Di seluruh dunia, mulai dari Kenya, Filipina, Haiti, Bangladesh hingga Ethiopia, anak-anak berada dalam posisi yang paling rentan saat terjadi bencana akibat perubahan iklim.

Taifun Bopha yang melanda wilayah Mindanao, Filipina baru-baru ini semakin menegaskan kondisi ini. Anak-anak menjadi korban langsung atau kehilangan orang tua akibat bencana alam ini. Mereka yang selamat kekurangan pangan dan harus bertahan hidup dengan kondisi yang memrihatinkan. Data terakhir menunjukkan, jumlah penduduk yang hilang dan meninggal akibat taifun Bopha mencapai 1600 orang.

Taifun – yang di Filipina dikenal dengan nama Pablo – ini hanyalah satu dari sekian banyak bencana alam akibat perubahan iklim yang semakin ekstrem dalam sepuluh tahun terakhir. Data dari UNICEF (United Nations Children’s Fund) menunjukkan, jumlah bencana dan risiko bencana alam terus meningkat dari tahun ke tahun.

Pada awal 1970-an, jumlah penduduk yang terkena bencana alam mencapai 50.000 hingga 60.000 jiwa setiap sepuluh tahun. Namun dalam sepuluh tahun terakhir, jumlah ini melonjak mencapai 250 juta per tahun. Sebanyak 50-60% korban bencana ini adalah anak-anak.

Menurut UNICEF, jumlah anak-anak yang terkena bencana akan meningkat dari 66,5 juta per tahun pada akhir 1990-an menjadi 175 juta per tahun dalam sepuluh tahun ke depan.

Upaya untuk mengatasi dampak bencana telah dilakukan oleh negara-negara berkembang maupun miskin. Di Algeria, anak-anak dan guru dilatih dengan ilmu P3K (Pertolongan Pertama pada Kecelakaan), evakuasi, dan tindakan yang harus mereka lakukan saat bencana alam terjadi. Bangladesh membangun lokasi perlindungan yang aman dan ramah anak-anak. Sementara di Maladewa, anak-anak sudah belajar mengenai bahaya tsunami.

Namun upaya ini tidak cukup jika penyebab utama bencana alam yaitu pemanasan global dan perubahan iklim terlambat diatasi. Berbagai penelitian menunjukkan pemanasan global memicu cuaca ekstrem. Hijauku.com telah menurunkan banyak laporan mengenai hal ini.

Dan negara berkembang dan miskin selalu menjadi pihak yang paling dirugikan akibat bencana ini. Ketidaksiapan insfrastruktur dan lemahnya upaya mitigasi dan adaptasi bencana menjadi penyebabnya. Hingga saat ini, sebanyak 95% korban jiwa akibat bencana alam, menurut data UNICEF, terjadi di negara berkembang dan miskin.

Risiko bencana alam akibat perubahan iklim bisa dikurangi jika semua negara berupaya menekan emisi dan kenaikan suhu bumi. Setelah Konferensi Perubahan Iklim (COP18) di Doha, Qatar berakhir, negara maju – yang telah menikmati pertumbuhan ekonomi pasca revolusi industri – dituntut untuk memimpin upaya ini.

COP18 telah menggariskan agar negara maju untuk memberikan kompensasi terhadap negara berkembang dan miskin yang menjadi korban bencana perubahan iklim. Jika semua itu terjadi, anak-anak, sebagai pihak yang paling rentan terkena dampak perubahan iklim, kemungkinan akan bisa tersenyum kembali.

Redaksi Hijauku.com