Slider - Paul NickPanel internasional yang beranggotakan ilmuwan kelautan dari berbagai negara menuntut dunia untuk mengembalikan kesehatan lautan yang saat ini menurun lebih cepat, lebih parah dan lebih nyata dari yang diperkirakan sebelumnya.

Hal ini terungkap dalam laporan terbaru International Programme on the State of the Ocean (IPSO)/IUCN yang diterbitkan kemarin, Kamis (3/10). Menurut penelitian IPSO, tingkat kerusakan lautan saat ini lebih dahsyat dari dampak kerusakan akibat penyerapan suhu bumi dan peningkatan emisi CO2 yang dilaporkan IPCC minggu lalu.

Menurut IPSO, konsentrasi oksigen di samudra terus menurun akibat perubahan iklim dan polusi nitrogen. Jika polusi kimiawi lain serta praktik eksploitasi perikanan turut diperhitungkan, fungsi lautan sebagai benteng terakhir penyerapan emisi CO2 penyebab perubahan iklim dan pemanasan global akan semakin terpuruk.

Penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal “Marine Pollution Bulletin” ini juga merinci, konsentrasi oksigen dalam samudra akan menurun antara 1-7% pada 2100. Penyebabnya dua hal yaitu pemanasan global dan meningkatnya polusi nutrisi dari industri pertanian serta limbah rumah tangga yang dibuang ke saluran air/selokan.

Dan saat konsentrasi emisi CO2 mencapai 450-500 PPM (yang diproyeksikan akan terjadi pada tahun 2030-2050) sejumlah spesies di laut akan punah dan keanekaragaman hayati akan rusak. Laut juga akan semakin asam. Hal ini masih ditambah dengan praktik eksploitasi sumber daya perikanan secara berlebihan yang praktiknya – menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) – telah mencapai 70% populasi ikan pada 2012.

Laporan terbaru mengenai Code of Conduct for Responsible Fisheries bahkan memberikan status “gagal” kepada 60% negara dalam sistem tata kelola perikanan mereka. Tidak ada satupun negara yang mendapatkan predikat “bagus” secara keseluruhan.

Saat ini, yang diperlukan adalah upaya mengurangi emisi C02 global guna membatasi kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat Celcius. Hal ini akan bisa diraih apabila konsentrasi emisi CO2 di atmosfer bisa ditekan di bawah 450 PPM. Target pengurangan emisi saat ini dinilai masih sangat kurang untuk memastikan keselamatan terumbu karang dan mencegah dampak biologis lain dari peningkatan keasaman air laut.

Redaksi Hijauku.com