Setahun yang lalu, tanggal 11 November 2011, masyarakat dan kalangan akademis dikejutkan oleh penemuan bulus raksasa (Chitra chitra javanensis) di aliran Sungai Ciliwung di wilayah Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Kemunculan bulus raksasa ini terhitung sangat jarang dan data mengenai satwa ini juga sangat minim.

Pakar herpetologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Institut Teknologi Bandung, Djoko Tjahjono Iskandar, menyatakan, bulus raksasa Ciliwung (Chitra chitra javanensis) sudah ditemukan sejak seabad lalu.

Penemuan pertama adalah pada tahun 1908. Saat itu, menurut Djoko, ditemukan dua ekor bulus raksasa Ciliwung. Satu ekor bulus kemudian disimpan di Museum Biologi Bogor dan satu lagi disimpan di salah satu museum di Jerman.

Setelah penemuan pada tahun 1908 tersebut, sangat sedikit laporan penemuan bulus raksasa di Ciliwung. Penemuan selanjutnya baru dilaporkan 70 tahun kemudian yaitu pada tahun 1971 dan 1973.

Tahun lalu, setelah 41 tahun, kembali masyarakat dikejutkan dengan penemuan bulus raksasa ini pada hari Jumat, 11 November. Bulus raksasa yang ditemukan di wilayah Tanjung Barat, Jakarta Selatan, ini memiliki ukuran 140 x 90 cm dan berat 140 kilogram.

Penemuan bulus yang oleh masyarakat lokal disebut dengan nama Senggawangan ini membuktikan konservasi Sungai Ciliwung perlu segera dilakukan.

Ada satu pasang Senggawangan (2 ekor jantan dan betina) dengan ukuran panjang 1,5 meter yang ditemukan pada saat itu. Keduanya diperkirakan telah berumur ratusan tahun.

Adalah Haji Zaenudin Bombay yang memutuskan menyelamatkan bulus tersebut dengan cara membeli dari para pencari bulus di Ciliwung. Tindakan Haji Zaenudin ini didorong oleh kearifan lokal yang menceritakan tentang Senggawangan ini. Haji Zaenudin akhirnya memutuskan melepas kembali satwa ini ke Ciliwung lima hari kemudian pada Rabu, 16 November 2011 dini hari.

Tanggal penemuan Senggawangan pada 11 November ini kemudian diperingati sebagai Hari Ciliwung untuk menggagas kembali kesadaran konservasi oleh masyarakat. Dengan menjadikan Senggawangan sebagai maskot Ciliwung, Ciliwung Institute ingin mengangkat kembali kearifan lokal yang menghormati dan menjaga kehidupan sungai.

Prinsip dasar konservasi sungai ternyata bukan satu hal yang baru dan telah dilakukan di Ciliwung oleh orang-orang tua kita pada jaman dulu.

Penemuan kembali bulus raksasa Ciliwung (Chitra chitra javanensis) yang telah berumur ratusan tahun lebih dan masuk dalam daftar merah terancam punah oleh Badan Konservasi Internasional, IUCN, memberi peringatan kepada kita bahwa kita harus segera memulihkan kembali ekosistem sungai Ciliwung.

Di beberapa negara lain, keberhasilannya pemulihan ekosistem sungai ditandai dengan kembalinya spesies-spesies yang dulu pernah hilang, Spesies-spesies ini satu persatu kembali ada dan bertambah.

Dengan semangat konservasi, mari bersama kita peringati Hari Ciliwung 2012 yang akan jatuh pada 11 November tahun ini. Mari kita selamatkan yang tersisa.

Untuk informasi lebih lanjut silahkah hubungi:

Sekretariat Ciliwung Institute – Komunitas Ciliwung Condet, Jl. Munggang No. 6, Condet, Balekambang, Kramat Jati – Jakarta Timur.