Penelitian terbaru dari National Oceanography Centre, Southampton menemukan hubungan alami antara konsentrasi CO2 dan permukaan air laut. Saat konsentrasi CO2 naik, permukaan air laut juga akan terus meninggi.

Para peneliti menemukan hubungan ini setelah membandingkan konsentrasi CO2 di atmosfer dengan tinggi permukaan air laut dalam 40 juta tahun terakhir. Mereka menemukan, dahulu, saat konsentrasi emisi CO2 naik hingga 400 PPM (parts per million) – seperti kondisi emisi CO2 di atmosfer sekarang – air laut terus mengalami kenaikan hingga 9 meter di atas level yang ada saat ini.

Hal ini terungkap dari berita National Oceanography Centre yang dirilis Kamis (3/1). Menurut Dr Gavin Foster, dari Ocean and Earth Science di University of Southampton, para peneliti berkonsentrasi pada level 400-450 PPM karena level ini adalah target maksimal kenaikan konsentrasi CO2 di atmosfer agar suhu bumi tidak meningkat lebih dari 2 derajat Celsius.

Para peneliti menemukan hubungan alami antara kenaikan permukaan air laut dengan kenaikan konsentrasi CO2 di atmosfer. Berdasarkan simulasi selama 40 juta tahun terakhir, saat emisi CO2 naik dari 180 ke 400 PPM, air laut naik hingga 24 (+7/-15) meter di atas ketinggian air laut saat ini. Menurut para peneliti, perkiraan ini memiliki ketepatan hingga 68%.

Permukaan air laut, menurut para peneliti, akan naik secara konstan saat konsentrasi emisi CO2 berada pada kisaran 400 hingga 650 PPM. Saat konsentrasi CO2 melampaui 650 PPM kenaikan permukaan air laut akan terjadi semakin cepat.

Analisis ini menunjukkan tren kondisi lapisan es di Antartika Timur berhubungan dengan kondisi perubahan iklim dan konsentrasi CO2 yang tinggi. Menurut hasil simulasi peneliti, saat bumi bebas dari es, permukaan air laut naik setinggi 65 meter di atas level saat ini. Hal itu terjadi saat konsentrasi emisi CO2 mencapai 1.200 PPM.

Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan, menjaga konsentrasi emisi CO2 antara 400-450 PPM tidak akan mampu menahan kenaikan konstan permukaan air laut. Diperlukan upaya yang lebih keras untuk mengurangi emisi guna mencegah pemanasan global dan perubahan iklim.

Redaksi Hijauku.com