Acara Kadin Indonesia - KADINSIARAN PERS – Pekanbaru, 16 September 2013 – Peningkatan produktivitas yang berkelanjutan telah menjadi perhatian para pelaku usaha nasional dalam mendorong target pertumbuhan ekonomi yang diharapkan bisa tercapai hingga 6% sekaligus memenuhi target penurunan emisi sebesar 26% di tahun 2020.

Dalam strategi jangka panjang, misi untuk mewujudkan peningkatan produksi membutuhkan dukungan penerapan praktik berkelanjutan yang ramah lingkungan untuk memastikan adanya ketersediaan pangan. “Peningkatan produksi membawa kesejahteraan petani, tetapi strategi keberlanjutan harus dimulai dari perubahan paradigma konsumsi pangan oleh seluruh lapisan konsumen, dan ditingkatkan skala implementasinya oleh dunia usaha melalui praktik produksi dengan prinsip keberlanjutan yang jelas penting agar kesejahteraan itu bisa diperoleh sampai generasi yang akan datang,” ungkap Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim Shinta W. Kamdani.

Menurut Shinta, pemerintah memegang peranan penting untuk mendesain program edukasi secara besar-besaran dan berskala nasional tentang tuntutan perubahan pola konsumsi yang sudah tidak dapat ditawar, jika bangsa Indonesia ingin mempertahankan kemampuannya memperoleh pangan yang layak dalam jangka panjang. Sementara dari sisi Kadin Indonesia, pekerjaan rumah mereka adalah meningkatkan produktivitas petani dan seluruh rantai nilai produksi pangan dengan mendorong inovasi bagi ketahanan pangan nasional. Disamping itu tentang perbaikan tata kelola lahan harus menjadi bentuk pekerjaan bersama antara Kadin dan Pemerintah Indonesia. “Penyelesaian masalah kerusakan lahan harus komprehensif, sehingga perlu pendekatan-pendekatan yang inovatif untuk tata kelola lahan yang berdasarkan azas keberlanjutan, dan bukan hanya prinsip lingkungan semata dan mengabaikan potensi pertumbuhannya,” ungkap Shinta.

“Prinsip produktivitas dan sustainability harus menjadi komitmen bersama, tidak hanya bagi pelaku usaha saja tetapi juga semua pihak, mulai dari masyarakat tak terkecuali pemerintah,” Pihaknya sedang gencar mendorong optimisme swasembada pangan yang kompetitif di tengah fenomena defisit pangan yang dialami Indonesia akhir-akhir ini. “Produktivitas dan efisiensi produksi harus terus ditingkatkan baik on farm maupun off farm, begitu pula dengan program diversifikasi pangan harus tetap dijalankan,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Agribisnis dan Pangan Franky O. Widjaja.

Di sisi lain, sejumlah komoditas strategis memerlukan inovasi pembiayaan untuk merealisasikan produktivitas ideal seperti yang diharapkan. Seperti kisah sukses komoditas kelapa sawit dengan program Inti-Plasma yang merupakan pola kemitraan antara petani dan pelaku usaha yang didukung Pemerintah dan World Bank, telah terbukti menjadikan Indonesia unggul sebagai produsen kelapa sawit nomor satu di dunia. “Terobosan inovatif pembiayaan perlu dikembangkan untuk komoditas lainnya,” ungkap Franky.

Jalur keuangan pertanian, perlu dievaluasi agar menjadi lebih baik dan terarah. Skema-skema baru yang cocok bisa diterapkan misalnya dengan resi gudang atau inovasi pembiayaan melalui lembaga non bank yang khusus ke pertanian. “Kedepan perlu juga adanya sinergi antara kebijakan makro dengan praktik-praktik usaha mikro, demikian halnya dengan pola Inti-Plasma,” jelas Franky.

Pihaknya juga mengaku, saat ini tengah merancang paket inovasi pembiayaan agribisnis untuk petani sawit, sebagai prototipe untuk dikembangkan lebih lanjut di berbagai komoditas dengan lingkup yang lebih besar, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dengan mengacu pada program 10 Years Sustainable Consumption and Production (SCP). Dalam Program 10 Years Sustainable Consumption and Production (SCP) Kadin Indonesia melalui Bidang Lingkungan Hidup, Perubahan Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan (LHPIPB) akan bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup yang menjadi focal point dari pemerintah Indonesia.

Indonesia tidak hanya sebagai salah satu produsen terbesar dan eksportir sumber daya alam, tetapi juga sebagai konsumen terbesar dengan jumlah penduduk ke empat terbesar di dunia. “Indonesia adalah rumah bagi pemodal, produsen, pengolah dan pembeli dalam rantai ekonomi, tak hanya domestik tetapi juga memasok pasar luar negeri. Oleh karenanya, isu lingkungan dan keberlanjutan harus diperhatikan dengan cermat,” kata Shinta.

Shinta mengatakan bahwa tugas pokok bidangnya adalah berkoordinasi dengan seluruh bidang sektoral di Kadin Indonesia untuk mencari keseimbangan antara pembangunan ekonomi, keamanan pangan yang memperhatikan aspek lingkungan untuk kesejahteraan sosial masyarakat di negara yang padat penduduknya seperti Indonesia. “Pelaku usaha berupaya untuk tetap memenuhi pasokan dan kompetitif, namun demikian secara bersamaan kita juga turut serta menciptakan kondisi yang diperlukan untuk penggunaan lahan yang berkelanjutan,” ungkap Shinta.

Tentang Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia merupakan organisasi yang menjadi payung bagi dunia usaha Indonesia. Berdasarkan UU No.1 tahun 1987, Kadin Indonesia adalah satu-satunya organisasi yang mewadahi para pengusaha Indonesia dan landasan operasional kegiatannya berpedoman pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Kadin yang disahkan dengan Keputusan Presiden RI, terakhir dengan Keppres No. 17 Tahun 2010. Kadin didirikan pada 24 September 1968 dan diatur dalam Undang-undang Nomor 1 tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan Industri yang difokuskan pada segala hal yang berkaitan dengan perdagangan, industri dan jasa, dan sangat berkomitmen untuk menekan potensi dan sinergi dari perekonomian nasional, menawarkan sebuah forum strategis bagi pengusaha Indonesia.

Informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

KADIN INDONESIA

Bidang Agribisnis dan Pangan

Bidang Lingkungan Hidup, Perubahan Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan

H.R. Rasuna Said X-5, Kav. 2-3, Jakarta 12950

Telp. : 6221 5274484