Marine Mentors Afghan SoldiersPeningkatan temperatur atau pergeseran curah hujan – walau sedikit – dapat memperbesar risiko konflik dan perilaku kekerasan di seluruh dunia. Kesimpulan ini terungkap dari penelitian terbaru tim University of California, Berkeley dan Princeton University yang dirilis Kamis (1/8). Hasil penelitian ini juga telah diterbitkan di jurnal Science pada hari yang sama.

Tim peneliti dari UC Berkeley menyatakan, ada keterkaitan kuat antara pemanasan global, kekerasan, serta stres yang selama ini belum banyak dikaji dalam penelitian konflik. Menggunakan lebih banyak data dibanding penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian ini menganalisis semua negara besar di dunia.

Hasilnya, tim peneliti menyimpulkan, peran iklim di bumi terhadap kehidupan manusia semakin signifikan dibanding yang sebelumnya diperkirakan. Tim peneliti menemukan pola konflik perubahan iklim yang serupa di seluruh dunia.

Konflik-konflik tersebut dipicu oleh kondisi kekeringan dan kenaikan suhu rata-rata tahunan yang lebih tinggi dari perkiraan.

Contoh konflik yang telah terjadi selama ini adalah merebaknya kekerasan rumah tangga di India dan Australia; peningkatan serangan dengan kekerasan dan pembunuhan di Amerika Serikat dan Tanzania; kekerasan etnis di Eropa dan Asia Selatan; invasi lahan di Brasil; kekerasan polisi di Belanda; konflik di seluruh negara tropis hingga runtuhnya kerajaan China dan kebudayaan suku Maya.

Berbagai model perubahan iklim telah meramalkan, suhu bumi akan naik setidaknya 2 derajat Celsius dalam 50 tahun ke depan. Penelitian ini berperan penting dalam memahami dampak perubahan iklim terhadap kehidupan masyarakat pada masa datang.

Penelitian ini menggunakan berbagai macam pendekatan termasuk pendekatan klimatologi, arkeologi, ekonomi, ilmu politik dan psikologi guna memberikan gambaran yang lebih komprehensif cara perubahan iklim memicu konflik dan kekerasan antar manusia.

Tim peneliti juga menganalisis berbagai aspek iklim seperti curah hujan, kekeringan dan suhu dan keterkaitan mereka dengan tiga kategori konflik dunia.

Ketiga kategori konflik tersebut meliputi: Pertama, kejahatan dan kekerasan personal, seperti pembunuhan, penyerangan, pemerkosaan dan kekerasan dalam rumah tangga. Kedua, kekerasan dan ketidakstabilan politik antar kelompok, yang meliputi kerusuhan, perang sipil, kekerasan etnis hingga invasi lahan. Ketiga, kagagalan institusi atau lembaga seperti perubahan besar pada pemerintahan hingga runtuhnya sebuah kebudayaan.

Hasilnya, dari 27 penelitian terhadap masyarakat modern, semuanya ditemukan keterkaitan antara suhu tinggi dan meluasnya aksi kekerasan.

“Saat suhu semakin panas, meningkat 1 standar deviasi, risiko kekerasan personal akan naik 4% sementara risiko konflik antar golongan akan naik 14%,” ujar Marshall Burke, ilmuwan dan kandidat doktor dari Department of Agricultural and Resource Economics, UC Berkeley yang turut menyusun laporan ini.

Penelitian ini juga menyimpulkan – walaupun iklim bukan pemicu utama terjadinya konflik – saat suhu bumi naik 2 derajat Celsius, risiko konflik antar kelompok seperti perang saudara akan meningkat lebih dari 50% di berbagai belahan dunia. Penemuan inilah yang semakin menempatkan perubahan iklim sebagai aspek penting dalam menganalisis konflik dan kekerasan pada masa datang.

Redaksi Hijauku.com