Mobil berteknologi tinggi dan hemat energi terbukti mampu mengurangi polusi di lingkungan sekitar. Hal ini terungkap dalam laporan Lembaga Lingkungan Eropa (European Environment Agency/EEA) yang dirilis Selasa (30/4).

Laporan berjudul “Monitoring CO2 emissions from new passenger cars in the EU” menyebutkan, pada 2012, rata-rata mobil yang dijual di Uni Eropa, 9% lebih hemat energi dibanding mobil yang dijual 3 tahun sebelumnya. Kondisi ini memicu pengurangan emisi CO2 rata-rata oleh mobil-mobil baru sebesar 2,6% dalam periode 2011 hingga 2012.

Selain faktor teknologi yang semakin canggih, krisis ekonomi juga menambah motivasi konsumen di sejumlah negara Eropa untuk memiliki model mobil yang hemat energi.

Emisi CO2 dari sistem transportasi darat di Eropa naik 21% dalam periode 1990 hingga 2011. Sektor transportasi darat menyumbang 23% dari seluruh emisi CO2 di Uni Eropa.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Uni Eropa menetapkan target jangka pendek pengurangan rata-rata emisi pada kendaraan baru di bawah 130 gram CO2 per kilometer (gr CO2/km) pada 2015. Dalam jangka panjang, target pengurangan emisi menjadi 95 gr CO2/km pada 2020. Tahun lalu, rata-rata emisi kendaraan baru di Uni Eropa masih mencapai 132,2 gr CO2/km.

Semua produsen mobil yang menjual produknya di Uni Eropa harus memenuhi target emisi yang telah ditetapkan. Mereka akan dikenai denda jika produk mereka melebihi batas target emisi. Denda ini mulai berlaku sejak tahun lalu. EEA akan melaporkan kepatuhan atas target ini pada ahir tahun ini.

Sebanyak 12 juta kendaraan baru terjual di Eropa pada 2012. Jumlah ini turun dibanding angka penjualan mobil pada 2007 yang mencapai angka tertinggi sebanyak 15,5 juta kendaraan. Di Yunani, penjualan mobil baru turun 41% tahun lalu. Di Portugal angka penurunannya mencapai 38% dan di Siprus 25%. Hanya dua negara yang mengalami kenaikan penjualan mobil baru yaitu di Estonia dan Hungaria yang masing-masing naik di atas 12 %.

Kendaraan bermesin disel menyumbang 55% penjualan mobil baru di Eropa. Kendaraan bermesin disel menghasilkan emisi CO2 yang lebih rendah dibanding kendaraan bensin walaupun perbedaan emisi ini terus menipis dari tahun ke tahun. Yang perlu dicatat, walau emisi CO2 kendaraan disel lebih rendah, namun emisi nitrogen oksida yang dihasilkan oleh kendaraan disel lebih tinggi dibanding mobil bensin.

Tingkat emisi CO2 per kilometer paling rendah diraih di Denmark (117 gr CO2/km) dan Portugal (118 gr CO2/km). Sementara tingkat efisiensi bahan bakar tertinggi pada periode 2011-2012 diraih oleh Yunani (9 %) dan Denmark (6 %).

Hungaria dan Belgia adalah dua negara yang menjual mobil dengan tingkat efisiensi bahan bakar terendah di seluruh Eropa pada 2012. Sementara mobil dengan rata-rata emisi tertinggi ditemukan di pasar Latvia (152 gr CO2/km) dan Estonia (150 gr CO2/km).

Kabar baiknya, penjualan mobil berbahan bakar alternatif (alternative fuel vehicles/AFVs) termasuk mobil elektrik, hibrida, mobil berbahan bakar LPG dan ethanol juga terus naik. Italia menjadi negara yang paling banyak mencatat penjualan mobil berbahan bakar alternatif yaitu sebesar 13% dari penjualan mobil baru pada 2012 – tertinggi di antara negara-negara anggota Uni Eropa yang lain.

Penjualan mobil listrik murni juga meningkat 20 kali lipat dalam tiga tahun terakhir dari 700 kendaraan pada 2010 menjadi 14.000 kendaraan tahun lalu. Penjualan mobil listrik terbanyak terjadi di Perancis (lebih dari 5.500 mobil listrik pada 2012) dan Jerman (mencapai 3.000 mobil).

Jacqueline McGlade, Direktur Eksekutif EEA menyatakan: “Teknologi kendaraan baru semakin efisien. Ini pertanda baik. Namun jika kita ingin memangkas emisi gas rumah kaca secara signifikan, faktor teknologi saja tidak cukup. Harus ada perubahan fundamental dari jenis transportasi yang kita gunakan dan bagaimana kita menggunakannya.”

Redaksi Hijauku.com