklim yang destruktif seperti di Filipina dan mencegah kenaikan suhu bumi di atas 2 derajat Celcius, tidak ada jalan lain selain membuat mereka yang mengeluarkan emisi karbon membayar lebih mahal dan menghapus subsidi bahan bakar fosil untuk dipakai bagi kepentingan yang lebih tepat sasaran.

Redaksi Hijauku.com