Sorong, 17 September 2012 – Menjelang Festival Bahari Raja Ampat, ajang promosi pariwisata Raja Ampat yang akan diselenggarakan pada tanggal 18-21 Oktober 2012, patroli gabungan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) dan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Raja Ampat berhasil menangkap tujuh pelaku pengeboman ikan pada hari Jumat (14/9) di Pulau Batanta, Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat.

Penyergapan terhadap pelaku pemboman ikan ini terjadi dalam jarak waktu enam bulan setelah peristiwa yang sama di Pulau Kofiau Februari silam. Selain ketujuh pelaku, tim patroli juga menyita barang bukti berupa 250 kg ikan berbagai jenis, perahu jenis sampan bermesin ganda 40 pk, kompresor, dan sumbu bahan peledak.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Raja Ampat, Manuel Urbinas, S.Pi, M.Si mengatakan, “Penangkapan ikan menggunakan bahan peledak berdampak sangat besar dan merugikan sektor perikanan dan pariwisata, karena tidak hanya menghancurkan ekosistem dan sumberdaya laut namun juga sumber kehidupan dan ekonomi masyarakat Raja Ampat. Oleh karena itu, kami terus berkoordinasi dengan TNI AL dan pihak terkait lainnya untuk melakukan patroli dan menindak lanjuti informasi dari masyarakat apabila ada kegiatan illegal di perairan Raja Ampat,” tegasnya.

Kepulauan Raja Ampat terletak di bagian ujung barat laut Provinsi Papua Barat, tepat di jantung Segitiga Terumbu Karang—pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Kajian ekologis yang dilakukan The Nature Conservancy (TNC) dan Conservation International (CI) Indonesia menunjukkan bahwa Raja Ampat merupakan rumah bagi 75% jenis terumbu karang di dunia dengan 553 jenis terumbu karang dan 1.437 jenis ikan karang.

Tahun 2006, pemerintah daerah Raja Ampat, bersama masyarakat lokal, TNC dan CI, menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang mendeklarasikan sebuah Jejaring Kawasan Konservasi Perairan (KKP).

Kawasan konservasi secara global telah diakui sebagai sebuah perangkat yang efektif dalam menopang perikanan yang berkelanjutan, melindungi habitat laut penting dan menjamin mata pencaharian untuk masyarakat lokal. Saat ini terdapat tujuh KKP dalam jejaring yang meliputi lebih dari 1 juta hektar wilayah pesisir dan laut.

Komandan Pangkalan TNI AL Sorong, Kolonel Laut (P) Irvansyah menegaskan, “Patroli gabungan ini kita lakukan untuk mengoptimalkan pengawasan perairan Raja Ampat dan mengatasi keterbatasan yang selama ini menghambat untuk menghentikan jaringan pelaku bom ikan. Sumberdaya alam di wilayah perairan Raja Ampat merupakan aset yang menjadi andalan daerah maupun dunia, oleh karena itu kami akan terus meningkatkan kerjasama dengan semua pihak terkait bersama CI dan TNC dalam operasi bersama untuk menyelamatkan kekayaannya,” tandasnya.

Dari Studi Valuasi Ekonomi Sumberdaya Alam di Kepulauan Raja Ampat yang dilakukan oleh CI dan Universitas Negeri Papua (UNIPA) pada tahun 2006 diperoleh angka nilai ekonomi dari pemanfaatan sumberdaya laut di Kepulauan Raja Ampat yang mencapai Rp 126 milyar per tahun. Nilai ini terdiri dari nilai ekonomi perikanan tradisional (Rp 63 milyar/tahun), perikanan tangkap komersial (Rp 20 milyar/tahun), dan budidaya lainnya, serta nilai ekonomi dari sektor pariwisata mencapai angka Rp 14 milyar per tahun.

Raja Ampat memang tidak terbantahkan lagi memiliki sumberdaya alam laut yang luar biasa. Namun praktek penangkapan ikan secara ilegal masih marak dan mengancam segala sumberdaya alam yang ada apabila penegakan hukum bagi pelaku tidak memberikan efek jera. Kasus terakhir pelaku bom ikan di Kofiau yang ditangkap pada bulan Februari lalu dijatuhi hukuman 1 tahun penjara dan denda Rp 5 juta rupiah subsider kurungan 3 bulan kepada empat pelakunya.

Untuk informasi lebih lanjut hubungi:

Syafrie Tuharea, AMd

Kepala Bidang Pengawasan & Perlindungan Laut

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Raja Ampat

Tel: +62 813 4450 6499

Kolonel Laut (P) Irvansyah

Komandan Pangkalan TNI AL Sorong

Tel: +62 853 4331 6666