Dunia terlalu meremehkan ancaman kenaikan harga pangan yang diakibatkan oleh perubahan iklim dan pemanasan global. Kesimpulan ini muncul dari laporan terbaru Oxfam America yang berjudul “Extreme Weather, Extreme Prices” yang diterbitkan Rabu (5/9).

Menurut Oxfam, kegagalan dunia memangkas emisi gas rumah kaca akan semakin meningkatkan volatilitas harga pangan yang akan merugikan penduduk miskin dunia.

Kebanyakan riset yang ada sekarang menurut Oxfam hanya menghitung dampak gradual perubahan iklim terhadap harga pangan dengan memerhitungkan faktor kenaikan suhu dan perubahan pola hujan.

Dalam laporannya kali ini, Oxfam memerhitungkan dampak cuaca ekstrem – seperti kekeringan yang saat ini melanda AS – yang bisa menghancurkan ladang pertanian dan memicu kenaikan harga pangan secara dramatis hanya dalam hitungan bulan. Dengan memerhitungkan faktor-faktor di atas, Oxfam menemukan:

• Menurut skenario konservatif – yaitu masa kekeringan ekstrem di AS terjadi hanya sekali pada tahun 2030 – harga jagung dan produk jagung bisa naik 140% di atas rata-rata harga pangan pada 2030, atau dua kali lipat dari harga saat ini.

• Kekeringan dan banjir di wilayah Afrika bagian selatan bisa meningkatkan harga jagung dan harga pangan lain di tangan konsumen hingga 120%. Harga makanan berbahan baku jagung ukuran 25 kg – yang bisa menjadi sumber pangan keluarga miskin di Afrika selama dua minggu – akan naik dari sekitar US$ 18 menjadi US$ 40.

• Kekeringan yang melanda seluruh wilayah India dan banjir besar di Asia Tenggara bisa menaikkan harga pangan hingga 22%.

Semua fenomena iklim ekstrem ini bisa melonjakkan harga pangan hingga lebih dari 43% di negara pengimpor beras seperti Nigeria, negara yang paling banyak penduduknya di Afrika.

Penelitian ini juga memeringatkan bahwa pada tahun 2030, dunia akan semakin berisiko mengalami kekeringan seperti yang saat ini terjadi di Amerika Serikat. Dan saat kekeringan ekstrem semakin sering terjadi di Amerika Utara, ketergantungan dunia akan impor jagung dan gandum dari AS akan semakin meningkat.

Redaksi Hijauku.com