Beautiful wind turbine - epSos .deEnergi angin berpotensi memasok hampir seperlima (18%) energi dunia pada 2050, naik dari hanya 2,6% saat ini. Hal ini terungkap dari laporan International Energy Agency terbaru yang dirilis Senin (21/10).

Laporan berjudul “Technology Roadmap: Wind Energy – 2013 Edition” ini menyatakan kapasitas energi angin yang saat ini mencapai 300 Gigawatts (GW) akan naik delapan hingga sepuluh kali lipat. Investasi di energi angin yang mencapai lebih dari $78 miliar pada 2012, akan terus meningkat hingga $150 miliar per tahun.

Laporan yang pertama kali diterbitkan pada 2009 ini meramalkan penetrasi energi angin yang lebih besar dari 12% pada 2050, naik dari perkiraan pada laporan pertama.

Asia akan menjadi pusat energi bersih dunia. China akan melampaui negara-negara anggota OECD di Eropa dan menjadi produsen energi angin utama pada 2020 atau 2025. Amerika Serikat akan menduduki posisi ketiga.

Skenario peralihan ke energi angin ini akan mengurangi emisi CO2 sebesar 4,8 Gigaton per tahun pada 2050. China akan menikmati pengurangan emisi terbesar. Pengurangan ini setara dengan jumlah emisi tahunan yang diproduksi oleh negara-negara Uni Eropa.

Kesuksesan energi angin ini tidak lepas dari inovasi dan perkembangan teknologi energi angin yang sangat pesat dibantu oleh perubahan prioritas energi global yang lebih memilih energi yang bersih dan terbarukan.

Turbin angin menjadi semakin tinggi, kuat dan ringan. Kipas pada turbin angin juga semakin cepat sehingga memroduksi lebih banyak energi bahkan dalam kecepatan angin yang rendah. Kemajuan teknologi ini memungkinan turbin angin untuk dibangun dimana saja tidak hanya di pegunungan atau di sepanjang garis pantai sehingga lebih mudah terintegrasi ke jaringan listrik.

Harga turbin angin juga semakin kompetitif dibanding sumber energi alternatif lain. Di sejumlah negara seperti Brasil, energi angin mengalahkan bahan bakar fosil sebagai energi alternatif masa depan. Hal ini karena harga bahan bakar fosil diperkirakan akan terus naik dari tahun ke tahun. Walau energi angin lepas pantai masih mahal dan sulit diterapkan, namun potensinya sangat besar pada masa datang. Menurut laporan IEA, pada 2050, biaya produksi energi angin akan berkurang sebesar 25% di darat dan 45% di lepas pantai. Angin menurut laporan sebelumnya juga diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan energi dunia pada masa datang.

Sejumlah negara di Eropa bahkan telah berhasil meningkatkan bauran energi angin mereka antara 15% hingga 30% dibantu oleh tuntutan masyarakat untuk beralih ke energi bersih, fasilitas interkoneksi, visi jangka panjang dan teknologi penyimpanan energi angin yang semakin canggih. Indonesia jangan mau ketinggalan untuk beralih ke energi angin.

Redaksi Hijauku.com