Masyarakat di negara maju makin panjang umur dan sehat, namun risiko kesehatan baru muncul dari produk, bahan kimia serta perubahan gaya hidup masyarakat. Hal ini terungkap dalam laporan berjudul “Environment and human health” yang dirilis European Environment Agency (EEA) dan Joint Research Centre dari Komisi Eropa awal bulan ini.

Risiko kesehatan baru muncul dari peyakit tidak menular (non-communicable diseases) seperti obesitas, penyakit kardiovaskular, diabetes, dan kanker yang memicu peningkatan angka kematian prematur. Yang menarik, semua penyakit ini berhubungan dengan kondisi lingkungan.

Menurut EEA, kesenjangan kualitas lingkungan antar negara Eropa masih sangat tinggi. Masyarakat dengan status sosial terendah, anak-anak dan penduduk lanjut usia (lansia) menjadi pihak yang paling rentan terkena dampak kerusakan atau polusi lingkungan ini. “Penduduk terus terpapar berbagai risiko lingkungan dan kesehatan yang akan mengurangi tingkat harapan hidup dan kesejahteraan masyarakat,” tutur Jacqueline McGlade, Direktur Eksekutif European Environment Agency dalam siaran pers EEA.

Memburuknya polusi udara meningkatkan risiko penyakit kanker, jantung, bronkitis dan asma. Paparan bahan kimia menyebabkan gangguan syaraf dan hormon, sementara gaya hidup yang tidak sehat memicu obesitas dan penyakit diabetes.

Polusi udara diperkirakan mengurangi tingkat harapan hidup penduduk Eropa hingga rata-rata 8,5 bulan. Menurut EEA, paparan polusi udara pada bayi dalam kandungan akan berdampak buruk saat mereka beranjak dewasa. EEA menyimpulkan, dampak polusi udara pada ibu hamil bahkan setara dengan dampak polusi yang diderita perokok pasif. Dan sebanyak 95% pekerja perkotaan di Uni Eropa terus terpapar polusi di atas batas aman World Health Organisation (WHO).

Dalam laporan ini juga terungkap, penjualan produk dan bahan kimia dunia naik dua kali lipat dari tahun 2000 hingga 2009, termasuk bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan. Produk kimia yang memengaruhi sistem hormon tubuh ini banyak ditemukan dalam obat-obatan, pestisida dan produk-produk kosmetik. Menurut EEA, walau efeknya belum dipahami secara jelas, bahan kimia bisa menimbulkan gangguan syaraf, gangguan sperma, gangguan genital, kegemukan bahkan kanker.

Di Eropa, residu bahan kimia dan produk-produk farmasi terus mencemari air. Bahan-bahan ini lolos dari sistem pengolah air dan limbah. Kekeringan dan penurunan kualitas air menurut EEA akan semakin parah akibat perubahan iklim.

Selain polusi udara dan air, polusi suara juga berdampak buruk bagi kesehatan mengganggu perkembangan jiwa, memicu gangguan tidur dan penyakit kardiovaskuler. Temuan penting dari EEA, wilayah dengan polusi suara tinggi biasanya juga memiliki polusi udara yang tinggi sehingga keduanya berkontribusi mengganggu kesehatan. Risiko lain datang dari penggunaan produk yang memancarkan gelombang elektro magnetis, seperti telepon seluler, yang – walau belum ada bukti ilmiah – bisa meningkatkan risiko kanker. Laporan Komisi Eropa selanjutnya akan tersedia pada paruh kedua tahun ini.

Redaksi Hijauku.com