Saat musim hujan, berita dari Bendungan Katulampa, Bogor, selalu menjadi informasi yang ditunggu. Ketinggian air di bendungan ini, selama puluhan tahun, telah menjadi indikator risiko banjir di daerah aliran sungai Ciliwung.

Sungai yang berhulu di Gunung Pangrango, Jawa Barat ini mengalir melalui Puncak, Ciawi, berbelok ke utara melalui Bogor, Depok dan bermuara di Teluk Jakarta. Jika ketinggian air di Bendungan Katulampa memasuki kategori Siaga 1, penduduk di wilayah-wilayah yang rentan banjir hanya memiliki waktu hingga 5-9 jam untuk mengungsi.

Situasi di atas adalah salah satu contoh betapa berharganya informasi dalam kondisi darurat bencana alam yang dipicu oleh cuaca dan perubahan iklim.

Situasi darurat bencana ini terus terjadi setiap tahun. Sekitar 80-90% bencana alam dunia dipicu oleh banjir, kekeringan, puting beliung tropis, gelombang panas dan badai. Kondisi ini mencabut nyawa, merusak infrastruktur sosial dan ekonomi serta menurunkan kualitas ekosistem yang sudah terlanjur rentan.

Fakta tersebut terungkap dalam laporan terbaru hasil kerja sama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) berjudul “Atlas of Health and Climate” yang diterbitkan baru-baru ini.

Sebanyak 332 bencana alam terjadi di 101 negara, tahun lalu. Bencana ini menimbulkan 30.770 korban jiwa dan berdampak pada lebih dari 244 juta penduduk dengan nilai kerusakan mencapai lebih dari US$ 366,1 miliar. Selain data statistik di atas, masih ada jutaan penduduk lain yang harus menanggung luka, penyakit dan trauma akibat bencana alam.

Risiko ini terus meningkat. Dalam 30 tahun terakhir jumlah penduduk yang hidup di basin sungai (river basin) yang rentan banjir naik 114% sementara mereka yang hidup di wilayah pesisir yang rentan puting beliung naik 192%.

Laporan cuaca ekstrem dan bencana juga naik lebih dari tiga kali lipat sejak 1960-an. Para ilmuwan memrediksi kondisi iklim ini akan semakin parah pada masa datang. Krisis iklim dan sumber daya alam termasuk pangan dan air juga akan memicu konflik dan kekerasan.

Dalam Konferensi Pengurangan Risiko Bencana yang berlangsung di Kobe, Jepang pada 2005, sebanyak 168 negara mengadopsi resolusi kerangka aksi yang dikenal dengan nama Hyogo Framework For Action untuk mengatasi masalah ini.

Aksi ini menyatukan berbagai macam sektor dan instansi di bidang kesehatan dan klimatologi guna mengurangi kerugian akibat bencana.

Menciptakan sistem peringatan dini adalah salah satu upaya membantu upaya adaptasi dan mitigasi bencana dan perubahan iklim. Analisis wilayah serta populasi yang rentan bencana juga bisa membantu upaya ini.

Ketersediaan data meteorologi dan hidrologi secara “real time” juga bisa digunakan untuk membantu pengambilan keputusan baik secara lokal maupun nasional. Kuncinya adalah informasi. Informasi dan inspirasi akan selalu menjadi bagian penting aksi mengatasi bencana dan perubahan iklim.

Redaksi Hijauku.com