Dunia masih bisa mencegah kenaikan suhu bumi tanpa mengorbankan ekonomi. Kesimpulan ini terungkap dari laporan IEA (International Energy Agency) yang dirilis Senin (10/6). Menurut IEA, kenaikan emisi dari penggunaan energi masih bisa dihentikan. IEA menganjurkan empat kebijakan kepada pemerintah untuk mencegah kenaikan suhu bumi pada 2020 tanpa mengganggu pertumbuhan ekonomi.

“Masalah perubahan iklim tidak akan hilang begitu saja, prioritas kebijakan menjadi penentunya,” ujar Direktur Eksekutif IEA, Maria van der Hoeven di London saat peluncuran laporan berjudul “World Energy Outlook Special Report, Redrawing the Energy-Climate Map” ini.

Maria menyatakan, sektor energi menyumbang dua per tiga energi gas rumah kaca dunia. “Laporan ini memeringatkan, jika kita tidak serius melakukan perubahan, suhu bumi akan meningkat antara 3,6 °C hingga 5,3 °C. Gangguan terhadap ekonomi juga akan semakin parah. Ini yang harus mendapat perhatian dari pemerintah,” tuturnya.

Dari perkiraan terbaru, emisi CO2 dari sektor energi pada 2012 meningkat 1,4%, mencapai rekor tertinggi sebesar 31,6 gigaton (Gt). Namun laporan tahun lalu juga menunjukkan perubahan peta wilayah emisi CO2 yang signifikan. Amerika Serikat yang beralih dari batu bara ke gas berhasil mengurangi emisi sebesar 200 juta ton, menurunkan konsentrasi emisi mereka setara dengan tingkat emisi pada pertengahan-1990-an.

China mengalami peningkatan emisi CO2 terbesar (300 juta ton), namun peningkatan yang terjadi adalah peningkatan terendah dalam sepuluh tahun terakhir. Hal ini dipicu oleh penggunaan energi baru dan terbarukan serta peningkatan intensitas energi di China. Di Eropa walau penggunaan baru bara naik di sejumlah negara, namun emisi Eropa turun sebesar 50 juta ton sementara emisi CO2 di Jepang naik sebesar 70 juta ton.

IEA merekomendasikan 4 kebijakan energi guna mencegah terwujudnya skenario kenaikan suhu bumi sebesar 2 °C pada 2020 menggunakan teknologi yang ada saat ini. Kebijakan ini telah diadopsi dengan sukses di sejumlah negara.

Keempat kebijakan ini juga bisa memberikan waktu ekstra pada dunia untuk melanjutkan negosiasi perubahan iklim. Dengan menerapkan keempat kebijakan ini, IEA memerkirakan, jumlah emisi gas rumah kaca dari sektor energi bisa dipangkas sebesar 8% (setara dengan 3,1 Gt emisi setara CO2) pada 2020. Upaya ini sekaligus mencegah kenaikan suhu bumi hingga 2°C.

Keempat kebijakan yang direkomendasikan IEA ini meliputi:

Pertama, meningkatkan efisiensi energi pada bangunan, industri dan sektor transportasi. Aksi ini bisa menyumbang separuh dari pengurangan emisi pada 2020. Manfaat dari investasi efisiensi energi ini jauh lebih tinggi dibanding manfaat penghematan biaya energi bahan bakar fosil.

Kedua, membatasi pembangunan dan penggunaan pembangkit listrik tenaga batu bara yang kurang efisien. Aksi ini mampu mengurangi emisi lebih dari 20% dan mengurangi polusi udara lokal. Bauran energi bersih dan terbarukan akan naik dari sekitar 20% saat ini menjadi 27% pada 2020, hal yang sama terjadi pada bauran gas alam.

Ketiga, aksi untuk memangkas emisi metana (gas rumah kaca yang berbahaya) dari industri minyak dan gas hingga separuhnya pada 2020 akan bisa mengurangi emisi CO2 hingga 18%.

Keempat, mengurangi secara bertahap subsidi energi akan mampu menyumbang pengurangan emisi sebesar 12% dan meningkatkan efisiensi.

Laporan ini juga mengungkapkan, sektor energi terancam dan harus beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Ancaman tersebut meliputi kerusakan akibat cuaca ekstrem dan ancaman kenaikan suhu dan permukaan air laut, termasuk perubahan pola cuaca. Sehingga upaya pengurangan emisi tidak hanya berdampak pada iklim namun juga berdampak pada ketahanan energi pada masa datang. Laporan WEO, “Redrawing the Energy-Climate Map” bisa diunduh di sini.

Redaksi Hijauku.com