Penggunaan racun kimia pembasmi hama atau pestisida sekali lagi terbukti menimbulkan masalah kesehatan. Hal ini terungkap dari berita dan hasil penelitian University of California (UCLA) yang dirilis Kamis (3/1).

Selama beberapa tahun, para peneliti dari UCLA telah meneliti kaitan antara pestisida dan penyakit Parkinson. Mereka telah menemukan kaitan antara bahan kimia yang digunakan dalam pestisida yaitu paraquat, maneb dan ziram — yang biasa digunakan di Central Valley, California dan di wilayah lain – dengan peningkatan risiko penyakit Parkinson.

Bahan-bahan kimia ini tidak hanya meracuni mereka yang bekerja di ladang namun juga yang tinggal di sekitar wilayah pertanian yang berpotensi menghirup pestisida ini.

Dalam penelitian UCLA terbaru, para peneliti menemukan bahan kimia lain dalam pestisida yaitu benomyl, dalam otak pasien yang penderita Parkinson. Padahal, bahan kimia ini telah dilarang di Amerika Serikat sejak 10 tahun yang lalu oleh lembaga perlindungan lingkungan Amerika Serikat (EPA).

Para peneliti juga menemukan racun benomyl pada mereka yang menderita Parkinson namun tidak pernah bersentuhan dengan pestisida secara langsung.

Penyakit Parkinson adalah penyakit degenerasi yang menyerang otak. Gejala utamanya adalah gangguan motorik dan gangguan kognitif seperti yang diderita oleh petinju legendaris Muhammad Ali. Dalam penelitian ini, para peneliti menemukan potensi baru guna membantu menyembuhkan penyakit ini.

Racun benomyl dalam pestisida mencegah otak memroduksi enzim bernama ALDH (aldehyde dehydrogenase) yang berfungsi menghambat produksi DOPAL, racun yang secara alami ada di otak. Produksi racun DOPAL yang tidak terkontrol akan merusak syaraf dan meningkatkan risiko menderita penyakit Parkinson.

Para peneliti percaya, benomyl ditemukan di semua penderita Parkinson. Menciptakan obat yang mampu melindungi aktivitas ALDH, kemungkinan bisa mencegah berkembangnya penyakit ini, baik pada pasien yang pernah terkena racun pestisida maupun yang tidak. Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam edisi terbaru jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Redaksi Hijauku.com