Polusi dari masa pra-industri, terus berdampak pada kandungan gas rumah kaca yang ada di bumi saat ini. Sehingga untuk mengevaluasi kandungan gas rumah kaca di atmosfer, dunia harus kembali ke tahun 1840.

Hal ini terungkap dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Julia Pongratz dan Ken Caldeira dari Carnegie Institution for Science yang diterbitkkan dalam jurnal Environmental Research Letters.

Pembakaran bahan bakar fosil pada masa industrialisasi telah melepas CO2 dalam jumlah yang sangat besar ke atmosfer. Namun pembabatan hutan dan wilayah alami lain untuk pertanian, menurut para peneliti juga menyumbang emisi CO2 dan hal ini telah terjadi sebelum masa industrialisasi.

Saat lahan liar dibabat untuk pertanian, sebagian dari karbon langsung terlepas ke udara akibat pembakaran. Sedangkan sebagian karbon lainnya, termasuk yang tersimpan dalam kayu dan akar, terlepas saat akar dan kayu tersebut melapuk. Sehingga, setelah berabad-abad, karbon yang berasal dari aktivitas pra-industri masih akan terus mencemari bumi dan atmosfer.

Emisi CO2 pada masa pra-industri dan industri telah memicu perubahan iklim dan pemanasan global. Proses ini terjadi dalam jangka panjang karena kemampuan laut dan tanaman di darat dalam menyerap karbon sangat lamban.

Dengan menilik dari pengalaman di atas, emisi karbon yang kita hasilkan sekarang, menurut para peneliti, akan terus berdampak pada atmosfer bumi selama berabad-abad ke depan.

Di wilayah Amerika Utara, pembabatan lahan sebelum masa industri hanya menyumbang sebagian kecil dari emisi karena sebagian besar polusi di wilayah ini berasal dari pembakaran bahan bakar fosil. Sementara di wilayah yang lain, terutama di China dan India, rasio emisi sebelum masa pra-industri jauh lebih besar.

Dengan menggunakan model ini, Pongratz dan Caldeira menyimpulkan, negara berkembang menghasilkan emisi – yang menyumbang perubahan iklim dan pemanasan global – 2-3% lebih banyak dibanding skenario yang ada selama ini.

Redaksi Hijauku.com