Oil pipeline - shannonpatrick17Efisiensi energi memiliki manfaat ekonomi yang setara dengan manfaat energi terbarukan dan bahan bakar fosil. Aksi efisiensi energi mampu menarik investasi sebesar $300 miliar pada 2011, setara dengan investasi di energi terbarukan dan energi fosil.

Hal ini terungkap dalam laporan International Energy Agency (IEA) berjudul Energy Efficiency Market Report yang dirilis Rabu (16/10).

“Selama ini efisiensi energi dikenal sebagai ‘bahan bakar alternatif’ yang tersembunyi dari pengamatan kita,” ujar Direktur Eksekutif IEA, Maria van der Hoeven. “Kini, manfaat efisiensi energi sedemikian besar, sehingga efisiensi energi tak lagi menjadi ‘bahan bakar tersembunyi’ namun menjadi bahan bakar utama (pertumbuhan ekonomi) dunia,” tuturnya.

Menurut data IEA, manfaat kumulatif dari aksi efisiensi energi ini sangat besar. Pada periode 2005 hingga 2010, aksi efisiensi yang dilakukan oleh 11 negara IEA telah menghemat minyak senilai $420 miliar.

Tanpa aksi efisiensi energi, negara-negara ini akan mengonsumsi – dan mengeluarkan biaya – 66% (dua per tiga) lebih banyak. Di Asia Tenggara permintaan energi diperkirakan akan meningkat 80% pada 2035.

Pada 2010, manfaat penghematan energi di 11 negara anggota IEA ini melebihi manfaat ekonomi dari bahan bakar manapun di bumi. Dipicu oleh perbaikan efisiensi yang telah berlangsung sejak 1974, aksi efisiensi energi mampu mencegah pembakaran 1,5 miliar ton setara minyak. Pada tahun yang sama, ke-11 anggota IEA mengonsumsi 1 miliar ton setara minyak, sehingga energi yang mereka hemat lebih besar dari energi yang dikonsumsi.

Ada beberapa faktor yang meningkatkan aksi efisiensi energi yaitu kebijakan yang efektif dan harga energi yang semakin tinggi.

Kebijakan energi yang efektif meliputi penetapan standar efisiensi energi, pelabelan konsumsi energi (labelling), akses terhadap pengukuran kinerja dan pendanaan energi serta penetapan kewajiban efisiensi energi terhadap para pemasok. Sementara harga energi yang semakin tinggi mendorong negara untuk berhemat.

IEA juga menyadari, ada beberapa hal yang berpotensi merusak aksi efisiensi energi ini. Yaitu ketiadaan sistem harga di pasar energi yang dinamis, subsidi bahan bakar fosil, biaya transaksi yang tinggi, kesenjangan informasi dan kurangnya kemampuan institusi. Hal ini bisa diatasi salah satunya melalui bantuan teknologi informasi.

Bersama dengan berbagai aksi peralihan ke energi bersih dan terbarukan, aksi efisiensi energi akan mendatangkan manfaat ganda bagi iklim dan ekonomi. Sebanyak 20 negara – termasuk Indonesia – mengonsumsi 80% energi dunia. Mari menghemat energi mulai saat ini.

Redaksi Hijauku.com