Peningkatan emisi gas rumah kaca menggeser wilayah pertumbuhan tanaman di belahan bumi bagian utara. Hal ini terungkap dari hasil analisis data permukaan bumi selama 30 tahun yang didanai oleh NASA, yang dirilis Minggu (10/3).

Tim peneliti internasional dan ilmuwan NASA meneliti hubungan perubahan suhu permukaan bumi dengan pola pertumbuhan tanaman di 45 derajat lintang utara hingga Samudera Arktika.

Hasilnya, kenaikan suhu bumi telah menggeser wilayah pertumbuhan tanaman 4-6 derajat ke selatan dibanding kondisi tahun 1982. Pergeseran ini diperkirakan akan mencapai 20 derajat pada akhir abad ini (2100) dibanding periode 1951-1980.

“Suhu di belahan bumi bagian utara terus naik, es di laut Arktika terus mencair dan salju menghilang. Semua faktor tersebut menyebabkan musim pertumbuhan tanaman semakin panjang, sehingga tanaman tumbuh lebih subur, lebih banyak,” ujar Ranga Myneni, ilmuwan dari Boston University. “Di wilayah Arktika bagian utara dan wilayah boreal, karakteristik musim berubah, memicu perubahan besar pada tanaman dan ekosistem terkait.”

Penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change ini menggunakan data perubahan wilayah tanaman dari tahun 1982 hingga 2011.

Akibat pemanasan global dan musim tanam yang semakin panjang ini, tanaman kini memenuhi sepertiga wilayah bumi bagian utara, seluas lebih dari 9 juta kilometer persegi – hampir setara dengan luas wilayah Amerika Serikat.

Menurut Myneni pemicunya adalah peningkatan emisi gas rumah kaca. Meningkatnya konsentrasi emisi yang memerangkap panas – seperti metana dan CO2 – menyebabkan suhu di permukaan bumi, laut dan atmosfer naik.

Peningkatan suhu ini mengikis es dan mengurangi salju di kutub utara. Saat es atau salju menghilang, samudera tak lagi bisa memantulkan radiasi dan malah menyerap radiasi sehingga udara menjadi semakin panas.

“Siklus ini akan semakin memercepat pemanasan global dan hilangnya salju dan es di wilayah ini, memicu mencairnya tanah beku yang semakin menambah konsentrasi emisi gas rumah kaca,” ujar Myneni.

Namun peningkatan emisi gas rumah kaca yang memicu pemanasan global, menurut tim peneliti, tidak selamanya akan memercepat pertumbuhan luas wilayah tanaman.

Pemanasan global, jika semakin parah dan dalam jangka panjang, akan meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan merebaknya hama tanaman, yang akan memerlambat pola pertumbuhan tanaman.

Redaksi Hijauku.com