Fossil fuel power station - Wikimedia CommonsBatas emisi karbon yang diperlukan untuk menjaga kenaikan suhu bumi di bawah 2°C akan terlampaui dalam waktu 21 tahun atau pada 2034. Hal ini terungkap dalam laporan PwC terbaru yang dirilis Sabtu (2/11). Sebelumnya, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memerkirakan, sisa “anggaran” emisi karbon ini baru akan habis dalam waktu 89 tahun atau pada 2100.

Dengan prediksi produksi emisi yang jauh lebih cepat, menurut PwC, dunia kini tengah menuju kenaikan suhu bumi sebesar 4°C pada 2100. Ini adalah skenario terburuk yang disampaikan IPCC dalam laporannya yang ke-5 yang dirilis bulan lalu.

Laporan PwC berjudul “Low Carbon Economy Index” ini menganalisis kenaikan emisi karbon berdasarkan pertumbuhan ekonomi (per unit produk domestik bruto/PDB) yang diperlukan untuk mencegah kenaikan pemanasan global di bawah 2°C.

Menurut PwC, kenaikan suhu bumi yang diperkirakan mencapai 4°C pada 2100 akan menimbulkan dampak yang serius dan sangat luas pada sektor bisnis dan investasi. Untuk itu, perusahaan perlu memertimbangkan risiko ini dalam pembuatan kebijakan mereka.

Menurut PwC, kebijakan dan investasi pada teknologi rendah karbon yang dimiliki dunia saat ini gagal memutuskan rantai antara pertumbuhan ekonomi dan peningkatan emisi karbon. Bauran energi dunia masih terus didominasi oleh bahan bakar fosil.

Pengurangan intensitas (produksi) emisi karbon baru mencapai rata-rata 0,7% per tahun dalam lima tahun terakhir. Diperlukan intensitas pengurangan emisi sebesar 6% per tahun hingga 2100 untuk menjaga peningkatan suhu bumi di bawah 2°C.

Menurut PwC, tujuh negara industri terbesar yang tergabung dalam G7 yaitu Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Inggris, Prancis, Italia dan Kanada, rata-rata berhasil mengurangi emisi sebesar 2.3%. Sementara tujuh negara berkembang yaitu China, India, Brazil, Meksiko, Russia, Indonesia dan Turki rata-rata hanya mampu mengurangi emisi sebesar 0,4%.

Amerika Serikat, Australia dan Indonesia menurut PwC berhasil mengurangi emisi karbon dalam jumlah yang signifikan pada 2012. Namun prestasi ini tidak diikuti oleh negara-negara lain. Diperlukan tekad yang lebih kuat agar dunia mampu mengurangi emisi dan menekan kenaikan suhu bumi di bawah 2°C pada 2100.

Redaksi Hijauku.com