Couverture Turning the Tide On Climate Change - Wikimedia CommonsJurnalis diharapkan mampu menuturkan risiko sekaligus solusi, tak hanya bercerita soal bencana perubahan iklim. Bahasa yang dipakai peneliti bisa membantu mewujudkan hal ini.

Penelitian Reuters Institute for the Study of Journalism (RISJ) mengungkapkan, 82% artikel mengenai perubahan iklim selalu bercerita tentang bencana dan ketidakpastian. Sementara artikel yang bercerita secara eksplisit tentang risiko perubahan iklim dan kebijakan yang bisa diambil untuk mengatasinya hanya sekitar 26%.

Hal ini terungkap dalam buku berjudul Climate Change in the Media: Reporting Risk and Uncertainty, yang menganalisis 350 artikel tentang perubahan iklim antara tahun 2007 dan 2012 di enam negara yaitu Inggris, Perancis, Australia, India, Norwegia dan Amerika Serikat.

Penelitian ini menyimpulkan, perlunya perubahan narasi dan atribusi model perubahan iklim dalam laporan-laporan ilmiah sehingga jurnalis mampu menulis cerita yang lebih bermanfaat guna membantu mengatasi risiko perubahan iklim pada masa datang.

Artikel-artikel yang dianalisis diantaranya adalah dua laporan pertama Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada 2007; laporan IPCC terkait cuaca ekstrem pada 2012; dan situasi mencairnya es di laut Arktika yang terjadi baru-baru ini.

Para peneliti menemukan, jurnalis cenderung mengikuti bahasa yang dipakai para ilmuwan dalam laporan mereka. Sekitar 70% artikel terkait laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), dan hampir 60% dari artikel yang diteliti, menggunakan apa yang disebut oleh para peneliti sebagai “narasi bencana”. Hampir separuh dari artikel juga memakai kutipan yang mengesankan ketidakpastian.

Temuan ini tampaknya dipahami oleh IPCC ketika baru-baru ini mengeluarkan laporan yang menyatakan bahwa manusia adalah faktor utama penyebab pemanasan global dan perubahan iklim. Ilmuwan IPCC mengungkap temuan ini dengan tingkat keyakinan 95%.

Dengan mengurangi kadar ketidakpastian dan narasi bencana dalam artikel perubahan iklim, laporan ini menyimpulkan, jurnalis bisa membantu masyarakat memahami perubahan iklim. Aksi ini juga bisa menyuntikkan optimisme serta mendorong debat positif mengenai inovasi (misal inovasi energi bersih), teknologi dan upaya pemberdayaan masyarakat, guna bersama-sama menjadi solusi atasi krisis iklim.

Redaksi Hijauku.com