Laporan terbaru dari World Meteorological Organization (WMO) menunjukkan periode 2001-2010 sebagai dekade terpanas dan terekstrem sejak dunia memulai pengukuran suhu bumi secara modern pada 1850.

Hal ini terungkap dalam berita Program Lingkungan PBB (UNEP) yang dirilis Rabu (3/7). Dekade 2001-2010 juga menjadi bukti terus berlangsungnya tren pemanasan global dan perubahan iklim.

Laporan berjudul “The Global Climate 2001-2010, A Decade of Extremes” ini menganalisis suhu dan curah hujan global dan regional termasuk fenomena cuaca ekstrem seperti gelombang panas yang melanda Eropa dan Rusia, Badai Katrina di Amerika Serikat, Siklon Tropis Nargis di Myanmar, kekeringan di Basin Amazon, di Australia dan Afrika Timur serta banjir di Pakistan. Sejumlah negara juga mencetak rekor suhu tertinggi baru dibanding dekade sebelumnya.

Menurut WMO, dekade 2001-2010 adalah dekade terpanas baik di belahan bumi bagian selatan maupun utara, di darat maupun di laut. Rekor pemanasan global ini juga diikuti dengan terus mencairnya es di benua Arktika dan berkurangnya massa dan lapisan es di Greenland, benua Antartika serta di sungai-sungai es (glacier) dunia. Akibatnya, tinggi permukaan air laut terus naik sekitar 3 milimeter (mm) per tahun, hampir dua kali lipat dari tren abad 20 yang 1,6 mm per tahun. Pengukuran rata-rata permukaan air laut dunia menunjukkan, permukaan air laut telah naik sekitar 20 cm dari level tahun 1880.

WMO juga mencatat kenaikan konsentrasi gas rumah kaca yang memicu pemanasan global dan perubahan iklim. Rata-rata konsentrasi emisi CO2 di atmosfer naik 39% menjadi 389 PPM (parts per million) pada 2010 dari sejak dimulainya era industri pada 1750. Sementara emisi metana naik menjadi 1.808 PPB (parts per billion) atau naik 158% dan nitrogen oksida (NOx) naik menjadi 323,2 PPB atau naik 20%.

“Laporan WMO menunjukkan, perubahan iklim terus terjadi dari 1971 hingga 2010,” ujar Michel Jarraud, Sekretaris Jenderal WMO. “Konsentrasi emisi gas rumah kaca yang memerangkap panas terus naik dalam dua dekade terakhir. Fenomena ini mengubah iklim dan berdampak luas pada lingkungan dan laut yang menyerap panas dan emisi CO2.”

Rata-rata suhu di darat dan di permukaan air laut pada periode 2001-2010 mencapai 14,47°C atau naik 0,47°C di atas rata-rata periode 1961-1990 dan 0,21°C di atas rata-rata periode 1991-2000 (dengan varian ± 0,1°C).

Sementara kenaikan suhu bumi per dekade antara tahun 1971 dan 2010 mencapai 0,17°C, lebih tinggi dibanding kenaikan periode 1880-2010 yang 0,062°C per dekade. Dan rata-rata temperatur dalam satu dekade pada periode 2001-2010 mencapai 0,21°C lebih hangat dari periode 1991-2000 yang juga lebih panas 0,14°C dibanding periode 1981-1990.

Setiap tahun, selama periode 2001-2010 – kecuali pada tahun 2008 – adalah tahun terpanas sepanjang sejarah. Rekor tahun terpanas sepanjang sejarah terjadi pada 2010, dengan suhu 0,54°C di atas suhu rata-rata periode 1961-1990 yang sebesar 14°C. Tahun terpanas kedua terjadi pada tahun 2005 dengan kenaikan yang hampir sama. Suhu tertinggi terutama terjadi di dataran tinggi di belahan bumi bagian utara.

Greenland mencatat anomali suhu tertinggi dengan kenaikan suhu mencapai 1,71°C di atas rata-rata jangka panjang. Pada 2010, suhu di Greenland bahkan mencapai 3,2°C di atas suhu rata-rata. Sementara suhu di benua Afrika naik setiap tahun selama dekade tersebut.

Data WMO mengungkapkan, 94% negara-negara yang terlibat dalam survei ini melaporkan kondisi suhu terpanas pada dekade 2001-2010 dan tak ada negara yang melaporkan anomali atau penurunan suhu dibanding suhu rata-rata jangka panjang. Sebanyak 44% dari negara yang disurvei juga melaporkan rekor suhu tertinggi pada periode 2001-2010, dibanding hanya 24% pada 1991-2000.

Redaksi Hijauku.com