Lembaga standarisasi pangan PBB menyetujui regulasi produk makanan baru guna melindungi kesehatan konsumen.

Codex Alimentarius Commission (CAC), lembaga yang dikelola bersama antara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) awal bulan ini menetapkan batas kandungan maksimal melamin dalam susu formula untuk bayi termasuk menetapkan standar keamanan pangan baru untuk makanan laut (seafood), melon dan buah ara kering (dried figs).

Semua langkah ini diambil untuk memromosikan pangan yang lebih bergizi dan aman bagi konsumen di seluruh dunia. Standar ini dalam banyak kasus juga dipakai sebagai panduan dalam pembuatan kebijakan nasional dan panduan keamanan pangan pada perdagangan pangan internasional.

Menurut WHO, melamin dalam konsentrasi tinggi bisa berdampak mematikan. Bahan ini banyak dipakai secara ilegal untuk meningkatkan penampakan protein dalam produk makanan, termasuk dalam produk susu bubuk dan susu formula.

Susu yang tercemar melamin telah banyak memakan korban, menyebabkan kasus kematian dan penyakit pada bayi.

Dua tahun yang lalu, CAC menetapkan kandungan maksimal melamin pada susu bubuk dan formula sebesar 1 miligram (mg) per kilogram (kg) dan 2,5 mg/kg pada produk makanan lain termasuk pada makanan hewan.

Tahun ini CAC menetapkan standar kandungan maksimal melamin baru pada susu bayi cair yaitu sebesar 0,15 mg/kg.

Menurut WHO, selain digunakan untuk keperluan industri, melamin juga dipakai untuk bahan baku perabotan dapur dan rumah tangga. Dengan diterapkannya batasan baru ini, pemerintah diharapkan mampu melindungi konsumen dari bahaya melamin.

CAC juga menetapkan batas maksimal kandungan racun yang memicu kanker, yaitu aflatoxin, sebesar 10 mikrogram/kg pada buah ara kering dan memberikan panduan bagaimana mengetes kandungannya.

Selain pada produk buah-buahan kering, bahan beracun ini juga ditemukan pada kacang-kacangan, rempah-rempah dan sereal jika produk-produk tersebut tidak diproduksi dan disimpan dengan benar.

CAC juga merekomendasikan agar buah melon yang telah dipotong, dibungkus dan disimpan dalam lemari pendingin secepat mungkin dan dikirim dalam suhu maksimal 40 derajat celcius. WHO juga menganjurkan produsen dan penjual agar membersihkan pisau yang dipakai untuk memotong makanan secara berkala.

Rekomendasi CAC ini dilandasi oleh semakin populernya penjualan melon iris di seluruh dunia. “Buah-buahan yang telah diiris bisa menjadi tempat perkembangan bakteri dan mudah tercemar salmonella dan listeria,” ujar WHO dalam siaran persnya.

CAC juga memberikan panduan kebersihan pada makanan laut (seafood), terutama pada produk kerang-kerangan, untuk mencegah berkembangnya virus pada makanan yang telah memicu banyak gangguan kesehatan.

Menurut WHO, virus lebih berbahaya dibanding bakteri, karena bisa bertahan pada produk makanan yang telah dibekukan dan disterilkan, karena mereka lebih sensitif terhadap panas. CAC juga merekomendasikan semua produsen pangan dunia agar memberikan label yang berisi informasi kandungan nutrisi pada makanan guna membantu konsumen lebih bijak dalam memilih produk.

Redaksi Hijauku.com