Kapal layar bertiang tiga ini memang tak secanggih Rainbow Warrior – kapal milik Greenpeace yang awal bulan ini masuk ke Indonesia. Namun data-data yang dihasilkan oleh ekspedisi kapal ini 135 tahun yang lalu, berhasil memerkuat bukti perubahan iklim dan pemanasan global.

Kapal itu bernama HMS Challenger. Bersama ratusan awak dan peneliti, HMS Challenger berkeliling dunia selama 4 tahun dari tahun 1872-1876 dalam ekspedisi yang dijuluki dengan nama yang sama yaitu ekspedisi Challenger.

Ekspedisi Challenger adalah ekspedisi ilmiah global pertama guna meneliti kehidupan di bawah permukaan laut. Ekspedisi ini juga mengukur perbedaan temperatur dengan memasukkan alat pengukur – dengan tali – hingga ratusan meter ke dalam laut.

Lebih dari seabad kemudian, data-data ini kembali dipakai oleh tim peneliti dari University of Tasmania, di Sandy Bay, Australia dan Jet Propulsion Laboratory (JPL) milik NASA, di Pasadena, California guna mengungkap fenomena perubahan iklim dan pemanasan global.

Menurut Josh Willis, ilmuwan dari JPL, kunci dari penelitian ini adalah menentukan ketidakpastian yang berasal dari perbedaan pengukuran yang diambil oleh awal kapal Challenger.

Tingkat ketidakpastian ekspedisi Challenger ini berasal dari terbatasnya wilayah yang diteliti termasuk kedalaman laut dan variasi suhu alami saat pengukuran terjadi. “Setelah menganalisis semua kemungkinan yang ada, kami menyimpulkan, bukti terjadinya pemanasan global jauh lebih besar,” tuturnya. Tim peneliti juga menyimpulkan bahwa manusia adalah penyebab utama pemanasan global dan perubahan iklim.

Dengan menggunakan model perubahan iklim yang canggih, tim peneliti menganalisis data-data ekspedisi Challenger dan menggabungkannya dengan data-data penelitian modern yang diambil dari jaringan Argo, jaringan alat pengukur canggih yang mengapung di samudra.

“Dari data-data ekspedisi Challenger terungkap, pemanasan global sudah bisa dideteksi secara jelas sejak 1873. Pada saat itu, samudra masih menyerap semua panas hasil peningkatan suhu bumi,” ujar Will Hobbs dari University of Tasmania yang memimpin penelitian ini. Saat ini, tim peneliti menyimpulkan, tingkat penyerapan pemanasan global oleh samudra menurun menjadi hanya 90%.

Data ekspedisi Challenger juga mengungkapkan, kenaikan suhu samudra menyumbang 40% total kenaikan air laut. Hal ini bisa diamati dari meningkatnya ketinggian gelombang air laut dari tahun 1873 hingga 1955. Sementara mencairnya lapisan-lapisan es dan sungai-sungai es (glaciers) menyumbang 60% sisa kenaikan air laut.

Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters. Untuk mengetahui lebih banyak mengenai penelitian ini silahkan kunjungi tautan berikut: ekspedisi Challanger.

Redaksi Hijauku.com