Penelitian terbaru dari University of Adelaide, Australia kembali menegaskan kaitan antara pemanasan global dan peningkatan intensitas hujan ekstrem. Hal ini terungkap dalam berita yang dirilis Jumat (1/2).

Tim peneliti yang dipimpin oleh University of Adelaide mengaji data curah hujan di seluruh dunia. Dari data tersebut disimpulkan, kondisi hujan ekstrem akan semakin sering terjadi di seluruh dunia seiring dengan naiknya suhu bumi.

Penelitian ini adalah penelitian paling komprehensif yang pernah dilakukan guna mengaji perubahan intensitas hujan ekstrem dan temperatur di atmosfer dengan melibatkan 8000 pusat pemantau cuaca di seluruh dunia.

“Penelitian ini membuktikan, intensitas hujan ekstrem terus meningkat di seluruh dunia. Saat suhu atmosfer bumi naik satu derajat Celsius, intensitas hujan ekstrem akan meningkat sebesar 7%,” ujar Dr Seth Westra sebagaimana dikutip dalam berita University of Adelaide.

“Jika suhu rata-rata di bumi meningkat hingga 3-5 derajat Celsius pada akhir abad 21, intensitas hujan ekstrem pun akan naik secara drastis akibat perubahan iklim.”

Dr Westra, yang merupakan dosen senior di Fakultas Teknik Sipil, Lingkungan dan Pertambangan di University of Adelaide dan anggota Environment Institute menyatakan, tren peningkatan intensitas hujan ekstrem ini disimpulkan dari hasil penelitian antara tahun 1900 hingga 2009.

“Hasilnya menunjukkan, curah hujan ekstrem meningkat selama periode yang diteliti. Peningkatan ini adalah akibat peningkatan suhu bumi yang saat ini hampir mencapai satu derajat Celsius. Jika intensitas hujan ekstrem meningkat, risiko banjir juga akan naik di seluruh dunia,” ujar Dr Westra.

Peningkatan intensitas hujan tertinggi, menurut para peneliti akan terjadi di wilayah tropis. Di sejumlah lokasi pemantuan cuaca, curah hujan ekstrem juga akan semakin sering terjadi.

“Sebagian besar negara di wilayah tropis adalah negara miskin yang tidak siap menghadapi peningkatan risiko banjir dan hujan ekstrem ini, sehingga kerugian dikhawatirkan akan semakin besar,” ujar Dr Westra.

Penelitian yang telah diterbitkan dalam “Journal of Climate” ini juga melibatkan tim peneliti dari University of New South Wales, Australia dan University of Victoria, Canada.

Redaksi Hijauku.com