Amerika Serikat (AS) akhirnya meningkatkan standar polusi udara mendekati standar yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Hal ini terungkap dari berita Environmental Protection Agency (EPA) yang dirilis minggu lalu (14/12) di Washington, Amerika Serikat.

Standar kualitas udara PM2,5 Amerika Serikat naik dari 15 mikrogram/m3/tahun menjadi 12 mikrogram/m3/tahun mendekati standar kualitas udara PM2,5 yang ditetapkan WHO sebesar 10 mikrogram/m3/tahun.

PM2,5 adalah standar kualitas udara yang mengukur kandungan partikel-partikel halus di udara yang berukuran kurang hingga sama dengan 2,5 mikron.

Pemerintah juga menargetkan, dari 3000 wilayah (counties) di AS, sebanyak 99% akan memenuhi standar kualitas udara tahunan PM2,5 ini pada 2020 tanpa upaya tambahan untuk menguranginya.

Standar harian PM2,5 dan PM10 (benda-benda partikulat berukuran hingga 10 mikron) diputuskan tidak diubah yaitu 35 mikrogram/m3/hari dan 150 mikrogram/m3/hari. Khusus untuk PM10 standar tahunan yang ditetapkan adalah 50 mikrogram/m3/tahun.

WHO menetapkan standar kualitas udara PM2,5 sebesar 25 mikrogram/m3/hari dan 10 mikrogram/m3/tahun. Sementara untuk PM10, standar kualitas udara yang ditetapkan adalah 50 mikrogram/m3/hari dan 20 mikrogram/m3/tahun.

Bagaimana dengan Indonesia? Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara, pemerintah menetapkan, baku mutu ambien nasional PM2,5 adalah 65 mikrogram/m3/hari dan 15 mikrogram/m3/tahun.

Sementara standar PM10 yang ditetapkan di Indonesia, mencapai 150 mikrogram/m3/hari, sementara standar PM10 per tahun tidak tersedia.

Menurut EPA, di Amerika Serikat, penetapan standar PM2,5 dari kendaraan dan mesin disel saja mampu mencegah hingga 40.000 kematian prematur, 32.000 rawatan rumah sakit dan hilangnya 4,7 juta hari kerja akibat gangguan kesehatan pada 2030.

EPA memerkirakan, manfaat kesehatan yang diperoleh dari peningkatan standar kualitas udara ini mencapai kisaran US$4 miliar hingga US$9 miliar per tahun, dengan biaya pelaksanaan antara US$53 juta hingga US$350 juta.

Redaksi Hijauku.com