South East Asia Map - Jeff McNeillSepuluh anggota Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN) – bersama dengan China dan India – menggeser poros sistem energi global ke Asia. Hal ini terungkap dari laporan Badan Energi Internasional (IEA) berjudul “Southeast Asia Energy Outlook” yang dirilis Rabu (2/10).

Menurut IEA, Asia Tenggara adalah wilayah dengan keragaman skala dan pola penggunaan energi dan sumber energi yang sangat tinggi. Dalam waktu kurang dari 15 tahun (sejak tahun 1990), permintaan energi di wilayah ini telah meningkat 250%.

Dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang sangat pesat – Asia Tenggara saat ini memiliki 600 juta penduduk – permintaan energi Asia Tenggara akan terus meningkat. Apalagi penggunaan energi per kapita penduduk di Asia Tenggara masih separuh dari rata-rata global.

Pertumbuhan dan permintaan energi yang terus meningkat ini membawa peluang dan tantangan tersendiri. IEA memerkirakan, permintaan energi di Asia Tenggara akan naik 80% pada 2035 – setara dengan permintaan energi Jepang saat ini. Kenaikan ini untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang mencapai tiga kali lipat dan penduduk yang mencapai rata-rata 25%.

Dalam Skenario Kebijakan Baru yang disusun IEA, permintaan minyak akan naik dari 4,4 juta barel/hari menjadi 6,8 juta barel/hari pada 2035, atau seperlima permintaan energi dunia.

Permintaan batu bara akan naik tiga kali lipat – setelah tumbuh rata-rata dua digit sejak 1990 – dalam periode 2011-2035, menyumbang 30% pertumbuhan permintaan batu bara global. Permintaan gas alam akan meningkat 80% menjadi 250 miliar meter kubik. Akibatnya, emisi CO2 yang terkait dengan energi, berlipat ganda, menjadi 2,3 Gt pada 2035.

Batu bara akan menjadi pilihan utama karena pasokan yang berlimpah dan harganya yang murah. Batu bara akan memasok separuh listrik Asia Tenggara pada 2035 – naik dari sepertiga saat ini – menggantikan gas alam dan minyak. Peralihan ini terus berlangsung. Saat ini, sebanyak 75% pembangkit listrik yang tengah dibangun semua berbahan bakar batu bara.

Indonesia akan menjadi pemasok terbesar bahan baku energi kotor ini. Kenapa energi kotor? Tingkat efisiensi pembangkit listrik bertenaga batu bara di Asia Tenggara hanya mencapai 34%! Penyebabnya adalah penggunaan teknologi yang sudah ketinggalan jaman. Produksi batu bara Indonesia akan meningkat 90%, menjadi 550 juta ton pada 2035. Indonesia akan terus menjadi salah satu produsen dan eksportir batu bara terbesar di dunia, jauh meninggalkan negara-negara Asia Tenggara yang lain.

Pada saat yang sama, perkembangan energi bersih dan terbarukan terhambat oleh besarnya subsidi untuk bahan bakar fosil, sehingga masih sulit bagi energi terbarukan untuk bersaing.

Data IEA menyebutkan, nilai subsidi bahan bakar fosil di Asia Tenggara mencapai $51 miliar pada 2012. Padahal masyarakat tidak menikmati harga bahan bakar fosil yang “murah” ini. Sebanyak 77% subsidi BBM di Indonesia tidak tepat sasaran. Hanya segelintir elit yang menikmati “subsidi” dengan berbisnis di energi kotor ini – di batu bara dan impor bahan bakar fosil.

Kesenjangan manfaat energi juga terlihat dari tingkat akses terhadap listrik. Lebih dari 130 juta penduduk atau seperlima dari populasi Asia Tenggara, masih belum memeroleh akses ke energi modern atau listrik. Tingkat akses terhadap listrik tertinggi ada di Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand dan Singapura. Sementara di Indonesia, Kamboja, Myanmar dan Filipina, tingkat akses listrik masih di bawah 75%.

Walau ketersediaan energi baru dan terbarukan melimpah, misal dari energi panas bumi, negara-negara di Asia Tenggara, menurut IEA, akan terus tergantung pada impor bahan bakar fosil yang berbiaya tinggi dan rentan terhadap gangguan pasar. Asia Tenggara akan menjadi pengimpor minyak terbesar keempat di dunia di bawah China, India dan Uni Eropa.

Ketergantungan akan minyak impor Asia Tenggara akan naik hampir dua kali lipat menjadi 75% saat impor bersih minyak naik dari 1,9 juta barel/hari menjadi 5 juta barel/hari.

Biaya yang dikeluarkan untuk impor minyak ini mencapai $240 miliar pada 2035, setara dengan 4% Produk Domestik Bruto Asia Tenggara. Dan seperti yang sudah diperkirakan, menurut data IEA, kenaikan biaya impor minyak tertinggi akan ditanggung oleh Thailand dan Indonesia – melonjak tiga kali lipat menjadi $70 miliar pada 2035.

Redaksi Hijauku.com