Beef cattle - John ComloquoyIndustri peternakan berpotensi mengurangi emisi gas rumah kaca dalam jumlah yang signifikan jika menerapkan praktik dan teknologi terbaik.

Hal ini terungkap dari laporan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) yang dirilis di Roma, Italia, Kamis (26/9). Industri peternakan telah menyokong ekonomi jutaan penduduk dunia. Namun industri ini juga menyumbang emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar.

Jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh industri peternakan mencapai 7,1 Gigaton (GT) setara CO2 (CO2-eq) per tahun atau 14,5% dari semua emisi gas rumah kaca yang diproduksi oleh manusia.

Sumber utama emisi gas rumah kaca dari industri peternakan berasal dari produksi dan pemrosesan pakan ternak (45% dari total emisi yang dihasilkan), emisi dari proses pencernaan ternak (39%), emisi dari kotoran ternak (10%) dan sisanya berasal dari pemrosesan dan transportasi produk-produk peternakan.

Laporan FAO berjudul “Tackling climate change through livestock: A global assessment of emissions and mitigation opportunities” menyatakan, industri peternakan bisa mengurangi emisi hingga 30% dan menjadi bagian dari solusi perubahan iklim.

Menurut FAO, intensitas produksi emisi gas rumah kaca sangat terkait dengan praktik efisiensi sumber daya. Semakin tinggi efisiensi, termasuk efisiensi energi, semakin besar emisi yang bisa dikurangi. Dan efisiensi sumber daya bisa dicapai dengan memberikan akses terhadap teknologi-teknologi terbaik yang selama ini telah dipakai oleh pelaku industri yang paling efisien.

Menurut FAO, perbaikan tata kelola industri peternakan ini bisa dilakukan tanpa mengubah sistem produksi. Praktik efisiensi ini juga memerlukan dukungan politik, dukungan kebijakan dan sinergi dalam aksi mengurangi emisi. Dengan memerbaiki efisiensi dan mengurangi emisi gas rumah kaca, aksi ini juga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, mewujudkan keamanan pangan, mengurangi kemiskinan, sekaligus selamatkan bumi.

Redaksi Hijauku.com