Amerika Serikat (AS) dan China sepakat bekerja sama dengan negara lain menegakkan Protokol Montreal guna mengurangi produksi dan konsumsi emisi HFC (hydrofluorocarbon).

Kesepakatan antar dua negara ini adalah kesepakatan pertama yang diharapkan mampu menjadi langkah baru penting membantu memerangi dampak perubahan iklim. Kabar gembira ini terungkap dari berita yang dirilis Gedung Putih, Sabtu (8/6). HFC adalah gas rumah kaca berbahaya yang digunakan sebagai bahan aktif dalam pendingin ruangan, kulkas dan produk-produk industri lain.

Kerjasama global ini diharapkan dapat mengurangi konsentrasi HFC sebanyak 90 gigaton setara CO2 pada 2050. Nilai ini setara dengan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dunia selama dua tahun berturut-turut. AS dan China juga akan terus mengagendakan upaya pengurangan HFC dalam perundingan UNFCCC dan mendukung penghitungan dan pelaporan emisi masing-masing negara sesuai dengan Protokol Kyoto.

HFC selama ini dipakai sebagai pengganti gas pendingin yang merusak ozon. Walaupun aman bagi lapisan ozon, HFC adalah gas rumah kaca pemicu pemanasan global dan perubahan iklim yang berbahaya. Penggunaan bahan-bahan perusak ozon berhasil dikurangi dengan penetapan protokol Montreal namun penggunaan HFC terus meningkat. Jika tidak dikontrol, nilai emisi HFC bisa mencapai hampir 20% emisi CO2 pada 2050 yang bisa menjadi ancaman serius upaya mitigasi perubahan iklim.

Protokol Montreal yang disusun pada 1987 sukses mengurangi penggunaan CFC (chlorofluorocarbon) dan HCFC (hydrochlorofluorocarbon) yang dikenal sebagai gas perusak lapisan ozon. Transisi dari CFC dan HCFC menurut Gedung Putih berhasil melindungi lapisan ozon namun menimbulkan konsekuensi jangka panjang memicu perubahan iklim akibat pemakaian HFC.

Selama empat tahun terakhir Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko telah mengusulkan amandemen Protokol Montreal ini guna mengurangi produksi dan konsumsi HFC. Dengan dukungan China upaya ini diharapkan bisa lebih berdaya kembali.

Redaksi Hijauku.com