Jakarta, 14 Maret 2013. Tren penangkapan ikan tuna memakai bom semakin marak terjadi di perairan Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Kondisi tersebut dipaparkan dalam laporan hasil survey yang dirilis WWF-Indonesia hari ini dengan judul “Potret Pemboman Ikan Tuna di Perairan Kabupaten Flores Timur”. Tim Survey menemukan bahwa di salah satu desa kecil saja terdapat 98 armada kapal ukuran 2-3 Gross Tonase (GT) yang digunakan nelayan untuk menangkap tuna memakai bom. Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah lokasi lain di perairan Kabupaten Flores Timur seperti di Perairan Pulau Tiga, Selat Solor, Pulau Solor Bagian Selatan, Selat Lamakera, dan Lembata bagian Selatan.

Praktik penangkapan ikan dengan bom ini selain menyebabkan rusaknya ekosistem, juga menyebabkan pemborosan sumber daya ikan tuna. Temuan WWF mencatat setidaknya 50% dari tuna yang terkena bom tenggelam ke laut dan terbuang percuma sebelum sempat diambil oleh nelayan. Ledakan bom juga tidak hanya menyasar tuna, satwa dilindungi seperti lumba-lumba–yang sering berada di area yang sama–juga menjadi korban. Belum lagi pelaku yang menjadi korban terkena bom sering kali menjadi cacat permanen atau bahkan meninggal. Di salah satu desa dimana survey dilakukan, ditemukan data 5 orang korban meninggal dan 2 orang cacat seumur hidup sejak 2004 hingga kini akibat insiden ledakan bom ikan.

“Praktik penangkapan ikan dengan cara merusak seperti penggunaan bom ini harus dihentikan, permintaan dan perdagangan produk perikanan hasil tangkapan yang merusak harus secara bertahap dikurangi dan dihentikan. Memang upaya ini sulit karena tidak hanya terkait dengan kebijakan, akan tetapi juga terkait mekanisme pasar. Penegakan hukum dan pengawasan menjadi upaya penting yang harus segera dilakukan di tingkat lapangan,” ujar Direktur Program Kelautan dan Perikanan WWF-Indonesia, Wawan Ridwan. “Selain itu, mengingat tuna adalah komoditi perikanan utama global, upaya dari para retailer (pemasok) untuk memastikan bahwa produk perikanan yang mereka terima dari nelayan adalah produk yang ramah lingkungan dan tidak didapatkan dari aktivitas-aktivitas merusak menjadi penting artinya. Dalam konteks ini, upaya penelusuran asal-usul produk juga tak kalah penting,” tambahnya.

Salah satu upaya yang dilakukan WWF-Indonesia dalam mengatasi masalah pemboman ikan tersebut yakni melalui pendampingan dan penguatan kapasitas kelompok-kelompok nelayan dan menjembatani produk hasil kelompok binaan tersebut masuk ke pasar produk-produk ramah lingkungan.

Peluncuran laporan ini dilakukan di sela-sela acara “Seafood Savers Annual Meeting”, sebuah forum pertemuan tahunan yang dihadiri pelaku bisnis sektor perikanan berkelanjutan melalui inisiasi Seafood Savers yang difasilitasi WWF Indonesia. Saat ini inisiatif Seafood Savers menaungi 10 perusahaan yang terdiri dari perusahaan ritel, produsen ikan karang, produsen ikan tuna, produsen udang, serta rantai industri hotel dan restoran.

Pertemuan ini dimaksudkan sebagai ajang bertukar informasi seputar kegiatan perbaikan perikanan yang dijalankan masing-masing sesuai dengan panduan yang ditetapkan dalam program Seafood Savers. Dalam pertemuan ini, teknologi sistem keterlacakan (traceability system) menjadi isu penting yang menjadi topik pembahasan guna memastikan bahwa produk seafood yang dijual di pasaran berasal dari praktik-praktik perikanan yang bertanggung jawab.

Dalam pertemuan tahunan kali ini, Seafood Savers juga meresmikan keanggotaan dua perusahaan kandidatnya, yaitu UD. Pulau Mas dan PT Arta Mina Tama. UD. Pulau Mas merupakan perusahaan pengekspor ikan kerapu hidu pasal Bali yang menguasai 60% produksi perikanan kerapu hidup di Indonesia. Sementara PT Arta Mina Tama (AMT) merupakan perusahaan penangkap ikan tuna yang berpusat di Muara Baru, Jakarta. AMT mengikutsertakan produk tuna sirip kuning atau Yellowfin tuna (Thunnusalbacares) dalam program perbaikan perikanan yang dijalankan Seafood Savers.

Dengan diresmikannya keanggotaan dua perusahaan tersebut dalam program Seafood Savers, kedua perusahaan menyepakati Rencana Kerja Program Perbaikan Perikanan yang telah disusun bersama-sama dengan tim Perikanan WWF-Indonesia. Rencana kerja berisi rincian sejumlah aktivitas yang harus dilakukan perusahaan untuk memperbaiki praktik dan bisnis perikanannya berdasarkan prinsip dan standar perikanan berkelanjutan yang ditetapkan oleh sertifikasi Marine Stewardship Council (MSC).

Catatan Editor:

Laporan lengkap berjudul “Potret Pemboman Ikan Tuna di Perairan Kabupaten Flores Timur” dapat diunduh di link berikut ini http://bit.ly/tunabombingreport2013

Untuk informasi lebih lanjut mengenai kegiatan Seafood Savers Annual Meeting, silakan menghubungi:

Dwi Ariyogagautama, Fisheries Senior Officer WWF-Indonesia di Nusa Tenggara Timur

Email: dariyogagautama@wwf.or.id, HP. 0821-4538-1800

Margareth Meutia, Seafood Savers Coordinator WWF-Indonesia

Email: mmeutia@wwf.or.id, HP. 0815 8812 844