Krisis pangan, konflik bersenjata dan bencana alam menyebabkan 62 juta penduduk di seluruh dunia memerlukan bantuan kemanusiaan.

Hal ini terungkap dari siaran pers Perserikatan Bangsa-Bangsa, Kamis (19/7). “Hingga pertengahan tahun ini, terdapat 62 juta penduduk dari 20 negara, yang terkena dampak bencana alam, konflik dan kelaparan, yang sangat memerlukan bantuan,” ujar Valerie Amos, Under-Secretary-General untuk Masalah Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat PBB.

“Selain memberikan bantuan darurat, sejumlah organisasi kemanusiaan juga berupaya meningkatkan daya tahan komunitas jika terjadi bencana alam dan konflik pada masa datang,” tambahnya lagi.

Menurut Amos yang juga memimpin UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA), hingga pertengahan tahun ini, jumlah penduduk yang memerlukan bantuan kemanusiaan naik naik lebih dari 20% – dari 51 juta ke 62 juta.

Sebagian besar penduduk yang memerlukan bantuan ini berada di benua Afrika. Lebih dari 18 juta orang mengalami krisis nutrisi dan pangan terutama di negara-negara di wilayah Sahel, seperti Chad, Mali, Mauritania, Niger, Sudan, Kamerun dan Nigeria.

Konflik bersenjata semakin memburuk di Mali dan Sudah Selatan yang memicu penduduk di wilayah perbatasan Sudan untuk mengungsi.

Krisis pangan, malnutrisi dan gangguan keamanan juga terus terjadi di Yaman. Sebanyak 60% anak-anak balita (di bawah umur lima tahun) di Yaman menderita gizi buruk – posisi kedua setelah Afghanistan yang tahun ini terkena 300 bencana alam yang berdampak pada lebih dari 200.000 penduduk.

Ratusan ribu penduduk Suriah juga memerlukan bantuan kemanusiaan akibat konflik bersenjata dan mengungsi ke negara-negara jiran. Untuk mengatasi krisis kemanusiaan ini, OCHA bekerja sama dengan 560 lembaga kemanusiaan dengan menggunakan sistem Consolidated Appeal Process, guna memastikan efektifitas bantuan.

Selain memberikan bantuan langsung, upaya mengatasi konflik bersenjata dan mitigasi dampak perubahan iklim sangat penting untuk mengatasi krisis lingkungan dan kemanusiaan ini.

Mitigasi dampak perubahan iklim akan meningkatkan ketahanan pangan, mengurangi dampak kelaparan dan kekurangan gizi. Sementara menghentikan konflik bersenjata akan menciptakan situasi yang kondusif bagi pembangunan yang berkelanjutan.

Redaksi Hijauku.com