Tiga negara Asia masuk dalam peringkat lima besar negara dengan kinerja rendah karbon terbaik di dunia. Hal ini terungkap dalam Low-Carbon Competitiveness Index yang dirilis oleh Climate Institute dan GE, Selasa (26/3). Low-Carbon Competitiveness Index ini mengukur kesiapan negara anggota G20 beralih ke sistem ekonomi yang rendah karbon, sebagai bagian dari hasil dinamisasi perundingan perubahan iklim antarnegara.

Lima peringkat teratas – negara dengan kinerja rendah karbon terbaik – diduduki oleh Perancis, Jepang, China, Korea Selatan dan Inggris. Rangking Perancis dan Inggris tidak berubah. Tiga negara Asia kini mewarnai peringkat lima besar negara dengan kinerja rendah karbon terbaik.

Rangking China melonjak dari 7 ke 3. Kinerja China ini didorong tidak hanya oleh investasi skala besar di energi bersih, namun juga kinerja ekspor produk-produk teknologi yang terus meningkat. Investasi energi bersih di China mencapai separuh dari investasi global. Jika China tidak meningkatkan investasinya di energi bersih, rangking Negara Tirai Bambu ini akan turun satu peringkat ke rangking 8.

Penurunan kinerja paling dramatis dialami Amerika Serikat yang turun dari peringkat 8 ke 11. Penurunan ini karena rendahnya investasi di energi bersih, turunnya kinerja ekspor produk-produk berteknologi tinggi dan meningkatnya ketergantungan terhadap jasa angkutan udara.

Negeri Kanguru, Australia – yang menjadi fokus laporan ini – menempati peringkat ke-17. Kinerja Australia naik tipis akibat membaiknya kinerja perekonomian negara tersebut. Investasi efisiensi energi Australia di sektor transportasi juga membaik dan proporsi sumbangan pendapatan dari sumber daya terhadap pendapatan negara sedikit turun.

Indonesia memimpin negara-negara Asia Tenggara, berada di peringkat ke-14 di bawah Amerika Serikat, Meksiko dan Argentina, namun berhasil melampaui Saudi Arabia, India, Australia, Afrika Selatan dan Russia.

Kinerja Indonesia ini kemungkinan besar didorong oleh keberhasilan Indonesia mengurangi laju deforestasi sejalan dengan diterbitkannya Inpres moratorium ijin pengelolaan hutan baru yang akan berakhir masa berlakunya 20 Mei mendatang. Mayoritas emisi karbon Indonesia (sekitar 70%) berasal dari praktik perusakan hutan dan alih guna lahan.

Redaksi Hijauku.com