Jumlah emisi CO2 dari alih guna lahan jauh lebih tinggi dari jumlah emisi yang diperhitungkan sebelumnya. Hal ini terungkap dari hasil penelitian terbaru University of Illinois at Urbana-Champaign dan University of Bristol Cabot Institute yang dirilis Jum’at (19/2).

Dengan memerhitungkan unsur nitrogen – nutrisi utama yang terdapat dalam tanaman – tim peneliti menemukan, jumlah emisi CO2 yang dihasilkan dari alih guna lahan 40% lebih tinggi, terutama pada 1990-an. “Satu nutrisi saja bisa membuat perbedaan besar dalam siklus karbon dan penghitungan emisi gas rumah kaca yaitu karbon dioksida,” ujar Atul Jain, Professor Ilmu Atmosfer di University of Illinois yang memimpin riset ini.

“Kami tahu, perubahan iklim terus terjadi. Pertanyaannya adalah seberapa cepat perubahan itu? Untuk menjawabnya kita harus memahami proses timbal balik – tidak hanya pengaruh alih guna lahan pada perubahan iklim, namun juga pengaruh nutrisi pada lahan.”

Siklus karbon adalah keseimbangan saat emisi karbon yang terlepas di udara diserap oleh ekosistem di laut dan di darat. Karbon diserap oleh tanaman saat tanaman melakukan fotosintesis dan oleh samudra melalui peralihan gas dan udara.

Namun keseimbangan ini sudah terganggu akibat pelepasan emisi dari pembakaran bahan bakar fosil dan emisi dari alih guna lahan – termasuk dari deforestasi guna memerluas lahan pertanian. Menurut tim peneliti, emisi dari pembakaran bahan bakar fosil mudah dideteksi sementara emisi dari alih guna lahan penuh dengan ketidakpastian.

“Saat manusia merusak lahan, karbon yang tersimpan dalam tanaman dan tanah kembali (terlepas) ke atmosfer,” ujar Jain. “Namun saat tanaman kembali tumbuh, mereka bisa kembali menyerap karbon melalui proses fotosintesis. Proses penyerapan karbon sangat tergantung pada kondisi lingkungan, seperti iklim dan ketersediaan nutrisi.”

Dan nitrogen adalah nutrisi serta mineral yang berperan penting dalam pertumbuhan tanaman. Di wilayah non-tropis pertumbuhan kembali tanaman sangat dipengaruhi oleh ketersediaan nitrogen ini. Jika pertumbuhan tanaman terganggu, proses penyerapan karbon oleh tanaman juga terganggu.

“Kebanyakan model yang dipakai untuk menghitung emisi dari alih guna lahan tidak memerhitungkan ketersediaan nitrogen ini yang memengaruhi proses pertumbuhan kembali tanaman saat terjadi alih guna lahan,” ujar Prasanth Meiyappan, salah satu anggota tim peneliti. “Hal ini berarti, tingkat pertumbuhan kembali tanaman terlalu dibesar-besarkan (karena tergantung pada ketersediaan nitrogen) sementara perhitungan emisi yang dihasilkan dari alih guna terlalu sedikit.”

Tim peneliti lalu menelusuri model penghitungan emisi yang dipakai pada 1990-an yang tidak memerhitungkan faktor ketersediaan nitrogen yang memengaruhi pertumbuhan tanaman. Hasilnya, tim peneliti menyimpulkan, emisi karbon dari alih guna lahan di daerah non- tropis 70% lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya, sementara di seluruh dunia perbedaannya mencapai 40%.

Kesalahan perhitungan ini berimplikasi besar pada kebijakan internasional. Jika emisi dari alih guna lahan ini lebih tinggi dari yang diperkirakan maka pemangkasan emisi gas rumah kaca harus lebih besar agar bisa mencapai target mitigasi yang ditetapkan.

Selanjutnya, tim peneliti juga akan menganalisis dampak nutrisi yang lain seperti fosfor dalam siklus karbon. Mereka juga tengah menghitung jumlah karbon yang tersimpan dalam tanah dan berapa jumlah karbon yang terlepas saat tanah diganggu atau dirusak.

Redaksi Hijauku.com